Dari Bali untuk Indonesia, BNPB Gaungkan Pariwisata Aman Bencana

0
158
Kepala BNPB Doni Monardo berpose bersama usai melakukan pertemuan dengan para stakeholder di BPBD Bali, Senin (13/1/2020)

Denpasar, PERSPECTIVESNEWS Posisi Indonesia termasuk di dalamnya Bali, memberikan keindahan alam dan budaya. Namun di sisi lain menyimpan potensi bencana yang mengancam kehidupan.

Potensi ini menggerakkan sektor pariwisata yang terus meningkat dari tahun ke tahun, terbukti dengan berkontribusi 6 persen terhadap GDP dan membuka 13 juta lapangan kerja baru dengan total 10,3 persen dari total tenaga kerja nasional.

Posisi Bali sebagai destinasi pariwisata dunia diharapkan memberikan inspirasi bagi pembangunan prioritas pariwisata di wilayah Indonesia lainnya seperti Labuan Bajo, Likupang, Mandalika, Borobudur serta Danau Toba.

“Bali sebagai destinasi pariwisata dunia dan sebagai sumber devisa negara diharapkan siap bahkan ditingkatkan dari ketersediaan anggaran, perlengkapan, peralatan dalam kesiapsiagaan bencana antara pemerintah pusat dan daerah saling bersinergi untuk mewujudkan pariwisata aman bencana,” ujar Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Doni Monardo, Senin (13/1/2020) di Denpasar.

Dalam pertemuannya dengan stakeholder antara lain Kalaksa BPBD (Provinsi, Kabupaten/Kota) Kodam, Polda, Korem, BMKG, Basarnas, Instansi Vertikal dan Daerah, Relawan serta Wapena,  bertempat di UPTD Pengendalian Bencana Daerah BPBD Provinsi Bali (Pusdalops), Doni menjabarkan konsep pariwisata aman bencana terbagi dalam lima elemen kunci meliputi pemahaman risisko bencana, fasilitas aman bencana, tata kelola risisko bencana, manajemen kedaruratan serta businness continuity planning.

Kesemuanya ini, lanjut dia, membutuhkan penguatan dari berbagai hal sehingga dapat diwujudkan wisata aman. Ditambah pula peran antar sektor seperti TNI dan Polri untuk tetap menjaga alam Bali dan keamanan, sehingga keseimbangan alam dan keamanan wisatawan tetap terjaga.

Kalaksa BPBD Provinsi Bali, Made Rentin menyampaikan, berbagai upaya telah dilakukan untuk mengelola potensi ancaman bencana di Bali. Potensi megatrust di kawasan utara dan selatan Pulau Bali, diperkuat dengan pembangunan sembilan sirine evakuasi tsunami dan 10 rencana sirine evakuasi tsunami.

Pelaksanaan sertifikasi kesiapsiagaan bencana di dunia usaha sejak 2014 telah dilaksanakan 64 dunia usaha baik hotel, restoran, mal, spa, theater, golf hingga rumah sakit. Ditargetkan tahun 2022 semua dunia usaha dapat bersama sama menguatkan kesiapsiagaan dunia usaha untuk memberikan rasa aman dan nyaman kepada wisatawan.  

Dengan sinergi antara multi pihak dalam pentahelix dengan semangat gotong royong, kata Rentin, maka destinasi wisata yang aman akan lebih mudah terwujud. Destinasi yang memiliki struktur bangunan yang aman, sarana dan prasarana evakuasi yang memadai, manajemen risiko yang ada, sosialisasi dan edukasi kebencanaan pengunjung dan warga setempat, simulasi dan gladi yang rutin dilaksanakan serta perencanaan mengantisipasi kejadian bencana sebagai komponen di dalam destinasi wisata aman yang ditopang dengan BPBD yang tangguh.

“Dengan falsafah  Tri Hita Karanak yang tumbuh di Bali selaras dengan frase yang dikembangkan BNPB, ‘kita jaga alam, alam jaga kita’ maka diharapkan pariwisata yang aman bencana berkelanjutan dan berkualitas  dapat terwujud di Bali dan destinasi wisata baru lainnya,” pungkas Rentin.(rup)