Digelar ‘The 6 Th InaHEA’, Upaya Temukan Solusi untuk Tekan Resiko Tinggi Penyakit Diabetes

0
172
Pertemuan ‘The 6th Indonesia Health Economic Association (InaHEA)’ yang digelar di Nusa Dua.

Nusa Dua, PERSPECTIVESNEWS- Pertemuan ‘The 6th Indonesia Health Economic Association (InaHEA)’ yang digelar di Nusa Dua selama tiga hari (6-8 Nopember 2019) merupakan upaya untuk menemukan solusi menekan resiko tinggi (high risk) penyakit diabetes.

Dalam pertemuan tersebut dihadirkan dua (2) pakar di bidangnya masing-masing Prof. Dr. dr. Ketut Suastika, Sp.PD – KEMD “How to Reduce Diabetes With Complication” dan Prof. Budi Hidayat, SKM, MPPM., Ph.D. yang membawakan materi “The Burden of Diabetes From Cost Perspective”.

Prof. Suastika mengatakan, diabetes bias menyerang siapa saja bukan karena semata-mata ada faktor genetik (keturunan) saja. “Resiko tinggi terkena penyakit diabetes bisa disebabkan faktor lingkungan. Masyarakat banyak yang tidak tahu bahwa dirinya terkena diabetes. Mereka baru sadar ketika terjadi komplikasi yang disebabkan diabetes tersebut,” ungkapnya.

Prof. Suastika menyebutkan, secara umum penderita diabetes di Indonesia terjadi kenaikan secara drastis. Jika data pada tahun 2007 sebanyak 5,7 persen, tahun 2013 sudah menjadi 6,9 persen, di 2018 sudah menjadi 10,7 persen. “Jadi cepet sekali peningkatan dari penderita diabetes ini,” kata mantan Rektor Unud ini.

Ditambahkan Prof. Suastika, jika tahun-tahun sebelumnya penderita diabetes menyerang orang berusia di atas 40 tahun, saat ini usia 30 tahun bisa terserang, salah satunya karena faktor obesitas. Penyebabnya, pola hidup kurang sehat (makanan dan kurangnya olahraga).

Waspada Bayi Besar

Prof. Suastika

Terhadap kehamilan bayi besar dengan berat 4 kilogram, menurut Prof. Suastika jangan diartikan bayinya sehat, sebaliknya mesti diwaspadai bayi tersebut beresiko mengidap diabetes karena faktor genetik dari si ibu.

“Sebaiknya para ibu yang melahirkan bayi dengan berat badan di atas 4 Kg mesti waspada sebab ada kemungkinan sang ibu menderita diabetes. Bisa terjadi kemungkinan bayi itu menjadi besar (berat) karena saat dalam kandungan mendapat asupan gula berlebihan dari si ibu yang diabetes,” ujarnya lagi.

Konsumsi gula yang berlebihan, lanjut Prof. Suastika, akan memicu naiknya kadar gula pada penderita diabetes. Seluruh makanan berkarbohidrat mengandung gula. Kalau tidak terpakai maka akan mengendap di dalam tubuh.

Di sisi lain, Prof. Suastika mengingatkan kalau diabetes bukan penyebab kematian. Tapi diabetes ini kerap menimbulkan komplikasi seperti penyakit jantung dan ginjal. Penyakit kronis tersebut yang menyebabkan kamatian.

Sementara itu Prof. Budi Hidayat mengatakan Indonesia saat ini menghadapi situasi ancaman diabetes. International Diabetes

Federation (IDF) Atlas 2017 menyebutkan epidemi diabetes di Indonesia masih menunjukkan kecenderungan meningkat. Indonesia adalah negara peringkat ke enam di dunia, dengan jumlah penyandang diabetes usia 20-79 tahun sekitar 10,3 juta orang.

Diabetes adalah salah satu penyakit dengan biaya ekonomi terbesar. Ini terlihat dari pengeluaran BPJS untuk menangani pasien diabetes yang sudah mengalami komplikasi seperti penyakit jantung, gagal ginjal (hemodialisa) sampai luka diabetes. “Pencegahan komplikasi adalah salah satu strategi terpenting dalam mengurangi beban biaya ekonomi akibat diabetes,” jelas Prof. Budi Hidayat.

Maka dari itu dibutuhkan terobosan untuk mencegahnya. Dijelaskan bagi yang sudah terkena diabetes bisa dicegah agar tak komplikasi seperti dengan pemberian insulin. Saat ini sekitar 73 persen warga terkena diabetes, namun kebanyakan mereka tidak tahu.    (ari)