KONI Cairkan Dana Pelatda Bali kepada 251 Atlet dan 66 Pelatih

Ketut Suwandi

Denpasar, PERSPECTIVESNEWS Dana Pelatda Bali bagi para atlet PON selama tiga bulan akhirnya cair. Dana tersebut telah ditransfer kepada atlet dan pelatih pada Kamis (11/6/2020) sedangkan untuk penyerahan simbolis dilakukan KONI Bali kepada beberapa atlet dan pelatih pada Jumat (11/6/2020) di ruang rapat KONI Bali.

Ketua Umum KONI Bali Ketut Suwandi mengaku lega bisa mencairkan dana Pelatda kepada ratusan atlet dan pelatih PON Bali tersebut. Suwandi mengatakan, dana telah ditransfer kepada 251 atlet dan 66 pelatih secara keseluruhan dengan nilai total yakni Rp1.141.200.000.

Jumlah total tersebut, kata Suwandi, terinci setiap atlet atau pelatih memperoleh dana masing-masing Rp1,2 juta selama tiga bulan sehingga tercatat setiap orang atau setiap atlet memperoleh dana Rp3,6 juta.

“Kami tidak bisa memberikan secara langsung karena masih kondisi situasi seperti ini sehingga penyerahannya secara simbolis kami lakukan besok (hari ini –red) dengan mengundang wakil atlet dan pelatih saja yang terdiri dari 14 atlet dan 11 pelatih. Jadi kami tegaskan disini dana tersebut kami istilahkan yakni dana tali kasih,” tutur Suwandi ditemui di ruang kerjanya.

Dengan hanya mengundang wakil atlet dan pelatih tersebut dalam penyerahan secara simbolis, kata Suwandi, tujuannya juga untuk sekaligus menyampaikan kepada publik sekaligus ingin memberikan pesan-pesan dan saran secara langsung soal kondisi seperti ini termasuk apa yang akan dikerjakan ke depannya.

“Menyoal kelangsungan Pelatda Bali ini harus ada kesadaran kita semua utamanya atlet dan pelatih. Kalau kita ngomongin yang tidak ada (dana –red) lantasa apa yang mau kita dapat? Kecuali dengan ikhlas dengan ketidakadaan ini dan tetap bekerja keras,” tambah mantan Ketua KONI Badung itu.

Semua itu diartikan jika para atlet telah memperoleh kesempatan dengan lolos PON XX/2021 di Papua maka kembali pada atlet itu sendiri apakah mau dilepas atau menggapai prestasi maksimal.

“Kami tidak bisa memaksa para atlet dan pelatih untuk kerja keras karena kami tidak mungkin bisa memberikan apa yang dibutuhkan dalam sisi pendanaan. Pasalnya, kalau kami memaksa kemudian para atlet nantinya menuntut haknya, nanti bisa saja menjadi masalah. Jadi kembalinya ke kesadaran atlet sendiri dalam kondisi seperti sekarang ini,” tutup Suwandi. (yus)