Diskominfos Bali Gelar Forum Diskusi Publik ’Implementasi Informasi Ramah Anak Wujudkan Kota Layak Anak’

Direktur Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kementerian Kominfo Wiryanta (kiri) didampingi Kepala Bidang Informasi Komunikasi Publik Diskominfos, Ida Bagus Agung Ludra.

Denpasar, PERSPECTIVESNEWS – Pemerintah melalui Dinas Kominfos Provinsi Bali bekerjasama dengan Kementerian Kominfo menggelar forum diskusi publik ’Implementasi Informasi Ramah Anak Wujudkan Kota Layak Anak’, di Aula Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Provinsi Bali di Denpasar, Sabtu (7/3/2020).

Forum diskusi ini bertujuan untuk menjamin terpenuhinya hak anak sebagai bagian dari konstitusi yang wajib dipenuhi oleh pemerintah. Salah satunya adalah menciptakan kota layak anak berikut dengan indikatornya.

Direktur Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kementerian Kominfo Drs. Wiryanta, M.A., Ph.D. mengatakan, dua hal yang menjadi hak dasar anak yakni, pendidikan dan kesehatan.

“Contoh kota layak anak salah satunya menyediakan informasi ramah anak yakni informasi yang berdampak positif terhadap pertumbuhan anak. Sampai saat ini masih ada 97 Kabupaten/Kota di Indonesia yang belum memenuhi persyaratan sebagai kota layak anak. Kegiatan yang dilakukan di Bali ini menjadi benchmark (tolok ukur) bagi daerah lain,” ujar Wiryanta didampingi Kepala Bidang Informasi Komunikasi Publik Diskominfos, Ida Bagus Agung Ludra.

Di Bali, seluruh Kabupaten/Kota di Bali telah memenuhi standar sebagai kota ramah anak. “Yang perlu dilakukan adalah meningkatkan standarnya,” lanjut Wiryanta.

Sementara itu, Agung Ludra menambahkan, anak adalah harapan bangsa sebagai generasi penerus, tongkat estafet bangsa. Untuk itu, sesuai konstitusi, pemerintah wajib menjamin anak mulai dari dalam kandungan.

informasi kepada anak harus diberikan secara benar dan dalam bahasa yang mudah dipahami. “Di era digital saat ini, hampir 92 persen informasi berasal dari medsos. Maka dari itu, anak-anak perlu dibekali pemahaman untuk menjadi filter bagi diri mereka sendiri maupun lingkungannya,” paparnya.

Literasi digital dan literasi media, menurut Ludra, juga menjadi hal pokok yang perlu dimiliki anak-anak. Dengan banyak literasi positif yang diterima, anak-anak memiliki filter untuk membedakan informasi yang benar dan bisa dipertanggungjawabkan ataupun konten dusta/bohong.

Forum diskusi yang digelar di gedung pertemuan Disdikpora Provinsi Bali itu, diikuti sebanyak 130 siswa tingkat SMP dan SMA di Bali. Mereka diajak berdiskusi tentang berbagai informasi. Termasuk informasi terkait virus corona covid-19 yang saat ini tengah menjadi isu hangat dan penting.

Membanjirnya informasi terkait virus yang ditemukan di Wuhan, China itu, kata Ludra, anak-anak mesti diberikan pemahaman tentang informasi yang benar dan hoaks.

“Hoaks (virus corona) itu bukan hanya terjadi di Bali atau nasional, tapi sudah mendunia dan berpengaruh ke setiap aspek kehidupan. Itu yang harus diluruskan. Apalagi kegiatan saat ini melibatkan anak-anak. Ini menunjukkan bahwa Bali tidak sangat mengerikan seperti yang selama ini dihembuskan oleh pihak-pihak tertentu. Di Bali tidak ada kegentingan yang dapat dikaitkan dengan isu covid-19 ,” kata Ludra mengingatkan.

Sementara, terkait kegiatan Kementerian dan Lembaga (K/L) yang diadakan di Bali, menunjukkan bahwa Bali tetap aman dikunjungi di tengah isu virus corona covid-2019.

Diskusi mengangkat tiga hal yakni ‘Stop Hoax Covid-19’ yang dibawakan Drs. Wiryanta, MA, Ph.D., ‘Implementasi dan Fasilitasi Informasi Ramah Anak’ oleh Dinas Kominfos Provinsi Bali serta ‘Hak Anak dalam Mewujudkan Kota Layak Anak’ dari Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Bali.

Wiryanta dalam materinya ‘Stop Hoax Covid-19’ menandaskan, penyakit akibat virus Corona ini dapat disembuhkan. Bahkan tingkat keberhasilannya sangat tinggi, mencapai 94 persen sementara kematian akibat wabah ini sangat rendah yakni sekitar 3-4 persen.

“Jadi masyarakat diminta tetap tenang dan tak perlu khawatir. Semua pihak menghindari menyebarkan kabar bohong (hoax). Saat ini justru bukan wabah itu yang jadi masalah tetapi yang bikin warga resah adalah beredarnya kabar bohong itu sendiri,” demikian Wiryanta.     (ari)