Pembentukan Holding Ultra Mikro Bahayakan Lembaga Keuangan Masyarakat

JAKARTA, PERSPECTIVESNEWS– Pakar Koperasi dan UMKM, Suroto menilai rencana pembentukan Holding Ultra Mikro berbahaya karena mengarah kepada penyeragaman kelembagaan atau monokulturalistik.

“Pemerintah semestinya memperhatikan dahulu kelembagaan sosial ekonomi yang sudah dikembangkan oleh masyarakat secara organik. Kalau Holding Ultra Mikro dibentuk, ini berbahaya karena konsep pembiayaannya akan mengarah pada penyeragaman kelembagaan di tiga BUMN (BRI, Pegadaian, PNM),” kata Suroto di Jakarta, Minggu (14/3/2021).

Ia mengungkapkan, jika pembentukan holding yang dilakukan oleh BUMN akan mematikan lembaga-lembaga keuangan mikro masyarakat lainnya. Suroto pun menegaskan bahwa entitas bisnis negara tidak boleh mendominasi pasar. Pasalnya, Indonesia tidak menganut sistem komunisme seperti di China, melainkan sistem demokrasi.

“Jadi mau menguasai semua sektor, semua segmen. Ini yang gak bener. Kita tidak menganut sistem komunisme, jadi entitas bisnis negara itu tidak boleh mendominasi seperti di China. Kita bukan negara komunis,” tegas Suroto.

“Ini negara demokrasi, jelas ini melanggar secara suprastruktur, kemudian secara segmentasi jelas ini pemerintah akan menjadikan monokulturalisasi atau penyeragaman lembaga keuangan sepenuhnya,” lanjutnya.

Suroto bahkan menyebut jika rencana pembentukan Holding Ultra Mikro ini merupakan rencana yang ngawur. Sebab dirinya menilai telah terjadi moral hazard dalam rencana penggabungan ketiga perusahaan plat merah tersebut.

“Saya melihat rencana Holding Ultra Mikro ini sudah ada moral hazard. Itu jelas. Pemerintah ini sudah ngawur. Jadi BUMN ini kan entitas milik pemerintah, itu yang gak boleh kalau semuanya itu disikat sama pemerintah, yang mikro, makro, ultra mikro, menengah, besar, kecil. Itu kan namanya penyeragaman kelembagaan. Ini yang berbahaya,” ungkapnya.    (ari)