“Bali Bersiul”, Masyarakat Jangan Gunakan Uang Lusuh dalam Transaksi Sehari-hari

0
129
Kepala Perwakilan Wilayah Bank Indonesia Provinsi Bali, Trisno Nugroho memukul gong saat Peluncuran Program Bali Bersiul, Selasa (1/10/2019).

Denpasar, PERSPECTIVESNEWS – Bank Indonesia dan bank-bank lainnya melayani penukaran uang lusuh dan rusak setiap hari Selasa, pukul 09.00-12.00 Wita. Karenanya, masyarakat diminta tidak menggunakan uang lusuh dalam transaksi sehari-hari. Demikian disampaikan Kepala Perwakilan Wilayah Bank Indonesia Provinsi Bali, Trisno Nugroho.

“Banyak uang rusak akibat kekurangpahaman dalam memperlakukan uang. Selain itu, masyarakat belum mengetahui bahwa uang rupiah dengan kondisi tak Iayak edar bisa ditukarkan ke Bank Indonesia atau ke kantor-kantor bank umum terdekat tanpa dipungut biaya,” jelas Trisno Nugroho, Selasa (1/10/2019).

Bank Indonesia merilis program baru yang disebut Bali Bersih Uang Lusuh atau ‘Bali Bersiul’ pada Selasa, 1 Oktober 2019. BI Provinsi Bali juga memperluas jangkauan layanan kas dengan membuka Kantor Kas Titipan Bank Indonesia di Singaraja, kerja sama dengan perbankan untuk membuka Ioket penukaran. Termasuk, layanan kas keliling di berbagai kabupaten di Bali.

Trisno Nugroho mengatakan, ada 5 tips untuk menjaga uang kertas agar usianya lebih panjang atau dikenal dengan 5J yakni, Jangan Dilipat, Jangan Dicoret, Jangan Distepler, Jangan Diremas dan Jangan Dibasahi.

Sebagai pihak yang dlberikan tanggung jawab untuk mengelola rupiah, kata Trisno Nugroho, KPwBI Provinsi Bali sangat memperhatikan ketersediaan rupiah dari sisi nominal dan kualitas uang yang beredar di masyarakat.

Data uang lusuh KPwBI Provinsi Bali pada Januari-Desember 2018 dengan nominal Rp 4,38 triliun dan volume 129.658.780 lembar. Pada rentang Januari-Agustus 2019, nominal Rp 3.58 triliun dengan volume 98.416.604 lembar.

Trisno menambahkan, kondisi uang kertas yang lusuh tentunya akan sangat mengganggu pemegang alat pembayaran sah itu. Terlebih lagi, Bali banyak dikunjungi oleh wisatawan asing dari seluruh penjuru dunia. Kondisi fisik rupiah juga berpengaruh terhadap citra Indonesia di mata dunia.

“Kita ingin menjaga citra Bank Indonesia melalui rupiah. Bahkan sudah menjadi rahasia umum. banyak wisatawan yang menyimpan rupiah sebagai kenang-kenangan ketika mereka kembali ke negara asal,” jelas Trisno.

Uang-uang lusuh yang diterima oleh Bank Indonesia melalui masyarakat dan bank umum akan dimusnahkan dan digantikan dengan uang layak edar.

Program ‘Bali Bersiul’ merupakan sarana edukasi kepada masyarakat terkait cara memperlakukan uang kertas rupiah dengan baik dan benar. Selain itu, KPwBI Bali juga mendorong masyarakat menukarkan uang lusuhnya dan mengganti dengan yang baru.(ari)