Tidak Bersedia Bela Bali di Pra-PON, Wahyu Dilarang Bertanding di Porprov Bali

0
345
Gede Bimantara (FOTO: ist)

Tabanan, PERSPECTIVESNEWS – Technical meeting khusus cabang olahraga taekwondo Porprov Bali XIV/2019 Tabanan, di Beraban, Tanah Lot, Selasa (10/9/2019) memutuskan Mohammad Abdurahman Wahyu tidak boleh memperkuat Badung di helatan ini.

Technical meeting (TM) khusus dipimpin Technical Delegates Taekwondo Sabeumnim Irwan Santosa dan dihadiri oleh wasit nasional dari Provinsi Jawa Tengah Sabeum Aries.

Alasan tidak diperbolehkannya Wahyu bermain di Porprov Bali 2019 karena yang bersangkutan tidak mengantongi rekomendasi dari Pengprov Taekwondo Indonesia (TI) Bali.

Dalam perdebatan saat pelaksanaan TM, seluruh peserta menolak Wahyu untuk mengikuti Porprov Bali karena tidak mengantongi rekomendasi dari Ketum Pengprov TI Bali. Dimana dalam hasil Pra-TM Taekwondo seluruh peserta sepakat melarang Pengprov TI Bali mengeluarkan rekomendasi bila tidak mendapatkan persetujuan dari 8 pengkab peserta Porprov, dikarenakan Wahyu yang merupakan atlet Pelatnas menyatakan menolak bermain pada Pra-PON kepada pelatih tim Poomase Pra-PON Bali, dan kepada Ketua Umum Pengprov TI Bali yang saat itu masih dijabat Lan Ananda.

Wasit Nasioal Aries Budi Nugroho yang hadir dalam pelaksanaan TM tersebut mengatakan bahwa keputusan TM adalah bersifat teknis yang disepakati oleh peserta, namun bila keputusan teknis dalam TM tersebut dianggap tidak memuaskan peserta, maka dipersilakan menggugat kepada Dewan Hakim yang ada di KONI Bali.

Manajer Tim TI Karangasem, I Gede Bimantara mengatakan apa yang diputuskan di dalam TM adalah sudah sesuai dengan yang tercantum di dalam Technical Hand Book (THB) yang dikeluarkan oleh KONI Bali.

“Jadi kalau ada peserta yang ingin keluar dari ketentuan tersebut, buat apa membuat THB. Rekomendasi pertandingan adalah salah satu keharusan dan syarat bagi atlet  yang ada dalam THB yang sudah diterapkan dalam 3 kali Porprov, kenapa baru sekarang memprotesnya dengan menyebut soal kesepakatan KONI,” ujar Gede Bimantara.

Menurutnya, jika kesepakatan KONI yang akan dipakai, lebih baik tidak usah membuat handbook. Intinya, lanjut dia, kalau tim Badung merasa keberatan silakan gunakan haknya menggungat ke Dewan Hakim.

“Kami peserta lain juga siap untuk menghadapinya sehingga tidak ada tim yang hanya menginginkan medali tapi mengabaikan aturan dan ketentuan yang telah baku,” ujarnya.(git)