Bertani dengan Aplikasi Farmers App, Petani Muda Keren di Bali Ini Nikmati Lonjakan Pendapatan hingga 300 Persen

Aplikasi Farmers App Petani Muda Keren di Bali.

Inilah dahsyatnya industri digital saat ini, sanggup membalikkan apa yang sulit dilakukan menjadi sangat mudah diwujudkan. Di bidang ekonomi, infrastruktur digital telah mendorong tumbuhnya ratusan bahkan ribuan startup/pebisnis pemula yang berhasil. Salah satunya komunitas anak muda yang tergabung dalam Petani Muda Keren (PMK) di Bali.

Komunitas yang beranggotan 600-an anak muda/kaum milenial ini, berhasil mengembangkan produk pertanian buah-buahan dengan memanfaatkan infrastruktur digital dengan membuat aplikasi Farmers App. Kini, pendapatan mereka melonjak hingga 300 persen.

Komunitas PMK ini berawal dari keprihatinan seorang Agung Weda yang melihat minimnya gairah anak muda menekuni bidang pertanian dan melihat hasil pertanian yang tidak maksimal diserap pasar selain permasalahan lainnya seperti cara bertanam, penggunaan pupuk, pemeliharaan hingga hasil akhir yang terkadang membuat petani merugi. “Tingkat kesejahteraan petani juga menjadi alasan kami untuk berperan serta menggarap sektor tersebut dari hulu hingga hilir,” ungkap Agung Weda, Ketua Komunitas PMK kepada perspectivesnews.com, Kamis, 2 April 2020.

Weda mengaku, pertanian adalah salah satu bidang yang menjanjikan peluang ekonomi besar bagi tumbuhnya startup di Bali khususnya. Itu sebabnya S2 IT UGM ini tak ragu mulai membangun usaha pertanian yakni buah-buahan segar.

Komoditas buah manggis produksi Petani Muda Keren siap ekspor.

Disini, Gung Weda mulai banyak mendapat atensi kaum muda. Menjadi motivator di berbagai kegiatan dan bekal skill IT yang memadai, lelaki berperawakan langsing ini makin banyak mendapat simpati.  

Awalnya, Gung Weda membuat aplikasi Farmers App, tujuannya membantu petani dari hulu hingga hilir. Membuat data pertanian seperti kapan mulai tanam, ketersediaan pupuk, jumlah panen hingga berapa serapan pasar dan kemana produk akan dipasarkan. Melalui aplikasi Farmer App, Gung Weda mampu memetakan permasalahan yang dihadapi petani sekaligus memberikan solusinya.

“PMK tak hanya mampu berproduksi buah organik segar dan higienis saja tetapi kami mampu menjaga kualitas, kontinuitas serta kuantitasnya. Aplikasi berbasis infrastruktur digital, sungguh membuka peluang kita untuk meraih sebesar-besarnya manfaat ekonomi,” ujarnya.

Setelah 2 tahun berkiprah, PMK berhasil mengekspor buah manggis senilai Rp 30 milyar. Tak sebatas manggis, komoditas lain yang sudah diekspor antara lain sawo, alpukat, dan mangga. “Untuk mangga kita sudah ekspor ke Singapura. Tahun ini kami sudah memiliki 1500 ton mangga yang siap ekspor dan ada 300 ton yang akan dikirim ke Vietnam. Selain mangga, ada rambutan yang lebih dulu dieskpor ke Timur Tengah. Kami juga sedang mengembangkan alpukat khas, alpukat aligator, ada juga varian mentega. Untuk alpukat sendiri kita sudah kirim ke Kamboja. Di pasar lokal pun, peminatnya juga banyak sekali,” ucapnya. Sungguh, sebuah kerja cerdas.

Pemasaran lewat marketplace BOS Fresh Retail.

Tak hanya sukses di bidang produksi, PMK juga memiliki pola pemasaran tersendiri. Lewat market place Bali Organik Subak (BOS) Fresh Retail, para petani muda ini memasarkan komoditas mereka dengan aman dan tepat jumlah. Artinya, jumlah yang dipasarkan sesuai permintaan pasar itu sendiri. “Jumlah panen harus sesuai dengan jumlah pemintaan pasar. Misalnya, kebutuhan pasar di Bali 10 ton, maka harus didukung jumlah panen yang sama sehingga tidak mubazir yang akhirnya menyebabkan harga anjlok. Kita tidak mau begitu,” terang Gung Weda.  

Tantangan bagi Kaum Muda

Keberhasilan mengukuhkan PMK sebagai startup ‘berkelas’ tak membuat Gung Weda puas. Dia masih menginginkan banyak para pemuda ikut menekuni pertanian sebagai peluang sekaligus masa depan yang sangat menjanjikan. “Petani itu emas bangsa,” katanya mengingatkan.

“Meskipun peluang ekonomi digital sudah kita rasakan namun tantangannya adalah bagaimana mengajak sebanyak-banyaknya kaum muda untuk menjadi petani. Peluang yang harus digarap masih terbuka luas. Tak hanya di bidang pertanian, bidang lain seperti peternakan, perikanan dan turunannya adalah peluang yang tak akan habis. Menjadi petani itu keren, manusia mandiri yang hidup untuk kehidupan. Mari bergabung dengan komunitas PMK di Bali,” ajak Gung Weda, petani berusia 35 tahun ini.

Agung Weda (kiri) bersama Gubernur Bali dan istri pada satu kegiatan.

Untuk permodalan, Gung Weda menekankan itu bukan masalah karena ada modal yang didapat dari ‘nabung petani’ (Crowdfunding). Pihaknya juga membuka kesempatan bagi pemodal ventura untuk berinvestasi di bidang pertanian. ‘Silakan berinvetasi, peluang bidang pertanian masih terbuka luas,” demikian owner BOS Fresh Retail, Agung Weda.  

Dampak Perkembangan Ekonomi Digital

Komunitas PMK di Bali bisa jadi adalah salah satu contoh startup digital seperti yang diharapkan East Ventures (EV) – investorstartuptahap awalpertama di Indonesia yang telah beroperasi sejak 2009 dan telah berinvestasi di 170 startup digital di Asia Tenggara, 130 di antaranya lahir dan beroperasi di Indonesia.

“East Ventures Digital Competitiveness Index (EV-DCI) adalah upaya kami untuk memetakan dampak perkembangan ekonomi digital di seluruh Nusantara. Ekonomi digital menjanjikan inklusivitas, pemerataan peluang ekonomi bagi seluruh penduduk Indonesia. Indeks ini adalah indikator dari keberhasilan industri digital dalam mewujudkan janjinya. Data yang dikumpulkan dalam EV-DCI bukan ditujukan sebagai sebuah kesimpulan tetapi sebagai titik awal yang memulai fase berikut dari transformasi digital Indonesia. Kami ingin mendorong semua pemangku kepentingan untuk ikut terlibat dan turut menikmati dampak positif ekonomi digital,” papar Willson Cuaca, Co-founder & Managing Partner, East Ventures dalam Insight Report EV.     (ari)