Ditetapkan sebagai Kampung Kerapu, Bupati Tamba Dorong Sentra Perikanan di Jembrana

Bupati Tamba usai menandatangani SK pencanangan mendukung Desa Candikusuma menjadi kampung kerapu.

JEMBRANA, PERSPECTIVESNEWS– Bupati Jembrana I Nengah Tamba menargetkan Kabupaten Jembrana sebagai daerah pemasok kerapu. Terlebih dengan ditetapkannya Desa Candikusuma, salah satu dari sembilan kampung kerapu di Indonesia yang dicanangkan Kementrian Kelautan dan Perikanan RI.

Dengan pencanangan ini, sekaligus diharapkan mendorong perekonomian masyarakat, khususnya bergerak di sektor perikanan.

Hal itu disampaikan Bupati I Nengah Tamba usai menandatangani SK pencanangan mendukung Desa Candikusuma menjadi kampung kerapu serta acara penebaran bibit ikan di kawasan pembudidayaan ikan kerapu berkelanjutan di Desa Candikusuma, Kecamatan Melaya, Selasa (25/5/2021).

Bupati mengatakan, salah satu bentuk komitmen mendukung kampung kerapu itu dengan membuat restoran kerapu terbesar sehingga bisa membangkitkan perekonomian di sektor perikanan di Jembrana.  

Bupati berharap, ke depan kampung kerapu mampu menjadi pemasok permintaan pasar kerapu nasional dan internasional.

“Kita akan menjadi satu-satunya kampung kerapu di Indonesia. Manakala pariwisata dan ekonomi kita sudah pulih, kita sudah siap menjadi pemasok ikan kerapu yang tentunya kualitasnya juga harus dijaga,” ujarnya.

Tidak hanya kerapu, juga akan dibudidayakan kerang dan lobster. Tidak hanya di Candikusuma, daerah-daerah lain di Kabupaten Jembrana juga sebagai pusat budidaya kerang dan lobster.

“Tidak hanya kerapu, nanti kita kembangkan lagi menjadi budidaya kerang dan lobster. Tujuannya tentu meningkatkan kesejahteraan masyarakat di samping menggenjot PAD kita,” ungkapnya.

Ditambahkan Bupati asal Desa Kaliakah ini, kampung kerapu salah satu pemecah persoalan pengangguran di tengah situasi pandemi. Jadi, dengan adanya kampung kerapu maka sektor perikanan akan ikut menggeliat. Keberadaan Kampung kerapu tersebut salah satu upaya yang diperjuangkan Pemerintah Kabupaten Jembrana kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan dan akhirnya disetujui.

Karena itu, ke depan akan dibuat restoran kerapu, restoran kerang dan restoran lobster terbesar sehingga saat pariwisata Bali kembali bangkit, akan menjadi destinasi wisata kuliner. Tentunya, harus didukung dengan infrastruktur jalan yang memadai untuk aksesibilitas wisatawan, sehingga memudahkan wisatawan datang ke Jembrana.

Sementara Agus, ketua kelompok keramba jaring apung Manik Segara mengatakan, produksi ikan kerapu dari keramba jaring apung di Laut Selatan Desa Candikusuma, memiliki kualitas ekspor ke sejumlah negara di Asia dan Amerika.

Namun sejak pandemi Covid-19, permintaan ekspor menurun drastis sehingga pembudidaya ikan kerapu mengandalkan pasar lokal dengan harga yang lebih murah untuk bisa bertahan.

Menurutnya, sebelum pandemi Covid-19 melanda dunia, hasil budidaya kelompok jaring apung Desa Candikusuma menjadi salah satu produk ekspor ke Tiongkok, Singapura, Jepang dan Amerika.

“Sejak pandemi ini sedikit permintaan, khususnya dari Tiongkok yang biasanya paling banyak permintaan,” ungkapnya.

Karena permintaan ekspor yang sudah menurun, hasil budidaya hanya untuk mencukupi kebutuhan pasar lokal. Namun harganya, jauh lebih murah dibandingkan dengan hara jual ekspor. Dengan adanya pencanangan kampung kerapu di Desa Candikusuma, pihaknya berharap bisa meningkatkan perekonomian masyarakat, khususnya nelayan. Karena potensi perikanan di Jembrana bisa dikenal hingga tingkat nasional. 

Di Kampung Kerapu Desa Candikusuma, terdapat 100 unit keramba budidaya ikan kerapu menggunakan keramba jaring apung. Dari hasil survei kondisi alam dan lokasi, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya akan menetapkan kawasan budidaya ikan kerapu keramba jaring apung di Desa Candikusuma sebagai kawasan pengembangan budidaya ikan kerapu berkelanjutan atau lebih dikenal dengan kampung kerapu.   (humas)