Perspectives News

Pengaruh Media Sosial Terhadap Pembentukan Opini Publik

 

Penggunaan Medsos telah berperan besar dalam penyebarluasan informasi sekaligus mempengaruhi opini masyarakat luas. (Sumber foto: Bastian Riccardi)

Seiring perkembangan zaman, teknologi informasi berkembang sangat pesat. Media baru, terutama media sosial, kini memiliki peran yang sangat besar dalam menyampaikan informasi dan mempengaruhi opini masyarakat luas.

Peran media sosial tidak hanya terbatas pada interaksi antarindividu, melainkan telah menjadi sarana utama penyebaran informasi yang berdampak signifikan terhadap pembentukan opini publik.

Pada era digital, setiap individu memiliki kemudahan dan akses langsung ke berbagai platform untuk berbagi informasi dan pendapat.

Akses yang mudah ini sering kali membuat masyarakat menerima informasi secara mentah tanpa selalu melakukan verifikasi lebih lanjut. Kondisi ini semakin diperparah oleh fakta bahwa banyak orang menganggap media sosial sebagai sumber informasi yang kredibel, padahal kebenarannya tidak selalu terjamin.

Dengan demikian, pengaruh media sosial terhadap opini publik perlu ditelaah dan diverifikasi kembali secara mendalam untuk memahami mekanisme penyebaran informasi serta dampaknya terhadap opini publik.

Dinamika Platform Medsos dalam Pembentukan Opini Publik

Media sosial memainkan peran yang kompleks dalam membentuk opini publik melalui berbagai mekanisme interaksi dan penyebaran informasi.

Platform seperti Facebook, Instagram, dan X memungkinkan setiap pengguna untuk menjadi sumber informasi yang dapat diakses oleh jutaan orang.

Hal ini menciptakan lingkungan di mana opini pribadi dapat dengan cepat berkembang menjadi narasi kolektif yang mempengaruhi pandangan masyarakat secara luas.

Algoritma yang digunakan oleh platform media sosial memiliki pengaruh besar dalam menentukan konten apa yang akan tampil di beranda pengguna.

Algoritma tersebut sering kali memprioritaskan konten yang mendapatkan banyak interaksi, seperti like, komentar, dan share, sehingga berita sensasional atau opini ekstrem lebih mudah menyebar.

Dengan demikian, opini yang muncul di media sosial tidak selalu mewakili keseluruhan pandangan masyarakat, melainkan cenderung menguatkan pandangan mayoritas atau yang sedang viral.

Interaksi antar pengguna melalui fitur komentar, reaksi, dan forum diskusi turut memperkuat pembentukan opini publik. Proses diskusi yang terjadi secara online memungkinkan terjadinya pembentukan echo chamber (efek ruang gema).

"Echo Chamber adalah fenomena yang terjadi dalam budaya penggunaan media sosial maupun internet secara umum.

Echo Chamber ini mengisyaratkan sikap seseorang yang defensif terhadap pendapat dan perspektifnya sendiri. Informasi dapat berasal dari banyak sumber, tetapi ketika kita hanya mau mendengar dari satu perspektif dan opini yang sama dengan kita, dimungkinkan kita sudah berada di dalam sebuah echo chamber. (Sumber: Sigit Luhur Pambudi).

Efek tersebut di mana pengguna hanya terpapar pada pandangan yang sama dengan mereka. Fenomena ini semakin mempersempit perspektif publik dan membuat opini yang berkembang cenderung homogen (kesamaan identitas sosial), meskipun isu yang dihadapi bersifat kompleks dan menyeluruh.

Manipulasi Medsos dalam Membentuk Opini Publik

Meskipun media sosial menyediakan ruang bagi kebebasan berekspresi, tidak jarang informasi di platform tersebut dimanipulasi untuk membentuk opini publik sesuai kepentingan tertentu.

Menurut Diskominfo Kota Bogor, "Sosial media menjadi sumber informasi utama masyarakat saat ini. Informasi yang dapat dengan mudah diakses, membuat pengguna dapat mengkonsumsinya bebas dimana saja dan kapan saja".

Hal tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar pengguna mendapatkan berita dari media sosial, sehingga informasi yang salah atau dimanipulasi memiliki potensi dampak yang besar. Teknik manipulasi tersebut, seperti penggunaan framing, seringkali mengatur sudut pandang penyajian berita sehingga pembaca mendapatkan interpretasi yang diinginkan.

Framing merupakan sebuah teknik yang mempengaruhi pengambilan keputusan maupun penilaian dengan cara memanipulasi penyajian informasi tersebut.

Framing merupakan sebuah cara memanipulasi persepsi pemirsanya melalui penggunaan gambar, kata-kata dan konteks. Sebuah informasi dapat disajikan sedemikian rupa sehingga ia dapat memberikan presepsi positif maupun negatif. (Sumber: Adrianto)

Media sosial memungkinkan penyebaran framing secara cepat dan luas, di mana berita yang disajikan melalui sudut pandang tertentu dapat mengarahkan opini publik ke arah yang lebih sempit. Misalnya, isu politik atau sosial yang dihadirkan secara sensasional cenderung mengalihkan perhatian dari fakta-fakta lain yang lebih mendalam dan berimbang.

Penyebaran informasi palsu atau misinformasi juga merupakan tantangan serius di era digital. Konten yang tidak diverifikasi dan disebarkan dengan cepat dapat menimbulkan kekeliruan dalam memahami suatu peristiwa, sehingga mempengaruhi persepsi masyarakat.

Manipulasi ini sering kali dilakukan oleh tokoh publik atau tokoh besar dengan kepentingan tertentu, baik untuk tujuan politik, komersial, maupun sosial, sehingga memperburuk polarisasi sikap dan mengurangi partisipasi kritis publik dalam mengkaji kebenaran informasi.

Artikel ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang komprehensif mengenai pengaruh media sosial terhadap pembentukan opini publik. Dengan memahami dinamika dan potensi manipulasi yang terjadi di platform digital, diharapkan masyarakat dapat lebih kritis dalam menerima informasi dan menjaga integritas opini publik di era digital. (Syifa Yumna Abiyyu-mahasiswa Sekolah Vokasi IPB University, Prodi Komunikasi Digital dan Media)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama