Nelayan Melaut Tak Lagi Berpedoman pada Istri yang Sedang Tidur

Share this post

Jembrana, PERSPECTIVESNEWS – Ada ungkapan  menarik dari Prof.Ir.R.Syarief Widjaja,Ph.D,Frina saat Gebyar Inovasi Bahari 2019 dan Launching Aplikasi Laut Nusantara Fase 3, di Kantor Balai Riset dan Operasi laut (Searcorm), di Prancak, Kabupaten Jembrana.

Di masa lampau, kata Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan ini, ketika teknologi informasi belum menyentuh kehidupan masyarakat, nelayan melaut senantiasa berpedoman kepada arah istri yang sedang tidur. Jika istri tidurnya mengarah ke utara, nelayan berangkat menangkap ikan ke arah utara.

Apabila istri tidurnya mengarah ke selatan, maka nelayan berangkat menangkap ikan menuju selatan. Kalau istrinya tidur posisinya mengarah ke atas, nelayan tidak jadi berangkat melaut atau mencari ikan.

Mendengar ungkapan sang profesor, kontan saja tamu undangan tertawa riuh sejenak, dan beberapa detik kemudian suasana kembali hening.

Syarief Widjaja mengatakan, Indonesia memiliki potensi kelautan dan perikanan cukup luas dan komplet. Lebih-lebih Kabupaten Jembrana, yang berada di ujung Barat Pulau Bali, selain memiliki pelabuhan perikanan di Pengambengan dan Sekolah Kelautan, Jembrana juga memiliki Balai Riset dan Observasi Laut (BROL). Gedung ini merupakan Pusat Data Informasi Kelautan Asia Tenggara.

Syarief Widjaja mengatakan, satelit milik BROL dapat menjangkau aktivitas di laut dan pesisir hingga ukuran kecil. Selain juga bisa memantau kapal-kapal asing yang melakukan illegal fishing di perairan indonesia. Sejak beberapa tahun terakhir, lanjut dia, pantauan satelit ini dikembangkan untuk keselamatan masyarakat khususnya menopang sektor kelautan dan perikanan indonesia.

“Awalnya memang untuk internal dan sebagai bukti kita bisa berantas illegal fishing sehingga Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti bisa menenggelamkan ratusan kapal asing yang melakukan illegal fishing,”ungkapnya.

Saat ini BROL diberdayakan untuk kepentingan masyarakat yang salah satunya untuk menentukan dimana titik-titik potensi ikan di laut. BROL di Perancak ini didorong menjadikan informasi itu agar bisa bermanfaat bagi masyarakat, khususnya para nelayan. Aplikasi Laut Nusantara Fase 3 salah satunya.

Aplikasi Laut Nusantara Fase 3 ini dapat diunduh di android. Aplikasi ini memberi informasi yang lengkap para nelayan khususnya nelayan di Kabupaten Jembrana serta nelayan di Tanah Air dalam upaya mencari ikan di laut indonesia.

“Aplikasi ini dapat memandu dan memudahkan nelayan dalam posisi menangkap ikan. Intinya tidak lagi berpedoman pada posisi istri yang lagi tidur,” ucap Syarief Widjaja.

Selain itu, kata dia, satelit ini juga bisa memberikan informasi tentang berapa harga ikan di setiap pelabuhan, cuaca maupun yang lainnya. Diharapkan dengan data yang ada di BROL muncul sartup baru yang mengeksplorasi hasil tangkapan ikan. Dengan demikian nelayan di Indonesia ke depannya tidak hanya di Jembrana namun juga Bali dan Indonesia, dapat dimudahkan dalam menentukan titik-titik penangkapan serta penjualan hasil ikan.”BROL mendorong nelayan memanfaatkan teknologi ini untuk menunjang aktivitasnya,” imbuhnya.(utu)