Latih Tanggap Bencana, Simulasi Tsunami dan Gempa Bumi Digelar di Jembrana

0
104
Bupati Jembrana I Putu Artha saat apel dan menghadiri simulasi tsunami.

Jembrana, PERSPECTIVESNEWS- BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Provinsi Bali bekerja sama dengan Pemkab Jembrana serta instansi terkait lainnya,  menggelar simulasi penanganan tsunami dan gempa bumi bertempat di Lapangan Pergung Mendoyo.

Kegiatan ini digelar untuk melatih warga sekitar yang dianggap rawan bencana sekaligus  pelatihan kesigapan dari pihak aparat. Simulasi diawali dengan upacara tanggap bencana dengan pembina apel Bupati Jembrana I Putu Artha dan Komandan Upacara Kasetum korem 163 Wirasatya, Kapten Inf. IB. Komang Widnyana.

Dalam simulasi tersebut, bencana maut berupa Gempa bumi berkekuatan 8,5 skala richter disertai tsunami melanda 4 (empat) desa yang ada di pinggiran pantai yakni Desa Perancak, Air Kuning, Yeh Kuning dan Desa Perancak.

Bencana yang terjadi secara tiba-tiba itu membuat warga ketakutan bahkan suasana mencekam tidak bisa terhindarkan.

Akibat dua bencana itu, selain memporakporandakan ratusan rumah warga dan fasilitas umum juga korban meninggal diperkirakan sebanyak 82 orang.

Dari pantauan, saat peristiwa memilukan terjadi sekitar pukul 9.55 WITA itu, kepanikan sangat nampak menyelimuti warga di 4 desa itu, mereka berhamburan keluar pekarangan dan berlari ke jalan-jalan. Namun demikian, tidak sedikit warga di saat suasana mencekam itu ada yang terjebak dibawah reruntuhan bangunan, bahkan mereka dalam keadaan sudah tidak bernyawa.

Beberapa armada dengan suara sirenenya meraung-raung di jalan dilengkapi dengan personilnya termasuk helikopter. Secara bergantian, armada-armada ini secara-terus menerus melakukan evakuasi bagi warga masyarakat ke tempat yang aman yakni, di lapangan Desa Pergung, Kecamatan Mendoyo.

Di hadapan peserta apel yang juga dihadiri Wabup I Made Kembang Hartawan serta Ketua DPRD Jembrana  Ni Made Sri Sutarmi,  Forum Koordinasi Pimpinan Daerah jajaran termasuk BPBD Propinsi Bali serta lembaga-lembaga terkait lainnya, simulasi berjalan lancar.

Bupati I Putu Artha dalam sambutannya mengatakan, simulasi gladi lapang gempa bumi yang berpotensi tsunami mengharuskan keterlibatan dan peran serta semua stakeholder pengambil kebijakan baik di tingkat kabupaten dan propinsi.

”Semua stakeholder harus bergerak cepat dan tepat dalam mengambil tindakan sesuai tugas pokok dan fungsi masing-masing dan mengambil bagian di tiap-tiap cluster atau sektor yang ada,” tandasnya.

Terkait pelaksanaan simulasi di Jembrana, Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Bali, I Made Rentin mengatakan, dari rilis terakhir BNPB, dari seluruh desa (kelurahan) di Jembrana terdapat 26 desa yang merupakan zona merah. Apalagi di Jembrana belum ada alat pendeteksi tsunami.

“Zona merah disini memiliki resiko tinggi terjadinya bencana. Di Bali baru terpasang (alat pendeteksi tsunami) di 9 titik dari idealnya 34 titik,” ujar Rentin

Melalui simulasi ini diharapkan warga yang terlibat dapat mengetahui dan memahami cara berlindung dan melindungi serta memberikan pertolongan saat terjadi bencana sehingga korban dapat diminimalisir.  (utu)