Ny Putri Koster Prakarsai Pelatihan Etika Busana Adat Sesuai Budaya Bali

Ketua PAKIS, Ny Putri Suastini Koster, saat memberikan sosialisasi dan pelatihan di Wantilan Desa Adat Tihingan, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung, Rabu (30/6/2021)

KLUNGKUNG, PERSPECTIVESNEWS – Manggala Utama Pasikian Paiketan Krama Istri (PAKIS) Desa Adat MDA Provinsi Bali, Ny Putri Suastini Koster, memprakarsai pelatihan etika busana adat sesuai dengan pakem budaya Bali.

Hal tersebut diungkapnya saat memberikan sosialisasi dan pelatihan di Wantilan Desa Adat Tihingan, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung, Rabu (30/6/2021).

Menurutnya, kini tata cara serta etika berbusana adat dan tata rias wajah juga rambut sudah mulai bergeser.

Dirinya mengaku akan memberi pelatihan etika busana adat Bali seperti pusung tagel, tengkuluk lelunakan, dan tata rias diri bagi krama istri desa adat se-Bali.

Sambungnya, pelatihan tersebut bertujuan melestarikan salah satu warisan budaya Bali. Kegiatan akan dilaksanakan dengan menggandeng PAKIS kabupaten/kota se-Bali.

Ny Putri Koster mengatakan pelatihan ini juga dimaksudkan untuk menambah wawasan kaum ibu muda tentang bagaimana pakem pakaian adat ke pura maupun menghadiri undangan upacara suka-duka.

“Masing-masing momentum memiliki tatanan cara berpakaian dan jenisnya yang berbeda. Pelatihan ini menekankan pada tata riasan rambut bagi wanita dewasa (yang sudah menikah, red) sebaiknya menggunakan pusung tagel, dan bagi para remaja menggunakan pusung gonjer untuk upacara tertentu,” jelasnya.

Sedangkan, lanjutnya, riasan agung lebih diprioritaskan untuk upacara pernikahan dan potong gigi. Sementara pusung tengkuluk lelunakan saat ini akan digunakan dalam kegiatan menyambut tamu.

“Pusung tagel merupakan sanggul klasik adat Bali yang dipakai oleh wanita yang telah bersuami. Bagian kiri disebut penyawat sanggul yang berbentuk bulatan dinamakan batun pusungan, yang terletak di sebelah kanan penyawat adalah tagelan,” rincinya.

Bendesa Adat Kabupaten Klungkung, Dewa Made Tirta, mengatakan Perda Provinsi Bali Nomor 4 Tahun 2019 tentang Desa Adat di Bali menyebutkan bahwa  keberadaan PAKIS memiliki fungsi memajukan cara berpikir kaum ibu.

“Khususnya istri bendesa adat untuk menyadari akan tugas dan kewajibannya memberi contoh kepada warga agar satia, sadia, serta sayaga dalam memberikan layanan untuk membangun desanya,” imbuhnya.

Ditambahkannya, PAKIS memiliki ciri khas berpakaian hitam yang merupakan simbol warna dari Dewa Ciwa dan saktinya, yang dipadukan dengan selendang berwarna poleng (putih-hitam).

Menurutnya, hal ini menyimbolkan akan sebuah hubungan yang harmonis, antara gelap dan terang, hitam dan putih yang juga merupakan simbol dari pengendalian diri.

Pada kesempatan ini juga disampaikan sosialisasi tentang keberadaan dan fungsi PAKIS, di mana modal dari sebuah organisasi adalah sebuah kesetiaan, kesiapan, dan kesiagaan.   (ari)