Divonis 10 Tahun, Pengedar Narkoba Ini Malah Bilang Ini kepada Hakim

Terdakwa Arief Aditya Putra

DENPASAR, PERSPECTIVESNEWS – Entah benar-benar bingung atau pura-pura, terdakwa Arief Aditya Putra (31), yang divonis 10 tahun oleh majelis hakim karena kasus narkoba ini malah meminta majelis hakim mempertimbangkan putusannya tersebut.

Dalam sidang di Pengadilan Negeri Denpasar yang diikutinya secara daring dari LP Denpasar, Selasa (15/6/2021), majelis hakim diketuai I Gede Putu Saptawan mengatakan terdakwa Arief telah terbukti melanggar Pasal 114 ayat (2) UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Karenanya selain dihukum 10 tahun penjara terdakwa dikenai pidana denda Rp 1 miliar subside 3 bulan penjara.

Hakim Putu Saptawan mengatakan pria kelahiran Jakarta 1989 ini telah terbukti menjual dan menyediakan narkotika Golongan I berbagai jenis yakni tembakau gorilla, ekstasi dan Lysergic Acid Diethylamide (LSD).

“Saudara  terdakwa tadi sudah mendengar yah? Saudara diputus  penjara 10 tahun, sesuai pembuktian dakwaan pertama penuntut umum. Atas putusan ini apakah saudara sudah mengerti?,” tanya hakim.

“Mohon dipertimbangkan lagi Yang Mulia,” kata terdakwa dari balik layar monitor. “Ini sudah diputus, sudah dikurangi 3 tahun dari tuntutan jaksa. Tapi saudara masih punya hak untuk menerima, pikir-pikir, dan upaya banding,” jelas hakim.

Mendengar penjelasan itu terdakwa masih tampak kebingungan. Hakim kemudian menyuruh penasihat hukum terdakwa menjelaskan lagi putusan hakim ke terdakwa. Namun, terdakwa masih tetap bingung. “Untuk mempersingkat waktu, saudara pikir-pikir selama 7 hari yah,” kata Hakim.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Siti Sawiyah pada sidang sebelumnya menurut terdakwa dengan 13 tahun dan denda Rp 1 miliar subsider 6 bulan.

Tuntutan itu sesuai pembuktian dalam dakwaan yang menyebutkan terdakwa ditangkap di sebuah perumahan di Munggu, Mengwi, Badung, Selasa, 19 Januari 2021, pukul 19.30 Wita.

Dari tangan terdakwa diamankan narkotik jenis tembakau gorilla seberat 74,70 gram netto, MDMA atau ekstasi dengan berat 2,16 gram netto, dan Lysergic Acid Diethylamide (LSD) seberat 0,43 gram netto.

Barang terlarang itu didapat terdakwa dengan cara membeli kepada seseorang bernama Ifan (DPO) seharga Rp 7.100.000 pada 31 Desember 2020. Terdakwa nekat membeli barang terlarang itu untuk dikonsumsi pada malam tahun baru dan untuk dijual kembali kepada pemesan. (red)