BI Dukung Akselerasi QRIS dengan Prinsip CeMuMuAH

Para pembicara pada Webinar bertema “Inovasi & Digitalisasi: Solusi Kebangkitan Ekonomi”.

DENPASAR, PERSPECTIVESNEWS– Salah satu kebijakan Bank Indonesia mendukung akselerasi sistem pembayaran nontunai berbasis digital QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) dengan menerapkan prinsip CeMuMuAH (cepat, mudah, murah, aman dan handal).

“QRIS bukanlah aplikasi, melainkan kebijakan standarisasi QR Code Pembayaran sehingga satu QR dapat dibaca oleh semua aplikasi. Implementasi QRIS terakselerasi sangat cepat sejalan dengan inovasi model-model bisnis yang bergeser dari offline to online. Selain itu, QRIS juga semakin memudahkan masyarakat baik merchant maupun buyer karena cukup memiliki satu aplikasi dengan cukup satu sumber dana pembayaran,” kata Kepala Perwakilan (KPw) BI Provinsi Bali Trisno Nugroho pada acara webinar yang mengusung tema “Inovasi & Digitalisasi: Solusi Kebangkitan Ekonomi”, Kamis (18/2/2021).

Sebagai cara bayar nirsentuh, ungkapnya, QRIS telah mengalami akselerasi yang sangat cepat sejalan dengan inovasi digitalisasi yang bergeser mengikuti prinsip cleanliness, health, safety, and environmental (CHSE), karena tidak membutuhkan kontak fisik baik langsung maupun tidak langsung (tanpa tatap muka) dalam prosesnya. Dengan QRIS diharapkan dapat semakin meningkatkan efisiensi dan efektivitas dari proses bisnis yang ada sehingga akan berdampak pada percepatan kebangkitan geliat perekonomian Bali.

Per posisi 11 Februari 2021, tegasnya, jumlah merchant yang sudah menerapkan digitalisasi pembayaran berbasis QRIS di Provinsi Bali tercatat 187.043 merchant, atau meningkat 633% bila dibandingkan dengan tahun 2020.

Ekspansi jumlah merchant tersebut mampu meningkatkan penggunaan transaksi digital berbasis QRIS di masyarakat dengan jumlah transaksi lebih dari 269 ribu kali transaksi dengan nominal mencapai Rp 22,72 miliar pada akhir Desember 2020, 70% berasal dari transaksi pada usaha mikro, kecil dan menengah. Adapun saat ini, wilayah Bali menjadi Provinsi ke-8 dengan jumlah merchant terbesar di Indonesia dan hal ini saya yakini akan terus meningkat terutama dalam tatanan hidup era baru saat ini.

“Saat ini jumlah start up digital sudah sangat besar jumlahnya di Indonesia mencapai 2.196 start up dan 5 diantaranya adalah unicorn. Indonesia menurut riset Mckensi disebut sebagai the fastest growing country in digital economy,”  tambah Trisno Nugroho.

Webinar yang digelar Undiknas University ini menampilkan sejumlah narasumber yakni Luh Putu Mahyuni dari FEB Undiknas dan Agustina Semara, seorang praktisi dari DANA. Acara ini dimoderatori Dekan FEB Undiknas IB Raka Suardana.    (ari)