Wabup Kembang Hartawan: “Ingat, Warga Mesti Siapkan Kartu BPJS Saat Berobat”

Share this post

Jembrana, PERSPECTIVESNEWS-  Wakil Bupati Jembrana I Made Kembang Hartawan mengingatkan masyarakat untuk menyiapkan kartu BPJS saat berobat. Hal ini untuk mempermudah pelayanan.

Hal itu dikemukakan Wabup Kembang, Kamis (5/9/2019) menanggapi layanan di RSU Negara yang dikeluhkan warga masyarakat, beberapa waktu lalu yang sempat viral di media sosial.

Saat mengunjungi kediaman I Made Sueca, warga Tegal Badeng Timur, Kecamatan Negara yang diberitakan sempat mengamuk lantaran kurang puas akan pelayanan RSU Negara, Wabup mengingatkan kembali agar warga menyiapkan kartu BPJS saat berobat.

“Saya datang kesini bukan untuk mengklarifikasi salah atau benar dari kasus itu, tapi ingin mendengar langsung dari Bapak. Apa yang menjadi keluhan serta apa yang harus dilakukan untuk perbaikan layanan yang lebih baik ke depannya,“ ujarnya .

Dilanjuutkan Wabup Kembang, ini juga akan jadi bahan evaluasi sekaligus catatan yang hasilnya akan dikoordinasikan nanti kepada Bupati Jembrana, “ tambah  Kembang Hartawan.

Menurutnya, pemerintah tidak boleh antikritik, harus juga mendengarkan sekecil apapun saran maupun keluhan warganya.

Ia menambahkan saat ini, Pemerintah Daerah terus berkomitmen meningkatkan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat Jembrana.  Selain pembangunan gedung baru RSU yang  memakan anggaran APBD sebesar Rp 179 M lebih, warga Jembrana juga dimanjakan dengan adanya program JKN KIS. Pemerintah daerah menganggarkan sebesar Rp 53 M untuk mengcover masyarakat berobat sebagai peserta BPJS di kelas III.

Hanya saja ia mengakui, sosialisasi yang belum maksimal program ini sehingga belum mampu diserap dengan baik. Di lapangan, ditemuinya masih ada masyarakat yang belum memiliki kartu  karena belum didaftarkan atau terdata.

Sementara  pada kasus yang dialami anaknya Sueca, dijelaskan Kembang sedikit berbeda. Kartu BPJS yang hendak digunakan masih menunggak sehingga pengurusannya memerlukan waktu dan yang bersangkutan tidak masuk sebagai peserta BPJS Kesehatan yang disubsidi pemerintah.

“Kebetulan enam bulan yang lalu saya sempat sosialisasi pembagian kartu JKN KIS dibanjar ini. Sosialisasi ini juga kita lakukan di 260 banjar lainnya, terkait distribusi serta tata cara penggunaan kartu,“ ujar Kembang.

Terkait persoalan berita viral itu, Kembang melihatnya lebih disebabkan penyampaian komunikasi saja, antara keluarga pasien dengan paramedis yang bertugas. Kesalahpahaman serting terjadi saat masyarakat datang berobat tidak menyiapkan kartu BPJSnya terlebih dahulu. 

“Masyarakat datang berobat tidak memiliki kartu, diwajibkan petugas mengurus kartu terlebih dahulu. Ada kerugian waktu, pikiran bahkan tenaga disitu. Padahal inginnya cepat dilayani. Nah, hal-hal itu kerap kali terjadi menyebabkan emosi sehingga timbul keluhan,” kata Kembang.

Karena itu ia berharap masyarakat menyiapkan terlebih dahulu kartu BPJSnya, mengecek apakah masih aktif atau belum terdaftar sama sekali. Karena setiap orang dikatakannya pasti akan pernah sakit dan dirawat. Termasuk bagi mereka yang baru menikah dimintanya untuk segera mendaftarkan.

“Segera bikin akte sebagai syarat mengurus BPJS. Penting dicatat, menghindari permasalahan terjadi, sebaiknya BPJS harus ada sebelum digunakan,“ katanya.

Sementara itu kepada Wabup Kembang Hartawan, I Made Sueca mengakui dirinya pada Senin (2/9) malam lalu sempat emosi dan jengkel terhadap pelayanan yang diberikan petugas di IGD RSU Negara. Saat itu diceritakan Sueca kalau sehari sebelum ke RSU Negara, (Minggu, Red) anaknya pulang dari Denpasar karena keadaan janin dalam kandungan istrinya tidak ada gerakan seperti biasanya. Kemudian anak dan menantunya melakukan kontrol ke salah satu praktek dokter spesialis kandungan di Negara.

“Ke Dokter Rai, kontrol disana, katanya sudah tidak ada denyut nadi. Keputusan dari Dokter Rai itu katanya sudah meninggal. Kemudian diberikan surat rujukan harus ke rumah sakit,” ujarnya.

Sueca juga mengaku kesal dengan pelayanan petugas rumah sakit, seolah-olah dirinya dispelekan sehingga mengakibatkan malam itu dirinya mencak-mencak karena dalam pikirannya, sangat khawatir dengan kondisi kesehatan menantunya yang saat itu janin dalam kandungannya sudah meninggal.

Atas kejadian itu kepada Wabup Kembang, Sueca menyampaikan permohonan maafnya. Terlebih lagi beritanya itu sempat viral dan menyudutkan RSU Negara. “Saya memohon maaf atas kejadian itu bukan maksud menjatuhkan nama baik RSU Negara. Tidak sama sekali. Saat itu saya sedang bingung karena mendapat pelayanan yang saya anggap kurang baik dari petugas.  Tapi yang saya juga sesalkan kenapa bisa viral bahkan ada informasi hoax yang beredar,” cetusnya.

Sueca juga mengakui saat itu sedang emosi karena tidak mendapatkan informasi yang utuh akan kondisi penanganan menantu beserta bayinya yang dinyatakan sudah  meninggal dalam kandungan. Namun saat ini diakuinya  semuanya  sudah terselesaikan dengan baik. Begitupun  menantunya  dalam kondisi baik  usai melahirkan secara normal  dan telah diperbolehkan pulang.    (utu)