Dana Pra-PON Hanya untuk Atlet yang Terdaftar dalam SPPD KONI Bali

0
330
Anak Agung Lan Ananda (FOTO: Perspectivesnews/git)

Denpasar, PERSPECTIVESNEWS – Mantan Ketua Umum Pengprov Taekwondo Indonesia (TI) Bali, Lan Ananda, akhirnya menanggapi pernyataan orang tua atlet yang menanyakan soal dana Pra-PON dan kejuaraan Taekwondo For Children II yang batal.

Menurut Lan Ananda, selaku orang tua atlet, Made Mardika tidak memahami persoalan dan asbun sehingga berkomentar tendensius di media massa.

“Ayah dari atlet poomsae Kadek Nanda ini tidak memahami kalau anaknya berangkat menjadi tim Pra-PON Taekwondo Bali namun tidak terdaftar dalam SPPD dari KONI Bali seperti ini,” ujar Lan sambil menunjukkan lampiran SPPD dari KONI Bali, Selasa (3/12/2019).

Pria yang akrab disapa Gung Lan ini melanjutkan, yang berhak menggunakan dana Pra-PON dari KONI Bali adalah mereka yang terdaftar dalam SPPD, sehingga tidak terjadi penyimpangan penggunaan anggaran yang jumlahnya Rp 100 juta itu. 

Atlet Kyorugi dari Klungkung atas nama Kadek Surya Febriantari berangkat Pra-PON menggunakan tiket pesawat dari anggaran Pra-PON yang diberikan oleh KONI Bali. Atlet atas nama Bayu Satrya, Ocla, lanjut Gung Lan,  tiket pesawatnya yang dibelikan dengan menggunakan dana Pra-PON menjadi hangus, karena dia dibelikan tiket lain oleh manajer tim yang baru dan ditanggung oleh atlet itu sendiri. 

Lan mengakui bahwa dana Pra-PON dari KONI Bali menjadi tidak efisien karena tim yang telah terbentuk  dibongkar oleh Pengprov TI Bali yang baru, dan tidak melakukan koordinasi dengan pihaknya. 

Pada Pra-PON Riau 2012, kata Gung Lan, KONI Bali hanya memberikan dana Rp 3 juta namun para atletnya tidak mengeluarkan dana sepeserpun, karena Pengprov TI Bali menanggung seluruh biaya.

“Kenapa sekarang tidak? Harusnya itulah yang dituntut orang tua kepada Pengprov TI Bali yang sekarang, bukan menuntut hak yang bukan menjadi haknya karena tidak memiliki SPPD,” ujarnya.

Lan Ananda menilai kejuaraan TFC yang dibatalkan seharusnya ditanyakan kepada Ketua Plh Pengprov TI Bali sebagai pihak yang membatalkan kejuaraan tersebut, bukan kepada pihak lain.

“Kalau ada yang merasa dirugikan secara finansial, ya gugat saja  pihak yang menimbulkan kerugian itu, bukan komentar di koran seperti siap sambehin injin,” ujarnya sambil tertawa.(rup)