GENERASI MUDA PAPUA YANG PAHAM SEJARAH PAPUA PASTI TIDAK MENDUKUNG HUT OPM

0
103

YANTO Eluay, anak mantan Pejuang Papua Merdeka, Alm Theys Hiyo Eluay meminta rakyat Papua khususnya generasi muda untuk tidak ikut ikutan menyuarakan kemerdekaan Papua, tanpa memahami betul sejarahnya. Menurut dia, sejarah peristiwa 1 Desember 1961 sebagai hari kemerdekaan rakyat Papua belum dapat dibuktikan kebenarannya hingga kini.

Coba tanya seluruh masyarakat Papua mereka ngerti gak, kalau 1 Desember diproklamirkan berdirinya suatu bangsa Papua Barat. Kalau memang terjadi, saya yakin pasti sudah tercatat di PBB, tapi ini kan sampai saat ini tidak ada,ungkap Yanto, kepada wartaplus.com, Jumat (29/11/2019).

Generasi Papua yang ada saat ini, lalu katakan 1 Desember HUT kemerdekaan bangsa Papua, buktinya apa? Meski anak dari seorang tokoh besar pejuang Papua Merdeka dan juga Ketua Dewan Presidium Papua, Yanto mengaku sejarah tentang 1 Desember sebagai HUT Papua Merdeka baru diketahuinya setelah berumur dewasa.

“Jadi nanti sudah besar begini baru saya tahu 1 Desember 1961 ada sebuah persitiwa dimana rakyat Papua berkumpul memproklamirkan, bacakan teks kemerdekaan bangsa Papua. Selama ini hanya dibilang kita sudah merdeka. Mungkin saodara kita yang lain juga begitu mereka tidak tahu (sejarah) hanya ikut ikutan,” katanya

Yanto yang juga merupakan salah satu tokoh adat Sentani ini mengharapkan orang Papua harus dapat memahami tentang sejarah 1 Desember. Sebab akibat pemahaman yang salah, akhirnya ketika merasa diperlakukan tidak adil dalam situasi sosial, ekonomi dan merasa tidak bisa bersaing dengan orang dari luar Papua, pada akhirnya lari dan menyuarakan Papua Merdeka.

“Nanti suarakan Papua merdeka, karena sudah kalah bersaing, merasa hak hak kesulungan sudah dirampas oleh orang dari luar Papua. Nah, konsekuensianya (berjuang papua merdeka), kita bisa dibunuh ditangkap, karena yang dilakukan sudah melanggar UU di Negara ini,” tukasnya.

Skenario Licik Belanda

Menurut Yanto, peristiwa 1 Desember 1961 adalah skenario licik Belanda yang ingin menguasai kekayaan alam Papua. Peristiwa 1 Desember 1961 yang dikenal sebagai hari kemerdekaan rakyat Papua Barat, dimana untuk pertama kalinya rakyat Papua Barat melalui Dewan Nugini yang dibentuk Koloni Belanda mengibarkan bendera bintang kejora sejajar dengan bendera Belanda dan lagu tanah Papua dikumandangkan.

Namun tujuan pembentukan Dewan Nugini oleh Koloni Belanda tersebut, hingga kini masih menimbulkan pertanyaan oleh sebagian rakyat Papua. Yanto mengaku sampai saat ini tidak tahu apa maksud Belanda membentuk Dewan Nugini tersebut.

“Dari referensi sejumlah buku yang pernah saya baca, maupun pencarian di intenet tentang sejarah peristiwa 1 Desember 1961, yang terjadi pada hari itu adalah terbentuknya Dewan Nugini atau Dewan Papua Barat. Namun sampai saat ini kita tidak tahu tujuan pembentukan dewan itu, tidak tahu siapa anggota dewan itu,” ungkapnya.

Memang, kata Yanto, setelah Dewan Papua Barat terbentuk, Koloni Belanda kemudian meminta untuk membentuk alat kelengkapan negara. Jadi disitu diminta untuk membuat bendera, lagu kebangsaan dan juga lambang Negara. Nah, itu yang kemudian ditafsirkan oleh rakyat Papua Barat untuk memproklamirkan berdirinya Negara Papua Barat. “Tapi sebenarnya dari buku yang saya baca peristiwa itu tidak pernah terjadi, bahkan saya cari di google juga tidak ada,” akunya.

Ini yang kemudian menjadi tanda tanya, apa motivasi di balik Belanda membentuk Dewan Nugini tersebut. Menurut Yanto, sebagai negara penjajah, Belanda mempunyai motivasi untuk bagaimana menguasai kekayaan alam Papua.

“Kita perlu tahu bersama bahwa sebagai seorang penjajajah, Belanda mempunyai motivasi gold, gospel dan glory. Gold ini kekayaan alam suatu Negara, gospel memberikan pelayanan siar agama kristen, lalu glory ini kan menujukkan kejayaan dari negara penjajah,” pungkasnya. (https://www.wartaplus.com/read/8140/Rakyat-Papua-Harus-Paham-Sejarah-1-Desember-Jangan-Ikut-ikutan-Suarakan-Merdeka)

Sementara itu, di Jakarta, pemerhati masalah strategis Indonesia, Herdiansyah Rahman mengatakan, pernyataan Yanto Eluay tersebut benar sekali, dan bisa jadi generasi muda yang menjadi pengurus Aliansi Mahasiswa Papua (AMP), yang bergabung dalam KNPB, NFRPB, ULMWP bahkan mungkin Benny Wenda sendiri tidak paham sejarah Papua secara benar, sehingga mereka selalu berpikiran referendum adalah solusi masalah Papua.

“Victoria Koman apalagi jelas tidak mengerti sejarah Papua, bahkan Victoria Koman adalah propagandis sejati sekaligus provokator yang mengapitalisasi masalah Papua untuk kepentingan antek asing (foreign stooge), dan generasi muda Papua baik yang ada di Papua ataupun luar provinsi banyak yang terindoktrinasi oleh kakak-kakak tua mereka yang kebetulan nasionalismenya dan pemahaman sejarah Papuanya dipertanyakan,” ujar Rahman seraya menambahkan, biasanya indoktrinasi dilakukan kakak-kakak tua Papua kepada adik kelasnya atau generasi muda Papua di berbagai paguyuban yang dibentuk mereka, sehingga karena terdoktrin atau terancam akhirnya mereka ikut dalam AMP dan lain-lain.

Situasi dan masalah Papua kekinian semakin rumit, tambah Rahman, setelah beberapa NGO dan LBH juga turut “membisniskan” masalah Papua untuk kepentingan menjalankan perintah dari donaturnya, sehingga mereka rela menggadaikan nasionalismenya untuk kemudian menjadi foreign stooge alias antek asing.(red)