Bali Pasca Covid-19, Pelaku Dunia Usaha Siap 100 Persen Jalani Usaha

Giat Survei Bicara (Surya) Diseminasi Hasil Survei Bank Indonesia secara virtual di Gedung Perpustakaan BI Provinsi Bali, Selasa (19/5/2020).

Denpasar, PERSPECTIVESNEWS– Dunia usaha masih memandang prospek perekonomian di Bali pasca Covid-19. Bahkan pelaku dunia usaha menyatakan siap 100 persen untuk tetap menjalani usahanya dengan waktu yang diperlukan untuk  persiapan usaha sekitar 6-9 bulan ke depan.

Hal itu ditunjukkan Survei Persepsi Bisnis dan Tenaga Kerja yang dilakukan Bank Indonesia Provinsi Bali pada Minggu ke IV dan V April 2020 terhadap 60 responden.

Hasil survei disampaikan Rizki Wimanda dari Bank Indonesia dalam giat  Survei Bicara (Surya) Diseminasi Hasil Survei Bank Indonesia secara virtual di Gedung Perpustakaan BI Provinsi Bali, Selasa (19/5/2020).

“Sebanyak 94% responden menyatakan, penyebaran Covid-19 berdampak terhadap kinerja usaha saat ini. Kondisi ini menyebabkan terdapat 28% responden yang menghentikan usaha sementara terutama di bidang transportasi, akomodasi dan restoran, perdagangan serta jasa lainnya (travel agent). Sementara itu 66% responden menyatakan bahwa meski usaha masih tetap berjalan namun saat ini mengalami penurunan omzet,” ungkap Rizki Wimanda.

Kondisi ini, lanjut Rizki mengakibatkan perusahaan menerapkan kebijakan untuk mengurangi jumlah pegawai. Saat ini, 53% responden menyatakan perusahaan sudah menerapkan pengurangan jumlah karyawan, mayoritas melalui kebijakan cuti di luar tanggungan. Sementara itu, 8% perusahaan menyatakan sudah mulai menerapkan PHK bagi pegawai.

“Ke depan, dunia usaha berpendapat bahwa situasi ini hanya bersifat sementara. Pelaku usaha berpendapat bahwa permintaan akan kembali membaik dalam 6 – 9 bulan (sampai akhir tahun 2020). Ke depan, dunia usaha masih memandang prospek perekonomian di Bali pasca adanya Covid-19 bahkan 100 persen menyatakan akan kembali  melakukan usahanya,” terang Rizki lagi.

Menurutnya, menurunnya kinerja perkembangan di dunia usaha tersebut juga berdampak kepada kinerja konsumsi masyarakat. Hasil Survei Konsumen bulan April menunjukkan bahwa Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) saat ini sudah mencapai ke level pesimis. Penurunan yang cukup dalam terutama untuk persepsi akan kondisi saat ini baik dalam hal jumlah penghasilan maupun ketersediaan lapangan kerja. 

Penurunan Pendapatan

Sementara itu, hasil survei BI kepada 200 responden pada bulan April 2020 menyatakan, penyebaran Covid-19 mengakibatkan penurunan pendapatan untuk 78% responden. Menurunnya pendapatan disebabkan oleh menurunnya penjualan serta adanya kebijakan pengurangan jam kerja, gaji dan insentif. Penurunan tersebut terutama dialami oleh  pekerja di sektor pertanian, jasa pendidikan, dan jasa administrasi pemerintahan.

BI Provinsi Bali mengadakan survei dan liaison kepada responden di wilayah Bali sebagai salah satu kontribusi Bank Indonesia kepada stakeholder.

BI menyelenggarakan kegiatan SURYA (Survei Bicara) yang merupakan kegiatan disseminasi hasil hasil survei Bank Indonsia. Topik diseminasi kali ini adalah ‘Dampak Covid-19 Akan Membaik Dalam 6 – 9 Bulan ke Depan’.

“Dalam rangka melaksanakan salah satu tugas di bidang survei serta demi meningkatkan kualitas kajian dan analisis perkembangan ekonomi dan dunia usaha terkait dampak Covid-19,” papar Kepala Perwakilan BI Provinsi Bali Trisno Nugroho saat menyampaikan sambutannya sebelum diseminasi berlangsung.

“Perekonomian Bali pada triwulan I – 2020 terkontraksi sebesar -1,14% disebabkan oleh menurunnya rumah tangga melambat dengan tumbuh 2,9% (yoy) dari triwulan sebelumnya yang mampu tumbuh 5,7% (yoy),” jelas Trisno.

Ditambahkan, kontraksi dalam perekonomian Bali tersebut juga terkonfirmasi dari beberapa survei yang dilakukan oleh KPw BI Provinsi Bali seperti Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU), Survei Konsumen (SK) dan Survei Penjualan Eceran (SPE) serta survei insidentil mengenai kondisi dunia usaha maupun pendapatan masyarakat.

Diseminasi menghadirkan narsum Dekan FEB Unud, Agoes Ganesha Rahyuda dan Director-Customer Panel Services Nielsen Indonesia, Mia Tricahyani.   (ari)