Kunjungan Dewan Energi Nasional (DEN), Sabtu (6/5/2023) di Kantor PLN UID Bali. (Foto: PLN)
DENPASAR,
PERSPECTIVESNEWS- Seiring semakin menjamurnya jumlah pembangkit listrik
tenaga surya (PLTS) yang dimiliki oleh pelanggan, PLN memastikan pasokan
listrik tidak akan terganggu.
Hal ini disampaikan General Manager PT PLN (Persero) Unit
Induk Distribusi Bali, I Wayan Udayana saat menerima kunjungan Dewan Energi
Nasional (DEN), Sabtu (6/5/2023) di Kantor PLN UID Bali.
“PLTS ini sifatnya intermitten yakni pembangkit listrik yang
dalam proses pemasokan dayanya tidak tersedia secara terus menerus, dikarenakan
faktor sumber daya yang tidak dapat dikontrol, untuk itu PLN harus memperkuat
sistem dan memastikan pasokan listrik kepada pelanggan tetap andal dan tidak
terganggu,” jelasnya.
Dalam paparannya saat ini, bauran pembangkit energi baru
terbarukan (EBT) di Bali saat ini masih sebesar 1,48 persen.
“Potensi EBT di Bali memang kecil, potensi terbesar memang
ada pada tenaga surya namun itu hanya 5 persen. Untuk itu, demi menjaga
ketahanan supply energi listrik di Bali, interkoneksi melalui Jawa Bali
Connection (JBC) 500 kilo volt (kV) sangat diperlukan untuk meredam sifat
intermitten PLTS,” terang Udayana.
Sementara itu, Perwakilan dari DEN, Herman Darnel Ibrahim
menyebutkan, secara umum penyediaan pasokan listrik di Bali sangat aman, dengan
beban puncak 931,1 Mega Watt (MW) kapasitas pembangkit 1.404 MW.
“Bauran energi terbarukan di Bali baru mencapai 1,48 persen
dan 2025 diproyeksikan mencapai 4,6 persen. Pencapaian ini masih jauh di bawah
target nasional yang menargetkan 23 persen pada tahun 2023,” tegasnya.
Hambatan pengembangan energi terbarukan di Bali adalah
terbatasnya sumber energi terbarukan, permasalahan keterbatasan lahan, hal yang
terkait dengan sosial, budaya dan kepercayaan.
“Potensi energi terbarukan di Bali didominasi energi surya
10 ribu MW dan bayu 1.000 MW sedangkan pembangkit hydro dan panas bumi hanya
sedikit. Dengan potensi seperti itu maka peningkatan bauran energi hanya
memanfaatkan energi surya dan angin,” imbuh Herman Darnel.
Ia pun merekomendasikan pengembangan Pembangkit Listrik
Tenaga Sampah (PLTSa) dalam rencana pembangunan pembangkit ke depannya agar
dievaluasi untuk digantikan dengan refuse derived fuel (RDF) yang telah
diresmikan Presiden pada Maret lalu.
Turut hadir pada kesempatan ini, Kepala Bidang Energi dan
Sumber Daya Mineral (ESDM) Dinas Ketenagakerjaan dan Energi Sumber Daya Mineral
(Disnaker dan ESDM) Provinsi Bali, Ida Bagus Ari yang memaparkan kebijakan
energi daerah terkait pemanfaatan EBT di Bali.
Ia menjelaskan, tantangan pengembangan energi di Bali perlu
ada perencanaan dan kebijakan dari pemerintah pusat, sehingga diharapkan dengan
adanya pengembangan energi terbarukan dapat perluasan lapangan kerja di sektor
energi. (dar/*)