Revitalisasi Jalan Gajah Mada, Walikota Rai Mantra Ajak Bangun Kolaborasi

0
103
Walikota Denpasar, IB Rai Dharmawijaya Mantra saat menjadi Keynote Speaker pada gathering Old Town Gajah Mada, Senin (30/12/2019) di Gedung Alaya Dharmanegara, Lumintang Denpasar.(FOTO: Humas dan Protokol Pemkot Denpasar)

Denpasar, PERSPECTIVESNEWS Kawasan Jalan Gajah Mada Denpasar menjadi salah satu ikon pusat perekonomian Ibu Kota Provinsi Bali ini. Kawasan penuh interaksi sosial, ekonomi, budaya dari keturunan pedagang China, Arab dan Jawa berinteraksi dengan masyarakat Bali yang kini mendapatkan sentuhan revitalisasi dari Pemerintah Kota Denpasar.

Gagasan Walikota Rai Mantra dan Wakil Walikota I GN Jaya Negara merevitalisasi kawasan bisnis tertua di Bali ini terus dipertajam bersama dalam kegiatan gathering Old Town Gajah Mada, Senin (30/12/2019) di Gedung Alaya Dharmanegara, Lumintang Denpasar.

Pertemuan dibuka Walikota Rai Mantra sekaligus sebagai Keynote Speaker melibatkan para pembicara dari akademisi, seniman, arsitektur, praktisi pariwisata dan Bkraf Denpasar. Seperti Prof. I Nyoman Darma Putra, I Ketut Siandana, Ida Bagus Ngurah Wijaya, I Putu Yuliartha, Marmar Herayukti, dengan moderator Marlowe Bandem.

 Rai Mantra mengajak melakukan kolaborasi lewat pembentukan ekosistem sehingga mampu merevitalisasi kawasan Gajah Mada. Pembentukan ekosistem dapat dilakukan dalam posisi dan kompetensi masing-masing.

“Pembentukan ekosistem ini yang sangat  saya harapkan. Ada pemerintah, DPRD, lembaga adat, komunitas pedagang, komunitas seniman, serta komunitas dari funding sehingga terbangun publik value dan private value,” ujar Rai Mantra

Ekosistem harus berjalan dengan baik serta bersama pemerintah nantinya mampu menumbuhkan tingkat perekonomian. Diharapkan dapat dilakukan transformasi, serta co-branding secara luas seperti komponen pariwisata mampu melihat perkembangan market dalam menyusun strategi, terlebih saat ini telah memasuki revolusi industri 4.0 dan akan ada perubahan bisnis model ke depan. Tidak saja mengikuti mekanisme digitalisasi teknologi, tapi juga mampu memberikan sentuhan rasa yang tinggi.

“Kita harus lakukan strategi interaksi yang ada karena Jalan Gajah Mada bukan hal baru, namun mampu merevitalisasi untuk menghidupkan kembali. Mari kita bangun nilai dari kawasan ini terlebih dahulu sehingga nantinya mampu memiliki nilai sustainable,” katanya.

Dengan begitu, lanjut Walikota Mantra, dibutuhkan story talling melalui sejarawan dari kalangan akademisi. Karena dari cerita yang ada keberadaan nasi jinggo Denpasar lahir di Gajah Mada, serta terdapat salah satu toko kopi yang sangat legendaris di kawasan ini.

pihaknya berharap dalam gathering ini terjadi tindaklanjut dan kesepakatan, serta mampu melakukan perubahan secara fisik seperti public space perencanaan jangan sampai ada perlambatan.

Sementara kelompok ahli Denpasar, Putu Rumawan Salain mengatakan gathering ini memiliki tujuan sesuai dengan keynote speaker yang disampaikan Walikota Rai Mantra bahwa kawasan Gajah Mada merupakan warisan pusaka. Sehingga dibutuhkan story talling dengan keterlibatan akademisi dan sejarawan yang mampu menceritakan keberadaan kawasan ini. (ari)