Perspectives News

Sejauh Mana Konten Media Sosial Membentuk Gaya Hidup Generasi Z?

 


Ilustrasi foto: Cottonbro Studio

 Seberapa besar media sosial memengaruhi cara kita berpikir dan bertindak? Di era digital yang berkembang pesat, media sosial tidak lagi sekadar alat komunikasi, tetapi juga menjadi faktor utama dalam membentuk pola pikir dan gaya hidup generasi muda.

Rajeev (2015) menyatakan bahwa media sosial memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan sehari-hari remaja, terutama dalam cara mereka berinteraksi dan bersosialisasi.

Salah satu platform yang berkontribusi signifikan dalam hal ini adalah TikTok. Sebagai media sosial yang populer di kalangan Gen Z, TikTok memengaruhi perilaku dan pola pikir remaja dengan memberikan ruang bagi mereka untuk mengekspresikan diri tanpa batasan. Namun, dampaknya tidak selalu positif, karena banyak remaja yang terjebak dalam ketidaksesuaian antara citra yang mereka tampilkan di media sosial dan realitas kehidupan mereka.

Shabir, Hameed, Safdar, dan Gilani (2014) mengemukakan, gaya hidup sosial remaja dipengaruhi oleh media sosial, yang dalam beberapa kasus dapat berdampak negatif. Hal ini terlihat dalam kecenderungan remaja untuk mengikuti tren tanpa mempertimbangkan dampaknya. Banyak dari mereka yang kurang selektif dalam memilih konten, bahkan meniru dan mempraktikannya tanpa menyadari konsekuensi yang mungkin timbul.

Jika tren yang diikuti mengarah pada hal-hal negatif, dampaknya bisa sangat buruk bagi perkembangan karakter mereka. Meski demikian, TikTok juga memiliki manfaat, seperti menyediakan berbagai konten edukatif yang dapat meningkatkan wawasan dan keterampilan remaja, sebagaimana dikemukakan oleh Wolf et al. (2015), yang menyatakan bahwa berbagi informasi kini telah menjadi kebutuhan sosial yang memengaruhi cara individu memperoleh pengetahuan.

Selain itu, TikTok telah menjadi ruang di mana standar kecantikan, gaya hidup, dan pencapaian sosial didefinisikan, sehingga membentuk ekspektasi tertentu bagi Gen Z. Tren yang viral di platform ini sering kali menciptakan standar baru yang memengaruhi cara mereka melihat diri sendiri dan dunia di sekitar mereka.

Al-Sharq, Hashim, dan Kutbi (2015) berpendapat bahwa media sosial berperan dalam mengubah norma dan budaya sosial, termasuk dalam membangun persepsi individu terhadap kesuksesan dan pencapaian.

Dari tren kecantikan yang menuntut kesempurnaan fisik hingga standar keberhasilan yang diukur melalui jumlah pengikut, semua ini berkontribusi pada perubahan perspektif sosial yang signifikan di kalangan remaja. Lalu, bagaimana TikTok membentuk persepsi remaja terhadap diri mereka sendiri dan dunia di sekitar mereka?

Standar Kecantikan dan Dampaknya terhadap Persepsi Diri

Salah satu aspek yang paling mencolok dalam konten TikTok adalah standar kecantikan yang sering kali menampilkan citra ideal seperti tubuh langsing, kulit mulus, serta wajah simetris.

Tren ini diperkuat oleh penggunaan filter dan teknik penyuntingan yang menciptakan kesan penampilan sempurna. Eksposur terhadap konten semacam ini dapat mempengaruhi persepsi individu tentang kecantikan dan memicu rasa tidak puas terhadap penampilan diri.

Fenomena ini berdampak pada meningkatnya tekanan sosial untuk memenuhi standar kecantikan yang tidak selalu realistis. Dalam beberapa kasus, remaja perempuan cenderung mengalami kecemasan dan rendah diri karena merasa tidak sesuai dengan standar yang dipromosikan di media sosial. Semakin sering seseorang terpapar konten kecantikan di TikTok, semakin tinggi kemungkinan mereka mengalami gangguan citra tubuh dan kecemasan sosial.

Meskipun demikian, tidak semua dampak dari konten kecantikan di TikTok bersifat negatif. Beberapa kreator justru memanfaatkan platform ini untuk mengampanyekan gerakan body positivity yang menekankan pentingnya menerima dan mencintai tubuh sendiri.

Konten seperti ini menjadi bentuk perlawanan terhadap standar kecantikan yang sempit serta membantu individu meningkatkan kepercayaan diri mereka.

Gaya Hidup Mewah dan Perilaku Konsumtif

Selain standar kecantikan, tren gaya hidup mewah juga menjadi salah satu fenomena yang marak di TikTok. Banyak konten yang menampilkan individu dengan barang-barang bermerek, perjalanan eksklusif, serta gaya hidup yang terkesan glamor dan eksklusif. Tren ini menciptakan persepsi bahwa kesuksesan dan kebahagiaan hanya dapat dicapai melalui kepemilikan materi.

Eksposur terhadap konten gaya hidup mewah di media sosial dapat meningkatkan keinginan konsumtif di kalangan remaja.

Mereka cenderung membandingkan diri dengan orang lain dan merasa perlu untuk mengikuti tren agar diterima dalam lingkungan sosial mereka. Hal ini sejalan dengan teori social comparison, yang menyatakan bahwa individu cenderung menilai diri mereka berdasarkan perbandingan dengan orang lain.

Dampak negatif dari tren ini adalah munculnya tekanan sosial untuk membeli barang-barang yang sebenarnya tidak sesuai dengan kondisi finansial mereka.

Dalam beberapa kasus, individu bahkan rela berhutang atau mengorbankan kebutuhan utama demi tampil sesuai dengan tren yang sedang berkembang. Hal ini dapat menimbulkan masalah finansial jangka panjang serta menurunkan kesejahteraan psikologis mereka.

Pencapaian Sosial dan Standar dalam Memilih Pasangan

Selain standar kecantikan dan gaya hidup, TikTok juga mempengaruhi cara Gen Z memandang pencapaian sosial dan hubungan interpersonal.

Popularitas di TikTok sering kali diukur dari jumlah pengikut, jumlah like, dan interaksi yang diperoleh dalam suatu unggahan. Hal ini menciptakan standar kesuksesan baru, di mana validasi sosial menjadi faktor utama dalam menilai keberhasilan seseorang.

Remaja yang lebih sering menggunakan TikTok cenderung memiliki kecenderungan untuk mencari validasi melalui interaksi digital.

Mereka merasa lebih dihargai ketika unggahan mereka mendapatkan banyak perhatian, sehingga mendorong mereka untuk terus menciptakan konten yang sesuai dengan ekspektasi audiens. Jika tidak mendapatkan respons yang diharapkan, beberapa remaja bisa merasa kurang percaya diri atau bahkan mengalami kecemasan sosial.

Selain itu, standar dalam memilih pasangan juga dipengaruhi oleh tren yang berkembang di TikTok. Banyak konten yang menampilkan pasangan dengan karakteristik tertentu, baik dari segi penampilan maupun status sosial.

Hal ini dapat membentuk ekspektasi yang tidak realistis dalam hubungan, di mana individu lebih mementingkan aspek eksternal dibandingkan dengan nilai-nilai yang lebih mendalam dalam suatu hubungan.

Semakin banyak remaja yang merasa tertekan untuk memiliki pasangan yang sesuai dengan standar yang mereka lihat di media sosial. Ekspektasi yang tidak realistis ini dapat menyebabkan ketidakpuasan dalam hubungan serta meningkatkan angka perbandingan sosial yang tidak sehat.

Mereka cenderung membandingkan hubungan mereka dengan pasangan-pasangan ideal yang ditampilkan di TikTok, yang sering kali hanya menunjukkan sisi positif tanpa memperlihatkan realitas sebenarnya.

Hal ini dapat menimbulkan ketidakamanan dalam hubungan, di mana seseorang merasa pasangannya tidak cukup baik dibandingkan dengan apa yang mereka lihat di media sosial. Jika dibiarkan, pola pikir ini dapat berdampak pada hubungan yang tidak stabil dan memicu tekanan emosional pada remaja.

TikTok sebagai salah satu platform media sosial yang paling banyak digunakan oleh Gen Z memiliki pengaruh yang signifikan terhadap standar gaya hidup mereka.

Standar kecantikan, gaya hidup mewah, pencapaian sosial, dan standar dalam memilih pasangan yang sering muncul di TikTok dapat membentuk cara pandang dan perilaku generasi muda.

Meskipun terdapat dampak negatif seperti meningkatnya tekanan sosial, perilaku konsumtif, serta ekspektasi yang tidak realistis, platform ini juga dapat memberikan manfaat jika digunakan dengan bijak. Dengan literasi digital yang baik, pengguna dapat memilah informasi yang dikonsumsi serta memahami bahwa tidak semua yang ditampilkan di media sosial mencerminkan kenyataan.

Pendidikan mengenai kesehatan mental, kesadaran finansial, dan hubungan sosial yang sehat menjadi faktor penting dalam menghadapi tren media sosial yang terus berkembang. Oleh karena itu, kesadaran kritis dalam menggunakan TikTok menjadi kunci utama dalam menghindari dampak negatif serta memanfaatkan platform ini secara lebih positif. (Ade Oktaviani - mahasiswa SV IPB University, Prodi Komunikasi Digital dan Media).

 

 

 

 


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama