Buka Bulan Bahasa Bali, Gubernur Koster Ajak Generasi Muda Jangan Bosan Berbahasa Bali

Gubernur Wayan Koster dan Ny Putri Koster saat peringatan Bulan Bahasa Bali. Tampak pula Wagub Cok Ace, Ketua DPRD Bali N Adi Wiryatama dan senator DPD RI asal Bali, Made Mangku Pastika. (FOTO: Humas Pemprov Bali)

Denpasar, PERSPECTIVESNEWS Gubernur Bali Wayan Koster  mengajak segenap krama Bali khususnya generasi muda, agar tidak bosan menggunakan Bahasa Bali dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Ajakan tersebut disampaikan Gubernur Koster saat membuka penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali di Panggung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Centre Denpasar pada Sabtu (1/2/2020).

“Belajar bahasa Inggris itu perlu, bahasa Jepang perlu, bahasa China juga perlu, tapi bahasa Bali lebih penting lagi. Tidak boleh ditinggalkan seiring kemajuan zaman sebagai bagian dari peradaban dan kebudayaan Bali,” ungkap Gubernur Koster.

Gubernur Koster menyatakan Bulan Bahasa Bali adalah satu program prioritas yang dijalankan Pemerintah Provinsi Bali yang bertujuan untuk melestarikan serta memperkuat keberadaan bahasa, aksara dan sastra Bali.

“Gelaran ini juga sekaligus sebagai implementasi program Nangun Sat Kerthi Loka Bali, melalui program Semesta Berencana menuju Bali Era Baru,” ujar pria Kelahiran Sembiran, Kabupaten Buleleng ini.

Bahasa Bali disebutnya merupakan pengikat kebudayaan dan masyarakat Bali, yang menjadi jati diri serta identitas bagi masyarakat Bali. Untuk itu, bahasa Bali juga jadi salah satu satu dasar untuk rencana pembangunan Bali.

Menurut mantan anggota DPR RI tiga periode tersebut, di tengah perkembangan global dewasa ini dengan kemajuan ilmu dan teknologi yang jika tidak disikapi dengan baik, berpotensi mengikis kesadaran masyarakat lokal akan bahasa dan aksara Bali.

Untuk itu, lanjut dia, diperlukan kebijakan dan langkah khusus untuk mempertahankan dan menguatkan eksistensi bahasa, aksara dan sastra Bali di tengah kemajuan zaman saat ini.

Gubernur Wayan Koster (FOTO: Humas Pemprov Bali)

Pemerintah Provinsi Bali, diuraikan Gubernur Koster, telah melakukan berbagai langkah untuk memastikan keberadaan bahasa dan aksara Bali tetap ajeg di masyarakat. Antara lain melalui Peraturan Gubernur (Pergub) Bali Nomor 80 Tahun 2018 tentang Perlindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara dan Sastra Bali.

“Salah satunya dengan mewajibkan papan nama kantor hingga usaha untuk menggunakan aksara Bali, dengan posisi di atas huruf latinnya. Termasuk pula di dalamnya penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali setiap memasuki bulan Februari,” jelasnya.

Ia mengharapkan Bulan Bahasa Bali ini bisa dijalankan dan diresapi segenap warga masyarakat terutama para siswa sekolah, anak-anak hingga remaja. “Mari lestarikan bahasa, aksara dan sastra Bali untuk mengembalikan posisi Bali sebagai Padma Bhuana, sebagai pusat peradaban dunia,” pungkasnya.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, I Wayan ‘Kun’ Adnyana menjelaskan, gelaran yang dilaksanakan untuk kedua kalinya ini, antara lain diawali oleh Festival Nyurat Lontar dengan aksara Bali massal yang diikuti 2.020 peserta. Artinya, ini sebuah gerakan menyemesta yang melibatkan berlapis komponen masyarakat, mulai dari penyuluh, pendidik, peserta didik, hingga masyarakat umum.

Ditambahkan akademisi ISI Denpasar ini, penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali Tahun 2020 mengambil tema ‘Melarapan Bulan Bahasa Bali Nyujur Atma Kertih’. Tema ini mengandung visi untuk memuliakan dan menyucikan jiwa atau atma.

Adapun kegiatan Bulan Bahasa Bali selama sebulan penuh dari tanggal 1 hingga 27 Februari 2020. Meliputi 14 pagelaran seni budaya, 5 sarasehan yang melibatkan penekun susastra dan penyuluh bahasa Bali, 15 pameran berbasis industri kreatif, pengembangan dan pemajuan bahasa, aksara, dan sastra Bali.

Nampak pula dalam acara tersebut, Ketua DPRD Bali Nyoman Adi Wiryatama, Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati bersama Ny Cok Putri Haryani Ardhana Sukawati dan Sekda Provinsi Bali Dewa Made Indra. (ari)