Trisno Nugroho Akui Kinerja Ekonomi Bali di 2019 Hadapi Tantangan Cukup Besar, Pariwisata Jadi Tumpuan Harapan di 2020

0
87
Trisno Nugroho

Denpasar, PERSPECTIVESNEWS –  Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho mengakui jika kinerja ekonomi Bali di tahun 2019, menghadapi tantangan cukup besar. Ini disebabkan selain akibat dari melambatnya kinerja ekonomi global (melambatnya kondisi domestik) juga kondisi fenomena alam penuh tantangan.

Kondisi ini berdampak pada tertahannya kinerja ekonomi Bali pada tahun 2019 yang diprakirakan hanya tumbuh sebesar 5,40%-5,80% (yoy), lebih rendah dibanding tahun 2018 yang tumbuh 6,35% (yoy).

“Namun demikian pada tahun 2020, kinerja ekonomi Bali diprakirakan akan membaik. Sebagaimana diketahui, kinerja ekonomi Bali tidak terlepas dari perkembangan kinerja pariwisata,” ungkapnya dalam diskusi terait promosi pariwisata di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Rabu (15/1/2020).

Tahun 2019, dikatakan Trisno, kinerja pariwisata sedikit tertahan, tercermin melambatnya perkembangan kunjungan wisman. Jumlah wisman ke Bali sampai dengan akhir tahun diperkirakan mencapai 6,3 juta wisman. Artinya terjadi peningkatan sekitar 200 ribu wisman dibanding tahun 2018 yang mencapai 6,1 juta wisman.

“Kondisi ini sungguh membanggakan karena pada tahun 2019 di saat terjadinya banyak tantangan perekonomian baik dalam maupun luar negeri, Bali masih mampu menarik banyak wisatawan mancanegara. Kinerja ini hendaknya kita jadikan pedoman untuk melakukan evaluasi terhadap diri kita sendiri,” jelas Trisno.

Dikatakan, hal-hal baik pariwisata Bali sebaiknya terus ditingkatkan. Sebaliknya, hal-hal yang negatif harus diminimalisir atau bahkan dihilangkan.

Bali memiliki keunggulan di bidang pariwisata karena memiliki keunikan di bidang seni dan budaya sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan manca negara.

Keunggulan seni dan budaya yang dimiliki Bali harus tetap dipertahankan dan dilestarikan sehingga bisa selalu menarik minat wisatawan.

“Namun, nilai-nilai seni dan budaya ini harus tetap dijaga dan dipelihara atau bahkan dikembangkan jangan sampai menurun kualitasnya,” kata Trisno mengingatkan.

Pemeliharaan nilai seni dan budaya ditujukan bukan sekedar untuk meningkatkan daya tarik terhadap wisatawan mancanegara tetapi lebih dari itu, yaitu untuk menjaga kelestarian seni budaya itu sendiri. Dengan seni dan budaya yang lestari, Bali akan tetap menjadi Bali.

Pihaknya mengapriesiasi Pemerintah Provinsi Bali yang telah melakukan berbagai upaya untuk menjaga kelestarian seni dan budaya Bali. “Kami juga menyambut baik pemberlakuan Pergub. No 4 tahun 2019 mengenai Desa Adat di Bali.”

Selain itu, mendukung penyusunan dua buah rancangan peraturan terkait budaya yaitu Rapergub tentang Penyelenggaraan Tata kelola Pariwisata di Bali dan Raperda tentang Standar Penyelenggaraan Kepariwisataan.

“Pertemuan ini membicarakan mengenai sustainable tourism sangat relevan dengan upaya pemerintah menjaga kelesatarian seni dan budaya di Bali,” ujar Trisno.

Strategi Tepat

Foo bersama dengan para praktisi pariwisata.

Sebagaimana disampaikan Gubernur Bali beberapa waktu yang lalu, pada tahun 2020, Bali menargetkan dapat menyerap 7 juta wisatawan mancanegara.

Kata dia, target ini bukanlah angka yang mustahil, namun upaya untuk mencapai target ini memerlukan kerja keras dan strategi yang tepat.

Upaya mencari peluang tambahan wisatawan mancanegara dilakukan dengan berbagai cara antara lain dengan menerapkan strategi special interest toursm, health tourism, sport tourism, retirement tourism dan lain sebagainya,” terangnya.

Di era digitalisasi ini, peranan media dalam mempromosikan suatu daerah semakin besar.

Persaingan promosi antar destinasi wisata di negara lain semakin sengit. Persaingan itu mempergunakan berbagai cara, bahkan tidak jarang pula menggunakan cara cara yang tidak terpuji seperti kampanye negatif, fitnah dan lain-lain.

“Sebagai contoh, terjadinya gangguan kecil yang ada di Bali sering dibesa- besarkan oleh media asing dengan tujuan persaingan usaha. Terjadinya bencana di daerah lain sering diberitakan sebagai bencana besar di Bali.

Guna mengatasi itu, Bali memerlukan cyber army atau tim khusus untuk melakukan promosi yang baik serta melawan kampanye negatif yang dilancarkan oleh negara lain melalui cara cara yang elegan.

“Salah satu topik pembicara pada hari ini yaitu mengenai Bali Media Team, saya pastikan akan memberi lebih banyak wawasan bagi kita mengenai bagaimana cara cara terbaik untuk mempomosikan Bali kepada dunia internasional,” paparnya.

Pengalaman Bali menjadi tuan rumah dalam acara IMF WB Annual Meeting tahun 2018 tidak hanya menunjukkan bahwa penyelenggaraan MICE memberikan manfaat yang besar dalam hal peningkatan kinerja perekonomian dan penyerapan devisa.

Penyelenggaraan MICE tahun 2018 menunjukkan Bali mampu menjadi tuan rumah yang baik bagi penyelenggaraan MICE kelas dunia. Sejalan dengan itu, pembicara terakhir pada hari ini yaitu sosialisasi

BaliCEB sangat relevan untuk menambah wawasan bagi kita mengenai pentingnya pembentukan lembaga penyelenggaraan MICE yang profesional di Bali, yaitu BaliDEB.

“Upaya mencapai 7 juta wisman di tahun 2020 bukanlah suatu yang mudah, tapi memerlukan kerja keras dan kolaborasi diantara kita. Kita harus membentuk tim yang bagus untuk mencapai target tersebut,” demikian Trisno.       (ari)