Wasit “Bermain”, Perseden Kalah Adu Penalti

0
96
Wayan Sukadana (FOTO:laman perseden)

Denpasar, PERSPECTIVESNEWS – Perseden Denpasar benar-benar tak berdaya oleh keputusan wasit yang cenderung memihak tim tuan rumah Sinar Giri Putra (SGP) saat kedua tim bentrok di ajang Liga 3 babak 16 besar nasional di Stadion Gelora Joko Samudro, Kamis (19/12/2019).

Akibat wasit yang “bermain” itulah akhirnya Perseden Denpasar kalah dari SGP melalui adu penalti 2-4. Ini berarti pula bahwa apa yang menjadi kekhawatiran pelatih kepala Perseden Denpasar, Wayan Sukadana dan manajer AA. Alit Wiartha atau Gung Guntur akhirnya terbukti.

 Penalti itu terjadi setelah keduanya bermain imbang 2-2 sampai babak perpanjangan waktu, sehingga harus dilakukan adu penalti. Pada pertandingan kemarin. Perseden unggul dulu melalui Raffly Hidayat menit 86, disamakan pemain SGP Rendy Jaya pada menit 90+3. Dalam perpanjangan waktu, Perseden unggul lagi lebih dulu melalui Yusron Hamid menit 99 tapi kembali skor imbang 2-2 setelah pemain SGP memperoleh hadiah penalti menit 119 melalui eksekutor Rendy Jaya. Dan akhirnya adu penalti. dan Perseden kalah 2-4.

Dua kali unggul dua kali disamakan. Pertama unggul 1-0 dari tuan rumah dan disamakan menjadi 1-1. Kemudian anak-anak Denpasar  berjuang lagi dan unggul 2-1, tapi lagi-lagi disamakan melalui penalti padahal tidak terjadi apa apa saat pemain Perseden dan SGP heading.  

“Saya sudah merasakan sebelum pertandingan, karena memang informasi dari rekan-rekan pelatih teman saya, memang kami dikabarkan bakal kalah tidak wajar. Dan kenyataannya kami benar-benar dikerjain dan ‘dirampok’ wasit,” keluh Sukadana usai laga.

Dirinya geram karena dua kali unggul lebih dulu, tapi selalu Perseden diberikan keputusan-keputusan merugikan, sehingga dua kali lawan kembali mampu menyamakan kedudukan, termasuk di masa extra time.

“Sebenarnya ini bukan dirampok lagi kami, melainkan lebih dari itu. Apalagi hasil imbang sebelum adu penalti, dipaksakan wasit agar SGP jangan sampai kalah dan akhirnya benar sampai adu penalti dilakukan. Masa sama-sama heading dianggap pemain kami pelanggaran dan akhirnya lawan diberikan penalti. Semua itu diberikan di masa krusial dan pertandingan mau habis,” imbuh Sukadana.

Kondisi itu membuat mental para pemain Perseden drop dan muncul emosi tinggi, sehingga kurang tenang, dan ketika melakukan adu penalti kurang fokus. “Saya sudah minta pemain sabar tapi kondisi dan situasi yang dibuat wasit untuk menjatuhkan mental pemain terlanjur terjadi akhirnya kami kalah adu penalti,” tukas Sukadana.(rup)