Pelaku Industri Fintech Manfaatkan Pembangunan Infrastruktur Digital sebagai Pemodal Alternatif bagi UMKM

Salah satu kegiatan fintech di Bali.

Inilah dampak positif pembangunan infrastruktur digital sekarang ini. Para pelaku industri Fintech (Financial Technology) telah memanfaatkan pembangunan infrastruktur digital untuk menjadi pemodal alternatif bagi pebisnis pemula UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) termasuk di Bali.

Sebagai pemodal alternatif, para pelaku industri Fintech ini mengajak sejumlah UMKM di Bali sebagai mitra pengganti bank konvensional dan sekaligus memperkenalkan technology smart dashboard dalam mendigitalisasi usaha kecil dan menengah.

“Memang benar telah terjadi pertumbuhan Fintech cukup signifikan, demikian pula dengan UMKM yang makin banyak karena kemudahan mengakses pendanaan dari para pelaku industri Fintech tersebut. Ini merupakan dampak dari perkembangan ekonomi digital saat ini, termasuk di Bali,” jelas Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 8 Bali, Nusa Tenggara, Elyanus Pongsoda saat diminta tanggapannya di Denpasar, Selasa, 31 Maret 2020.

Di sisi lain, lanjut Elyanus, para pelaku industri Fintech berharap menjadi jembatan UMKM di Bali untuk meraih sumber modal dengan berbagai fitur dan kemudahan yang ditawarkan. Hal ini juga sejalan dengan tujuan Pemprov Bali untuk menargetkan peningkatan literasi keuangan masyarakat Bali yang tergolong masih rendah, yaitu 19,5 persen dengan inklusi keuangan yang mencapai 71,3 persen dengan dukungan potensi UMKM.

Elyanus Pongsoda

“Untuk itu kami di OJK terus menerus melakukan edukasi kepada masyarakat untuk dapat berinvestasi secara cerdas dan benar melalui kemudahan yang ditawarkan para pelaku industri Fintech yang legal dan sudah terdaftar di OJK. Disinilah masyarakat mendapat manfaat dari pesatnya pembangunan infrastruktur digital saat ini. Ini sekaligus peluang yang tak boleh dibiarkan,” imbau Elyanus.

Ditambahkan, dengan adanya edukasi ini, pihaknya berharap UMKM Bali dapat memahami perbedaan Fintech P2P (peer-to-peer) lending legal dan non legal untuk sumber permodalannya. “Kami sangat berharap adanya kehadiran Fintech P2P lending ini untuk mampu menjadi jembatan kolaborasi UMKM Bali dalam mendapatkan sumber modal usaha yang lebih cepat dan mudah untuk kelancaran bisnisnya,” jelas Elyanus yang menyebutkan, penyaluran pinjaman Fintech P2P lending per Juni 2019 mencapai Rp 44,80 triliun.

Elyanus menegaskan, untuk mendukung program pemerintah memperkuat ekosistem ekonomi digital, para investor di industri keuangan hendaknya membekali SDM nya untuk terampil di bidang IT. “Tantangan terberat di ekosistem digital saat ini adalah menyediakan SDM yang terampil di bidang IT, dan itu suatu keharusan agar dapat menyediakan akses layanan finansial yang lebih mudah dan luas,” katanya.

Indonesia Pasar Terbesar

Willson Cuaca

Adalah East Ventures – salah satu modal ventura berkinerja terbaik di dunia yang memiliki misi menjadi platform wirausaha teknologi (technology startup). EVmenilai Indonesia adalah pasar digital terbesar di Asia Tenggara. Apa indikatornya?

Willson Cuaca selaku Co-founder & Managing Partner East Ventures menguraikan, dalam 4 tahun terakhir, terjadi ledakan pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia. Google, Temasek, dan Bain Company memperkirakan GMV ekonomi berbasis internet Tanah Air telah menembus US$40 miliar pada 2019 dan bakal menyentuh US$133 miliar pada 2025.

“Indonesia adalah pasar digital terbesar di Asia Tenggara, berkontribusi terhadap 40% dari ekonomi internet di regional. Dalam menarik uang investor, Indonesia menempati peringkat kedua setelah Singapura. Industri digital Indonesia telah melahirkan lebih banyak unikorn dibanding negara lain di Asia Tenggara. Perusahaan dari negara lain sulit meraih status unikorn tanpa hadir di Indonesia,” ungkap Willson.

East Ventures kini telah berinvestasi di lebih dari 170 perusahaan startup termasuk sebagai investor pertama di Indonesia yaitu Tokopedia dan Traveloka selain Kudo, Warung Pintar, IDN Media, Sociolla, Waresix, dan Ruangguru.    (ari)