Ketua SMSI Bali Didengar Keterangannya di Polda Terkait Dugaan Pencemaran Nama Baik di FB

Emanuel Dewata Oja (FOTO: ist)

DENPASAR, PERSPECTIVESNEWS – Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Provinsi Bali, Emanuel Dewata Oja didengar keterangannya oleh penyidik Subdit V Siber Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Bali pada Kamis (18/2/2021).

Edo, begitu pria asal NTT ini karib disapa, memberikan keterangan terkait dugaan pencemaran nama baik dan tidak menyenangkan oleh akun facebook berinisial CA, yang dilaporkan Waidhisastra.

“Tadi ada 14 pertanyaan dari penyidik, macam-macam pertanyannya tapi semua ada kaitannya dengan laporan ini,” ujar Edo saat ditemui usai dimintai keterangan di Polda Bali. Ia mendorong polisi memroses semaksimal mungkin kasus tersebut.

Menurutnya, hal ini juga sebagai pembelajaran kepada masyarakat agar lebih dewasa dalam bermedsos. Selain itu, lanjut dia, supaya ada efek jera dalam kasus ini, terutama dalam penggunaan media sosial dan orang tidak sesuka hati memposting segala macam.

Diberitakan sebelumnya, Waidhisastra melaporkan pemilik akun facebook berinisial CA. Ini dilakukan lantaran CA memposting foto dirinya yang disandingkan dengan Mak Lampir.

Selain disandingkan dengan gambar tokoh jahat dalam serial film Saur Sepuh tersebut, CA juga menambahkan beberapa kalimat atau caption dalam postingan di akun miliknya.

“Saya melapor karena dia sudah membuat postingan bernada penghinaan dan mencemarkan nama baik saya,” tuturnya saat ditemui usai melapor ke Ditreskrimsus Polda Bali, 10 Oktober 2020 silam.

Pelapor mengaku heran lantaran ia merasa tidak pernah mempunyai persoalan dengan CA yang dikenalnya sekitar delapan bulan yang lalu di sebuah sanggar senam di daerah Dalung, Kuta Utara, Badung.

Ia lalu menerangkan permasalahan ini diduga bermula ketika tengah berada di sanggar senam, Selasa (6/10/2020) lalu, CA tampak keberatan saat pelapor mengambil posisi di sampingnya. CA menunjukkan sikap tidak ramah kepada pelapor, namun hal itu tidak dihiraukannya dan tetap melanjutkan senam.

 Dijelaskan pula, sebelumnya sekitar delapan bulan lalu, CA pernah menghampirinya dan bertanya apakah pelapor ada mempunyai masalah dengan anggota sanggar lainnya.

Saat itu pelapor mengatakan benar ada masalah utang piutang, yakni yang bersangkutan pernah meminjam uang sama pelapor. Di sana CA lantas menimpali jika orang yang dimaksud perilakunya tidak baik dengan orang lain.

“Obrolan tersebut rupanya disampaikan ke orang tadi. Di situ saya jengkel, karena merasa saya diadu domba dan faktanya diputar balikkan. Dari situ kemudian saya blokir pertemanan di facebook dengan dia,” ungkapnya.

Namun pada tanggal 7 Oktober 2020, teman pelapor mengirim capture berisi postingan fotonya disandingkan dengan tokoh jahat Mak Lampir di facebook. Belakangan melalui pesan WhatsApp, CA justru marah-marah dan seolah menantang serta menyuruh korban melapor ke polisi.

“Jadi hari ini saya datang melapor ke polisi. Ini sebagai bentuk pelajaran agar kita saling menghormati privasi satu sama lain,” tuturnya.  (red)