BI Bali Gelar Sosialisasi Jaga dan Peduli Rupiah sebagai Simbol Kedaulatan Bangsa

Trisno Nugroho saat memberikan sambutan.

NUSA DUA, PERSPECTIVESNEWS– Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali menggelar sosialisasi menjaga dan peduli terhadap penggunaan Rupiah sebagai simbol kedaulatan dan pemersatu bangsa.  

Sosialisasi dihadiri Gubernur dan Wagub Bali serta beberapa undangan penting lainnya, berlangsung di Nusa Dua, Selasa (4/5/2021).

Kepala Perwakilan BI Provinsi Bali Trisno Nugroho dalam kesempatan itu mengungkapkan, pada 27 – 29 April lalu, BI telah menyelenggarakan kegiatan Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia (FEKDI) di wilayah Provinsi Bali dengan mengundang berbagai keynote speaker dan narasumber yang berkompeten untuk meningkatkan pemahaman, dukungan, kolaborasi dan partisipasi seluruh masyarakat di era digitalisasi termasuk meningkatkan awareness (kepedulian) terhadap penggunaan Rupiah di era digital.

“Hal ini dilakukan untuk dapat menjawab permasalahan di masyarakat dalam bertransaksi di era digital sehingga Rupiah tetap dapat berdaulat di Indonesia khususnya di wilayah Bali,” jelasnya.

Dijelaskan Trisno, salah satu tren digitalisasi yang paling berpengaruh adalah di sistem pembayaran. Kemudahan yang ditawarkan menyebabkan preferensi dan akseptansi masyarakat terhadap penggunaan platform dan instrumen pembayaran digital terus meningkat di segala sektor ekonomi.

“Tidak hanya di sektor ekonomi, penerapan digitalisasi juga diterapkan pada sektor sosial keagamaan mulai dari ibadah secara online, ceramah secara online, termasuk pada cara pembayaran donasi/persembahan/infaq sodaqoh yang semula konvensional secara tunai beradaptasi menjadi nontunai berbasis digital,” jelas Trisno Nugroho.

Ditambahkan Trisno, sebagai Bank Sentral, Bank Indonesia sangat mendorong digitalisasi dan penggunaan transaksi digital untuk pemulihan ekonomi, disamping itu Bank Indonesia juga tetap menjalankan amanah untuk menjaga ketersediaan uang Rupiah sebagai simbol kedaulatan negara di seluruh NKRI dalam jumlah yang cukup, pecahan sesuai, dan sejalan dengan strategi nasional kebijakan non tunai.

Menurut Trisno lagi, Rupiah merupakan identitas dan simbol bangsa. Keduanya tidak dapat terpisahkan, namun sayangnya seringkali masyarakat lupa bahwa Rupiah merupakan bagian dari perjalanan sejarah bangsa. Penggunaan mata uang tunggal Rupiah menggambarkan persatuan dan kedaulatan Indonesia.

Sebagai sebuah simbol Negara, Bank Indonesia secara konsisten mengangkat kisah perjuangan Bangsa dan keragaman budaya pada desain uang Rupiah salah satunya daerah Bali.

“Bali patut berbangga karena menjadi daerah terpilih yang menghiasi desain uang Rupiah seperti gambar pahlawan I Gusti Ngurah Rai dan I Gusti Ketut Pudja, keindahan alam Bali yaitu gambar Pura Ulun Danu Danau Beratan, Tari Legong, Batara Kala, Tari Pendet dan terakhir penggunaan gambar Kain Gringsing pada Uang Peringatan Kemerdekaan 75 Republik Indonesia sehingga kebanggaan Bali yang diabadikan dalam Rupiah menjadi kebanggaan seluruh rakyat Indonesia,” tegas Trisno.

Bali memiliki tempat tersendiri pada 3 Rupiah karena Pahlawan, kesenian dan pemandangan alam Bali telah menghias Rupiah yang seharusnya diikuti dengan merawat dan memperlakukan uang dengan baik karena ada pahlawan dan budaya yang harus dihormati.

“Mari merawat dan bijak memperlakukan Rupiah secara baik dalam bertransaksi, berbelanja dan berhemat. Dalam konteks bijak berbelanja, adalah dengan belanja sesuai kebutuhan untuk menjaga dari terjadinya inflasi serta belanja produksi dalam negeri,“ demikian Trisno Nugroho.   (ari)