Korban Mafia Tanah Ajukan Blokir 6 Sertipikat

Pengacara Ketut Gede Pujiama meminta pemblokiran sertipikat tanah. (FOTO: ist)

Denpasar, PERSPECTIVESNEWS – Sepak terjang Wayan Padma yang terindikasi bagian dari mafia tanah  secara perlahan mulai terkuak. Terungkapnya gerakan Padma kususnya  dalam penguasaan tanah milik Ketut Gede Pujiama di Jalan Batas Dukuh Sari gang Merak, Denpasar terlihat dalam laporan ke Polda Bali dan permohonan blokir sertipikat. Dari data yang dikumpulkan, Padma berbekal kwitansi pembelian tanah seluas 500 M2  yang diduga palsu, sukses mensertipikatkan tanah milik Pujiama. Tapi luasnya menjadi 670 M2 melalui program PTSL 2017. 

Selain merugikan Pujiama, perbuatan Padma juga menyusahkan pengontrak di tanah tersebut. Sebab mereka diusir paksa oleh Padma meski masa kontraknya belum berakhir.

Kembali ke pemblokiran, kata Wihartono selaku kuasa hukum Pujiama dasarnya cukup jelas yakni tidak pernah menjual tanah di lokasi tersebut pada Wayan Padma. Surat permohonan blokir disampaikan Kornelis Agung Pringgohadi, anggota tim kuasa hukum Pujiama.

“Kita mohonkan blokir agar tidak dijual ke orang lain.  Ibaratnya bola panas, bila dialihkan maka pihak terakhirlah yang akan mengalami kerugian besar,” terang Wihartono di kantornya, Jumat (226/6/2020).

Sementara itu berdasarkan informasi, tanah seluas 670 M2  itu dijual Padma ke beberapa orang antara lain Muhaji, Dedik Sunardi, Albert Nahor, dan Wayan Wiwin. Di antara pembeli itu ada yang kemudian menjual ke orang lain lagi.

Adapun Padma sendiri masih menguasai tanah seluas 150 M2. Tanah tersebut awalnya seluas 250 M2.  Sejatinya tanah itu milik Joko Sugianto yang dibeli dari Pujiama tahun 2010 lalu. Sedangkan 100 M2 lagi dijual dan bersertipikat atas nama Dedik Sunardi.

Selanjutnya sertipikat tanah seluas 83M2 atas nama Ni Wayan Wiwin kini menjadi atas nama Ronal M.Silitonga. Ni Wayan Wiwin juga mengalihkan lagi ke Nyoman Sri Suwandedi seluas 83 M2. Sementara Wayan Padma juga menjual lagi tanah sertipikat atas namanya seluas 150 M2 ke Robert John Nahor.

Terakhir Wayan Padma mengalihkan haknya seluas 105 M2 ke Muhaji. Khusus yang diklaim Muhaji saat ini masih dikontrak Hendra hingga 2047 mendatang. Muhaji pun sempat mengusir  paksa Hendra dan keluarganya tapi gagal. 

“Kami mohonkan blokir dalam buku tanah agar tidak beralih sampai adanya putusan berkekuatan hukum tetap,” harap Wihartono sembari menambahkan permohonan ini ditembuskan pula ke Kanwil BPN Bali. (red)