Dulu ‘Byar Pet’ Jadi Ikon, Kini PLN Pastikan Listrik Siap Gerakkan Roda Ekonomi Bangsa

Instalasi pembangkit listrik PLN UID Bali.

Di tahun 1960-an bahkan dipastikan jauh sebelum itu, kondisi penerangan di Tanah Air sangat minim. Warga masyarakat khususnya di pedesaan masih menyalakan lampu teplok dengan meninggalkan bekas hitam di dinding. Belajar pun mesti dekat dengan lampu meski terkadang panas dahi ini.

Di tahun 1970-an, kondisi penerangan mulai membaik. Listrik mulai hadir dan masyarakat sudah bisa menikmati meski di beberapa rumah hanya bisa menyalakan televisi dan lampu sekadarnya. Terlalu banyak memakai penerangan, listrik langsung pet…mati. Saat itu, ‘byar pet’ seolah menjadi ikon PLN. Selain langka, listrik terasa sungguh mahal dan menjadi ‘barang mewah’. Bagaimana kondisi kekinian?.

Selama 75 tahun PLN menemani perjalanan Bangsa Indonesia. PLN terus berupaya memperluas akses listrik ke seluruh penjuru Nusantara. Dalam lima tahun terakhir, infrastruktur kelistrikan terus meningkat. Kini, seluruh sistem kelistrikan di Indonesia dalam kondisi cukup, bahkan sebagian besar memiliki cadangan daya lebih dari 30 persen. PLN pastikan listrik siap menjadi penggerak roda ekonomi bangsa.

Direktur Utama PLN, Zulkifli Zaini memaparkan kondisi kelistrikan di Indonesia hingga September 2020. Dijelaskan, ketersediaan daya tak lepas dari pembangunan infrastruktur yang dilakukan. Di sisi pembangkit, kapasitasnya telah mencapai 63,3 Gigawatt (GW), meningkat sekitar 7,8 GW sejak tahun 2015 yang ketika itu baru mencapai 55,52 GW.

Penambahan kapasitas pembangkit tersebar di seluruh Indonesia. Di Sumatera, pada tahun 2015 sebesar 11,4 GW meningkat menjadi 12,6 GW pada September 2020, di Jawa, Madura, Bali, dan Nusa Tenggara meningkat dari 37,8 GW menjadi 41,8 GW, di Kalimantan meningkat dari 2,5 GW menjadi 3,9 GW, di Sulawesi dari 2,96 GW menjadi 3,62 GW, di Maluku dan Papua dari 0,8 GW menjadi 1,3 GW.

Untuk memastikan pasokan listrik dapat tersalurkan dengan baik, PLN juga melakukan pembangunan gardu induk (GI) dan jaringan transmisi.

Untuk GI, pada tahun 2015 terdapat 1.499 buah dengan total kapasitas sebesar 92 ribu Mega Volt Ampere (MVA). Jumlah tersebut meningkat menjadi 2.161 buah pada September 2020 dengan total kapasitas mencapai 146 ribu MVA. Terdapat penambahan 662 buah dengan total kapasitas meningkat sekitar 54 ribu MVA.

Sementara di sisi jaringan transmisi, pada tahun 2015 panjang jaringan transmisi baru mencapai 41 ribu kilometer sirkuit (Kms) meningkat menjadi 60 ribu Kms. Terdapat penambahan panjang jaringan transmisi hampir 19 ribu Kms.

Tersedianya pasokan listrik, tentu sejalan dengan bertambahnya jumlah pelanggan yang dilayani oleh PLN. Pada tahun 2015, jumlah pelanggan PLN sebesar 61 juta, meningkat menjadi 78 juta pada September 2020.

“Dengan tersedianya pasokan listrik yang cukup, kami memastikan bahwa PLN siap memenuhi kebutuhan listrik, tidak hanya untuk rumah tangga, tetapi juga untuk kebutuhan industri maupun bisnis,” ungkap Zulkifli Zaini.

Melalui semangat transformasi, kini PLN juga terus mengedepankan kepuasan pelanggan dengan melakukan inovasi menghadirkan model bisnis dan layanan sesuai kebutuhan pelanggan.

Tersedianya pasokan listrik yang andal, didukung dengan model bisnis dan layanan yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan, membuat akses terhadap listrik kini semakin mudah. Hal itu dibuktikan dengan raihan peringkat Getting Electricity dalam Indeks Kemudahan Berbisnis (Ease of Doing Business /EODB) yang dikeluarkan oleh Bank Dunia. Pada tahun 2015, Indonesia berada pada peringkat ke-78, sementara pada tahun 2020, Indonesia berada pada posisi ke-33.

PLN menyadari listrik merupakan motor penggerak roda ekonomi. Kehadiran listrik akan mendorong produktifitas dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Selama 75 tahun PLN telah hadir, berjuang menerangi Indonesia, memajukan bangsa.   

Rasio Elektrifikasi 100%

Bagaimana dengan Bali?. Provinsi dengan aktivitas pariwisata yang tak pernah ‘tidur’ itu, kini turut menikmati listrik yang dijamin bakal tak ‘byar pet’ lagi. Jaminan ini disampaikan General Manager PLN UID (Unit Induk Distribusi) Bali Adi Priyanto.

Menikmati tayangan televisi.

Dalam konfirmasinya, Minggu (21/2/2021), Adi menjelaskan, Bali bebas ‘byar pet’ sejak 18 Oktober 2018 lalu. “Rasio Elektrifikasi (RE) sudah 100%. Kondisi saat ini seluruh rumah di Bali sudah menikmati listrik. Dan komitmen PLN Bali untuk terus menjaga rasio elektrifikasi 100%,” tegas Adi yang menambahkan prestasi tersebut telah tercatat di Museum Rekor Indonesia (MURI) pada tahun 2019 lalu.

Data 2020 menyebutkan, di Bali terdapat 716 wilayah administrasi setingkat desa yang terdiri dari 636 desa dan 80 kelurahan, 57 wilayah administrasi setingkat kecamatan, dan 9 wilayah administrasi kabupaten atau kota dengan jumlah penduduk 4,32 juta jiwa.

Menurut Adi Priyanto, suplai listrik saat ini ditopang dengan kapasitas daya mampu pembangkit sebesar 1.243,30 MW, sementara beban puncak sebesar 980,89 MW, sehingga sub system Bali memiliki cadangan daya atau reserved margin sebesar 262,41 MW atau 21%. “Untuk pasokan listrik saat ini dalam kondisi aman,” ungkapnya.

Sementara itu Manajer Komunikasi Made Arya menjelaskan, PLN memiliki standar dan parameter tertentu untuk menjaga performa kelistrikan di Bali dalam mendorong produktifitas dan meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

“Kami punya standar dan parameter untuk menyelesaikan setiap gangguan dan keluhan yang muncul. Masing-masing diukur dengan waktu penyelesaian dengan respon time dan recovery time. Untuk gangguan, respon time 45 menit sementara recovery time 3 jam. Untuk keluhan, respon time 24 jam, recovery time 72 jam,” jelas Made Arya.

Dukung Aktivitas UMKM

Arya menyebutkan, dengan jaminan listrik terang terus, pengusaha Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Bali bisa menjalankan bisnisnya dengan aman dan nyaman, meski saat ini performa usahanya menurun karena didera pandemi Covid-19.

“Sesuai arahan pusat, kami di daerah harus menjalankan tugas dan fungsi sebagai pelayan masyarakat di bidang kelistrikan. Di Bali, fungsi listrik sangat vital sebagai daya dorong masyarakat dalam beraktivitas. UMKM sebagai penggerak ekonomi bangsa tentu harus ditopang oleh sarana kelistrikan yang andal dan memadai pula,” sebut Arya.   

Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Provinsi Bali, Wayan Mardiana mengakui jika jumlah pengusaha UMKM saat ini terus bertambah. Ada sekitar 380 ribu lebih UMKM di 2020. Diyakini pertumbuhan itu salah satunya didukung adanya ketersediaan pasokan listrik yang memadai dan andal.

Selama 75 tahun PLN hadir, inilah momen tepat menjadikan Indonesia makin terang. (ari)