Wagub Cok Ace Apresiasi Inovasi dan Pemikiran OJK Membangun Ekonomi Bali

0
82
Wagub Cok Ace menerima cinderamata dari Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Nurhaida.

Nusa Dua, PERSPECTIVESNEWS  Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati (Cok Ace) menyampaikan apresiasi atas inovasi serta pemikiran yang telah dilakukan OJK dalam rangka membangun ekonomi Bali yang salah satunya dengan penyediaan website permodalan yang memberi banyak dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi Bali khususnya bagi pelaku UMKM.

Wagub Bali mengatakan hal itu dalam acara Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan Wilayah Regional 8 Bali dan Nusa Tenggara yang mengangkat tema ’Ekosistem Keuangan Berdaya Saing Untuk Pertumbuhan Berkualitas’ di Nusa Dua, Jumat (7/2/2020).

Wagub juga menyampaikan apresiasi atas dipilihnya Bali sebagai tempat penyelenggaraan pertemuan tahunan OJK di tengah menurunnya kunjungan wisatawan China ke Bali karena virus Corona. Dengan kegiatan ini diharapkan akan mendongkrak pariwisata Bali. 

“Saya apresiasi atas inovasi serta pemikiran yang telah dilakukan OJK dalam rangka membangun ekonomi Bali yang salah satunya dengan penyediaan website permodalan yang memberi banyak dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi Bali khususnya bagi pelaku UMKM. Dengan hadirnya internet gratis di setiap desa di Bali dan ditambah website permodalan dari OJK akan memudahkan bagi para pelaku ekonomi untuk mengakses dan mendapatkan informasi terkait peluang pasar yang didukung dengan permodalan. Ke depannya, sinergitas yang ada terus ditingkatkan dalam upaya meningkatkan perekonomian Bali di masa yang akan datang,” pinta Wagub. 

Wakil Ketua Dewan  Komisioner OJK Nurhaida dalam kesempatan itu menyatakan, tahun 2020, proyeksi perekonomian dan sektor jasa keuangan Indonesia akan diwarnai dengan downside risks dari perlambatan ekonomi global sebagai dampak perang dagang dan gejolak geopolitik di sejumlah kawasan.

Namun demikian dengan selesainya beberapa proyek infrastruktur strategis dan konsistensi pemerintah menjalankan reformasi struktural dan hadirnya terobosan Omnibus Law, maka pihaknya optimis perbaikan pertumbuhan ekonomi dan kinerja sektor keuangan yang positif akan berlanjut di tahun 2020. 

Ke depannya, tambah Nurhaida, master plan sektor jasa keuangan di tahun 2020-2024 akan fokus pada lima area yaitu penguatan ketahanan dan daya saing , akselerasi transformasi digital, percepatan pengembangan ekosistem sektor jasa keuangan, perluasan literasi keuangan dan integritas pasar dan lembaga jasa keuangan serta percepatan dan perluasan penerapan pengawasan berbasis teknologi. 

“OJK mengajak kita semua untuk terus berkolaborasi dan berinovasi untuk mewujudkan sektor jasa keuangan yang bergaya saing dan berperan optimal dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang lebih berkualitas,” sebutnya. 

Sementara itu, Kepala OJK Regional 8 Bali dan Nusa Tenggara Elyanus Pongsoda menyebutkan, kinerja sektor jasa keuangan selama 2019 di Bali dan Nusa Tenggara membaik seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang positif di 3 provinsi yaitu Bali, NTB dan NTT.

Elyanus Pongsoda menjelaskan, selama tahun 2019, industri perbankan mengalami pertumbuhan  yaitu total aset di Bali sebesar Rp147,73 triliun tumbuh 6,32%, NTB sebesar Rp55,13 triliun tumbuh 12,46%, dan NTT sebesar Rp43,19 triliun tumbuh 15,75% lebih tinggi dari pertumbuhan aset perbankan nasional yang tumbuh 6,19%.

Untuk pertumbuhan kredit perbankan per provinsi juga masih lebih tinggi dari pertumbuhan kredit nasional yaitu Provinsi Bali tumbuh 7,76% (Bank Umum 7,81% yoy dan BPR 7,41% ytd), Provinsi NTB 17,23%  (Bank Umum 17,29% yoy dan BPR 15,57% ytd) dan NTT 12,28% (Bank Umum 12,32% yoy dan BPR 9,92% ytd). Adapun porsi kredit yang disalurkan ke segmen UMKM sebesar Rp68,43 triliun (39,79% dari total kredit), dan tumbuh 10,08%.

Dana Pihak Ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun di Provinsi Bali sebesar Rp114,34 triliun dengan pertumbuhan 9,39%-yoy (2018 : 8,77%), NTB sebesar Rp32,63 triliun, tumbuh 7,92% (2018 : 14,58%) dan NTT sebesar Rp30,07 triliun, tumbuh 17,23%-yoy (2018 : 8,3%).

Kinerja Pasar Modal selama tahun 2019, juga menunjukkan perkembangan yang positif. Jumlah Single Investor Identification (SID) produk Saham, Reksadana, dan SBN tahun 2019 di Bali meningkat 70,39% menjadi 60.772 investor, di NTB meningkat 85,90% menjadi 18.345 investor, dan NTT meningkat 59,68% menjadi 10.325 investor. Pertumbuhan investor tersebut lebih tinggi dari nasional yang tumbuh 60,14%. Adapun perkembangan nilai kepemilikan saham di Bali meningkat 15,52%, NTB meningkat 22,77%, dan NTT 23,31% lebih tinggi dari nasional yang sebesar 8,12%.

Kinerja Sektor Industri Keuangan Non Bank (IKNB) yang berkantor pusat di Bali Nusra pada tahun 2019 juga mengalami pertumbuhan positif. Pertumbuhan Aset Dana Pensiun (yoy) untuk Provinsi Bali 10,33%, NTB 8,09%, dan NTT 12,58%. Pertumbuhan Investasi Dana Pensiun Provinsi Bali 12,16%, NTB 9,19%, dan NTT 13,06%. Sementara itu, pada Perusahaan Pembiayaan, pertumbuhan piutang pembiyaaan (yoy) di Bali 4,27% dengan NPF 1,04%, NTB 12,92%-yoy dengan NPF 2,18%, dan NTT 14,74% dengan NPF 1,23%. Di sisi lain, untuk Jamkrida pertumbuhan asetnya di Bali 33,04%, NTB 5,24%, dan NTT 18,29%. Pertumbuhan Outstanding Penjaminannya di Bali 45,64%, NTB 50,09%, dan NTT 36,87%.

OJK Regional 8 Bali dan Nusa Tenggara senantiasa mendukung program pemerintah baik pusat maupun daerah dalam meningkatkan perekonomian melalui program-program yang bersinergi dengan Industri Jasa Keuangan seperti program ketahanan pangan melalui Asuransi Usaha Tani Padi, Asuransi Usaha Ternak Sapi, Asuransi Nelayan serta mendukung program Kredit Usaha Rakyat (KUR) melalui peluncuran website www.kurbali.com oleh TPAKD Provinsi Bali untuk mempermudah UMKM dalam mengakses KUR di Bali.

Dalam rangka meningkatkan indeks inklusi dan literasi di daerah OJK Regional 8 Bali dan Nusa Tenggara serta OJK NTB dan NTT senantiasa melakukan kegiatan edukasi kepada masyarakat serta berperan aktif dalam Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) dan Tim Kerja Satgas Waspada Investasi bersama dengan stakeholders di daerah.   (ari)