Untuk Jangka Panjang, Pemakaian Energi Listrik PLTS Atap Jauh lebih Murah

Fabby Tumiwa

DENPASAR, PERSPECTIVESNEWS – Pemakaian energi listrik yang dihasilkan dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), dalam jangka panjang jauh lebih murah dibandingkan sistem pembangkit apapun.

“Pembangkit listrik tenaga gas, biayanya besar, begitu juga tenaga uap, harga batubaranya mahal dan cenderung fluktuatif, tetapi tenaga surya bahan dasarnya tidak beli,” kata Direktur Eksekutif Institute for Essential Service Reform (IESR) Fabby Tumiwa di Denpasar, Jumat (5/3/2021).

 Bali sendiri, kata Fabby, dulu pernah mengembangkan PLTA di Bangli berkapasitas 1 megawatt (MW). Dalam waktu dekat, lanjut dia, akan dibangun PLTA di Bali Barat dan Bali Timur berkapasitas masing-masing 25 MW.

Jika tidak terkendala pandemi Covid-19, menurut Fabby, proyek pembangunan PLTS tersebut semestinya peletakan batu pertamanya pada tahun ini.

“Tetapi harga lahan untuk membangun PLTS di Bali sangat mahal, dan karena Covid program pembangunan energi terbarukan dengan tenaga surya yang semestinya dilakukan tahun ini menjadi tertunda,” katanya.

Febby menambahkan, belum adanya pembangunan PLTS, maka yang memungkinkan untuk pemakaian energi surya dan agar Bali tetap hijau, yakni menggunakan PLTS Atap. Selain investasinya lebih murah, PLTS atap tidak memerlukan lahan luas.

“Cukup dipasang di atas rumah warga maka listrik tenaga surya sudah bisa digunakan. Pemakaian PLTS Atap di Bali sangat mungkin dikembangkan karena terbatasnya lahan sedangkan potensi energi surya di Bali mencapai 26 gigabytes (26 ribu MW),” katanya.

Fabby mengatakan, banyak informasi didapat bahwa orang asing di Bali terutama yang punya vila pribadi sangat tertarik menggunakan PLTS Atap dalam memenuhi kebutuhan tenaga listrik.

Pihaknya juga melakukan survei saat awal pandemi Covid-19 betapa banyak masyarakat Bali yang ingin menggunakan PLTS Atap itu. Tetapi setelah pandemi melanda, potensi masyarakat yang tertarik menggunakan PLTS Atap perlu digarap lagi.

“Di sini perlu pemerintah hadir, artinya masyarakat yang menggunakan PLTS Atap hendaknya disubsidi misalnya dengan memberikan potongan pembayaran pajak bumi dan bangunan (PBB) maupun insentif lainnya. Terlebih Bali sudah ada Pergub Nomor 45 Tahun 2019 tentang Bali Energi Bersih,” katanya.

Ia mengakui pembiayaan awal untuk PLTS Atap cukup tinggi. Namun, itu menjadi investasi jangka panjang yang mampu menekan biaya operasional kebutuhan energi. Fabby mengatakan, usia pakai solar cell mencapai 25-30 tahun dengan investasi maksimal selama 10 tahun.

“Setelah investasi kembali selama 10 tahun, 20 tahun berikutnya, praktis listrik yang dihasilkan gratis. Jadi kalau kita lihat, selama kurun waktu 25 tahun, atau 30 tahun, maka harga listrik PLTS Atap jauh lebih murah dari pembangkit manapun,” pungkasnya. (yus)