BPBD Bali Membangun Kesadaran Kolektif Pengurangan Risiko Bencana dengan Edukasi dan Sosialisasi

BPBD Bali saat Edukasi dan Sosialisasi Penanggulangan Bencana Tahun 2020. (FOTO: Humas)

Denpasar, PERSPECTIVESNEWS – Bali terdiri atas 716 desa/kelurahan, namun 20 persen di antaranya atau 153 desa/kelurahan masuk dalam zona bahaya. Bahkan, 44 desa/kelurahan masuk dalam kategori bahaya tinggi.

“Meski jenis bencana geologi seperti gempa bumi, tsunami relatif jarang terjadi namun bila terjadi akan berdampak masif baik korban manusia maupun materiil,” ujar Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali, Drs I Made Rentin AP, MSi saat Edukasi dan Sosialisasi Penanggulangan Bencana, di Kantor BPBD Bali, kemarin.

Rentin menekankan bahwa gempa bumi dan tsunami meski jarang terjadi, tetapi hingga kini belum ada yang bisa mengetahui pasti kapan akan terjadi. Oleh karena itu, lanjut dia, kesiapsiagaan seluruh komponen masyarakat menjadi penentu seberapa besar risiko dapat dikurangi.

Lebih jauh dia mengatakan, pada era digital sekarang ini, sangat mudah masyarakat mengakses pengetahuan kebencanaan. Bahkan, media massa hampir setiap hari ada saja pemberitaan masalah bencana. Artinya, lanjut dia, pengetahuan kebencanaan sebenarnya sudah cukup baik. Namun  yang sering menjadi kendala adalah pengetahuan kebencanaan itu belum menjadi kesadaran kolektif, baik di level komunitas/masyarakat, dunia usaha bahkan di level aparatur pemerintah sekalipun termasuk di pemerintahan desa.

“Adanya aksi-aksi nyata untuk kesiapsiagaan, biasanya terjadi apabila tumbuhnya kesadaran. Bila hanya sekedar tahu, cenderung tidak berhasil mendorong aksi nyata. Misalnya, semua orang berpengetahuan bahwa membuang sampah bisa menyebabkan banjir, tetapi tetap saja banyak sampah disungai,” ujarnya memberi contoh.

Hal ini terjadi, lanjut Rentin, karena tidak nyambungnya antara pengetahuan dan kesadaran. Sikap yang sama juga terjadi dalam hal kebencanaan. Bahkan pada level tertentu, kesadaran baru muncul bila sudah mengalami bencana, yang berarti semua sudah terlambat.

Berangkat dari fenomena itu maka BPBD Bali terus berupaya membangun kesadaran tentang bencana. Pelibatan masyarakat sejak perencanaan sangat penting, baik pada fase pra-bencana, saat bencana dan pascabencana.

Kesiapsiagaan bencana di negara ini hanya bisa dijawab dengan ketangguhan masyarakat, dan ketangguhan itu terjadi bila ada kesadaran kolektif. Salah satu upaya membangun kesadaran kolektif ini adalah dengan melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat secara berkelanjutan.

Sementara Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Bali I Gede Agung Teja menjelaskan, untuk tahun ini sasaran sosialisasi adalah desa/kelurahan rawan tsunami dengan peserta dari unsur perangkat desa, linmas, babinsa, Babinkamtibmas, pecalang, sekehe teruna, PKK dan tokoh desa lainnya.

Materi sosialisasi fokus pada membangun kesadaran masyarakat akan ancaman dan apa yang harus dilakukan pada level individu, keluarga dan desa dalam rangka mengurangi risiko bencana tersebut. Untuk itu telah ditentukan narasumber yang kompeten yaitu dari BPBD, BMKG dan fasilitator dari Forum PRB Provinsi Bali.

Desa pertama yang disasar adalah Desa Lebih, Kabupaten Gianyar, kemudian berlanjut ke desa/kelurahan lain di seluruh Provinsi Bali. Target akhir, seluruh desa/kelurahan di zona bahaya tsunami harus diberikan sosialisasi. (red)