Hasil Tes Fisik Atlet PON Sebagian Besar Belum Memuaskan

Ketut Suwandi (FOTO: dok)

Denpasar, PERSPECTIVESNEWSSebagian besar atau 64 persen atlet yang menjalani tes fisik tahap pertama beberapa waktu lalu di GOR Lila Bhuana Denpasar, hasilnya masih kurang memuaskan, padahal mereka adalah atlet Pelatda Bali.

Ketua Umum KONI Bali I Ketut Suwandi, Kamis (12/3/2020) mengatakan, untuk meraih prestasi di PON XX/2020 Papua mendatang, semua atlet Bali harus memenuhi persyaratan minimal, antara lain fisik yang bugar. Oleh sebab itu, lanjut Suwandi, pihaknya melakukan tes terhadap atlet Bali yang dipersiapkan turun di PON mendatang.

“Hasil tes, 64 persen dari total 200 lebih atlet yang menjalani tes, belum memuaskan. Paling tidak kami sudah miliki gambaran awal terkait kondisi fisik atlet PON Bali,” ucap Ketut Suwandi.

Dijelaskannya, pihak Undiksha Singaraja melalui Fakultas Olahraga dan Kesehatan sebagai penguji tes sudah memberikan hasilnya. Ia menambahkan, sisanya yakni 36 persen sudah ada yang hasilnya bagus, bahkan ada dengan predikat sangat baik. Tapi, ia tak mau menyebut secara rinci cabor-cabor mana saja yang hasilnya bagus dan tidak tersebut.

“Jadi hasil ini diserahkan kepada cabor dan bagi atletnya yang masih kurang, menjadi pekerjaan penting khususnya bagi pelatih untuk menentukan program peningkatan fisik atletnya,” tegas mantan Ketua KONI Badung ini.

KONI Bali tegas mengimbau agar saat PON nanti para patriot olahraga Bali tampil dengan kondisi fisik dan kebugaran yang prima. Dan disebutkannya pula, hasil tes ini bukan untuk menakut-nakuti atlet.

“Pasti terus dipantau. Baik itu yang hasilnya sudah bagus. Bahkan, kalau bisa lebih ditingkatkan lagi, karena KONI Bali mematok standar fisik bukan tingkat lokal Bali lagi, melainkan standar nasional bahkan internasional,” tegasnya.

Kemudian, untuk tes tahap dua, rencananya digelar tiga bulan lagi, begitu juga di tes tahap tiga akan dilakukan tiga bulan setelah tes tahap dua. Karena rencana KONI Bali, di bulan Agustus fisik atlet sudah dalam kondisi puncak.

Lalu, di tahap dua nanti apakah sudah ada pencoretan? “Tetap dipantau, kalau memang hasilnya stagnan bahkan menurun, apalagi ditambah kondisi kesehatannya bermasalah, ya mau tidak mau dicoret,” tandas Suwandi. (zil)