Ratusan Ribu Peserta BPJS Dinonaktifkan, Pemegang KIS di Buleleng Terancam Tak Bisa Berobat

0
189
Ratusan ribu pemegang Kartu Indonesia Sehat di Buleleng dinonaktifkan oleh Pemkab Buleleng. (FOTO: ist)

Singaraja, PERSPECTIVESNEWS Pemerintah Kabupaten Buleleng melalui Dinas Sosial telah menonaktifkan ratusan ribu peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan khusus pada iuran kelas III yang menjadi tanggungan pemerintah untuk kepesertaan Kartu Indonesia Sehat Penerima Bantuan Iuran (KIS-PBI).

Hal itu merupakan imbas atas kenaikan iuran BPJS yang mencapai 44 persen per 1 Januari 2020. Dalam catatan Dinas Sosial Buleleng, sebanyak 134.691 jiwa pemegang KIS tak lagi bisa digunakan.

Penonaktifan KIS sebanyak 134.691 jiwa dari total 317.244 jiwa pemegang KIS ini lantaran anggaran Pemkab Buleleng tahun 2020 tak mampu  mengaver sebanyak 317.244 jiwa setelah  iuran PBI naik sebesar Rp 42 ribu dari sebelumnya Rp 23 ribu. Dengan demikian, warga miskin yang terakomodasi hanya sebanyak  182.553 jiwa.

Kepala Dinsos Buleleng, Gede Sandhiyasa membenarkan terjadinya penonaktifan BPJS Kesehatan ratusan ribu warga Buleleng itu. Menurutnya, pembiayaan KIS-PBI pada tahun 2019 lalu dilakukan melalui sharing dengan Pemprov Bali dan Pemkab Buleleng total Rp 87 miliar.

Namun dengan adanya kenaikan iuran di tahun ini, lanjut Gede, menyebabkan anggaran naik menjadi  Rp 92 miliar. Hanya saja, kata dia, anggaran sebesar itu belum mampu mengaver keseluruhan peserta KIS-PBI.

Tidak semua pemegang KIS-PBI yang dinonaktifkan warga yang masih tercatat aktif. Namun ada di antaranya tercatat telah meninggal dunia, pindah domisili, tidak memiliki e-KTP dan tidak terdaftar dalam Basis Data Terpadu (BDT), sehingga akumulasi angka tersisa sebanyak 182.533 jiwa.

“Yang sudah tereleminasi kartu KIS-nya sudah tidak bisa digunakan lagi untuk berobat. Kami sudah menerima keluhan itu. Namun kita sedang  mencari solusi, di antaranya bersurat beserta data by name by adress data yang dinonaktifkan KIS PBI-nya ke masing-masing camat agar diteruskan ke perbekel dan lurah dan sampai ke masyarakat,” ungkap Gede Sandhiyasa.(red)