Indonesia Baru Bisa Penuhi Separuh Permintaan Naker Kapal Pesiar

Share this post

Denpasar, PERSPECTIVESNEWS – Permintaan tenaga kerja kapal pesiar begitu besar, dimana pertumbuhannya setiap tahun tidak kurang dari 1.000 tenaga kerja. Dari jumlah itu, Indonesia baru bisa memenuhi separuhnya karena berbagai kendala.

“Kita baru bisa memasok 500 naker untuk kapal pesiar, ini karena kualitas diutamakan. Selain itu, kecepatan menyelesaikan dokumen menjadi penyebab belum terpenuhinya keperluan tenaga kerja kapal pesiar,” ujar Ketua Kesatuan Pelaut Indonesia (KPI) Cabang Bali, Dewa Putu Susila di sela-sela peringatan Hari Pelaut Sedunia 2019, Selasa (25/6/2019) malam di Denpasar.

Peringatan Hari Pelaut Sedunia 2019 mengambil tema “Saya Pelaut dengan Kesetaraan Gender” dihadiri ratusan pelaut dan keluarganya di Bali. Diangkatnya tema kesetaraan gender karena memang saat ini tidak banyak wanita berminat kerja di kapal pesiar.

Padahal, kata dewa Susila, prospek bekerja di kapal pesiar sangat bagus. “Dari 50 persen naker kapal pesiar yang disuplai itu, 30 persen merupakan naker wanita. Kami ingin ke depan antara jumlah naker laki-laki dan wanita seimbang,” imbuh dia.

Dewa Susila yang juga Bidang Hubungan Luar Negeri KONI Bali mengajak wanita Bali meningkatkan skill dan kemampuannya karena peluang bekerja di kapal pesiar sangat besar. Ia menambahkan, tenaga kerja wanita di kapal pesiar tidak kalah pentingnya dengan tenaga kerja laki-laki. Bahkan di posisi tertentu, hanya bisa diisi wanita.

“Perlakuan tenaga kerja antara pria dan wanita juga sudah disetarakan dalam hal penggajian, perlindungan dan kesejahteraan lainnya. Perlindungan keselamatan tenaga kerja wanita kapal pesiar di Amerika dan di negara-negara Eropa penerapannya sangat ketat, sehingga tidak ada terjadi kasus-kasus seperti pelecehan terhadap mereka,” ujar Dewa Susila.

Sementara Kepala Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Benoa, Agustinus Maun, ST, MT mengakui kendala bahasa menjadi penyebab sedikitnya tenaga kerja pelaut Indonesia diterima bekerja di kapal-kapal pesiar. Padahal, tenaga kerja pelaut memberi kontribusi terhadap devisa negara senilai Rp 16 triliun.

“Kita masih kalah dengan Filipina dalam hal jumlah tenaga kerja yang bekerja di kapal pesiar. Penguasaan bahasa asing terutama bahasa Inggris penyebab semua itu. Di Filipina dengan pengantar bahasa Inggris agaknya menjadi kelebihan tersendiri mengapa Filipina lebih banyak memasok tenaga kerja di kapal pesiar,” ujar Agustinus Maun.

Sebenarnya, ucap dia, minat orang Indonesia jadi pelaut cukup besar. Karena itu, lanjut dia, sosialisasi soal pelaut secara umum harus sudah dilakukan sejak tingkat TK, sehingga dari awal mereka mengerti mengenai pekerja maritim, yang pada gilirannya menumbuhkan minat bekerja di kapal.

“Orang Filipina memiliki karakter yang kuat, mereka tidak rindu kampung halaman dan juga bahasa Inggris sebagai salah satu bahasa pengantar di Filipina menjadi keunggulan tersendiri bagi mereka. Tetapi kalau orang Indonesia diberi kesempatan belajar bahasa asing lebih besar, maka mereka akan mampu bersaing dengan tenaga dari Filipina,” pungkasnya.(zil)