Togar Situmorang Ajukan Gugatan Baru dalam Kasus Wanprestasi Mantan Kliennya

0
100
Togar Situmorang (tengah) dan tim kuasa hukumnya.

DENPASAR, PERSPECTIVESNEWS – Togar Situmorang, SH, MH, MAP, CLA mengajukan gugatan wanprestasi baru terhadap mantan kliennya warga negara Jerman Rolf Steffen Gornitz, ke Pengadilan Negeri Denpasar.

Kepada wartawan, Selasa (15/12/2020), R. Teddy Rahardjo selaku kuasa hukum Togar Situmorang, mengatakan gugatan baru tersebut diajukan karena majelis hakim Pengadilan Negeri Denpasar pimpinan I Made Pasek dalam amar putusannya Senin (14/12/2020) menyatakan gugatan yang diajukan penggugat tidak dapat diterima atau niet ontvankelijke verklaard (NO).

Pun dalam gugatan rekonvensi, hakim juga menolak eksepsi tergugat Rekonvensi dan menyatakan gugatan Penggugat Rekonvensi tidak dapat diterima.Teddy mengatakan sekaligus mengingatkan bahwa majelis hakim dalam putusannya menyatakan gugatan tidak dapat diterima, bukan menolak gugatan yang diajukan kliennya itu.

“Jadi putusannya adalah gugatan tidak dapat diterima, bukan ditolak. Artinya gugatan itu gugur, demikian gugatan rekonvensi dari tergugat yang juga ditolak karena gugatan awal sudah cacat dan akhirnya dinyatakan NO,” tegasnya.

Teddy mengatakan, ada 2 cara yang akan ditempuh penggugat.  Yang pertama adalah dengan mengajukan upaya hukum banding, dan yang kedua mengajukan gugatan baru. “Setelah berunding, kami memilih untuk mengajukan gugatan baru,” tambah Teddy.

Karena memilih mengajukan gugatan baru, maka batas waktu 14 hari yang diberikan majelis hakim dalam menentukan sikap, kata Teddy menjadi tidak berlaku.

Dikatakan, mengapa pihaknya memilih mengajukan gugatan baru, karena dalam putusan hakim belum sama sekali memeriksa dan masuk pada pokok perkara dalam gugatan.

“Karena dalam putusan hakim sama sekali belum menyentuh pokok perkara, makan kami memilih mengajukan gugatan baru yang tentu saja sangat jauh dari kata ne bis in idem (perkara yang sama tidak dapat diadili untuk kedua),” cetus Teddy.

Teddy mengungkapkan, salah satu pertimbangan majelis hakim menyatakan gugatan tidak dapat diterima karena dimasukkannya Polresta Denpasar sebagai pihak yang turut tergugat.

Hal ini menurut hakim menjadi kurang tepat karena membawa Polresta ke ranah privat antara penggugat dan tergugat. Namun menurut Teddy, dimasukkannya Polresta sebagai pihak tergugat agar pengaduan yang diadukan oleh tergugat dihentikan karena masih ada gugatan perdata.

Nah, dengan mengajukan gugatan baru ini, maka seharusnya pengaduan atau laporan yang dibuat oleh tergugat di Polresta Denpasar untuk sementara harus dihentikan. “Ini sebagaimana termuat dalam Perma No 1 Tahun 1956 Pasal 1,” sebut Teddy.

Sementara terkait adanya pemberitaan bahwa terungkap dalam sidang penggugat sudah menerima lawyer fee sebesar Rp 195 juta, langsung dibantah oleh Teddy.

Teddy mengatakan, apa yang dikatakan saksi terkait dana Rp 195 juta semua tidak ada buktinya, tidak pernah menggunakan tanda terima. Padahal menurut dia,  dalam mekanisme di kantor Togar Situmorang setiap pembayaran menggunakan kwitansi tanda terima dan ada stampel kantor.

“Kalau satu dua kali klien saya khilaf boleh, apakah 11 kali ini khilaf, ndak, seharusnya pihak sana sudah 11 kali kok nggak ada tanda terimanya, mestinya dia pindah ke pengacara lain sebagaimana dahulu yang pernah dia lakukan,” pungkasnya. (red)