Bank Sentral Lakukan Empat Kebijakan Respon Karakteristik Redanya Globalisasi dan Meningkatnya Digitalisasi

0
133
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo saat memberikan keterangan pers.

Kuta, PERSPECTIVESNEWS-  Bank Sentral telah mengeluarkan beberapa kebijakan untuk merespon ‘Karakteristik Redanya Globalisasi dan Meningkatnya Digitalisasi’. Hal tersebut disampaikan pada The 13th BMEB International Conference and Call for Papers (ICCP) yang berlangsung selama dua hari 27 – 28 Agustus di Kuta.

“Menghadapi digitalisasi ekonomi ke depan, para pengambil kebijakan, termasuk bank sentral, perlu memahami perubahan-perubahan pemikiran ekonomi sehingga dapat melakukan respons kebijakan secara tepat,” ungkap Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo yang juga Editor in Chief  BMEB pada pembukaan konferensi internasional tersebut.

Pada konferensi yang mengambil tema “Maintaining Stability and Strengthening Momentum of Growth Amidst High Uncertainties in Digital Era”, pengambil kebijakan menghadapi kemajuan teknologi, terutama digitalisasi, telah mengubah landskap perekonomian dunia secara keseluruhan.

“Penyelenggaraan konferensi internasional dan call for papers ini, selaras dengan komitmen Bank Indonesia untuk memberi kontribusi nyata pada perekonomian, melalui peningkatan kualitas riset akademis dan kebijakan, serta pengembangan sumber daya manusia yang unggul di bidang riset ekonomi,” sebutnya.

Dalam sambutannya, Perry menyampaikan4 (empat) karakteristik meredanya globalisasi dan meningkatnya digitalisasi. Pertama, banyaknya negara yang mengandalkan internal (domestik) dalam merespons ketegangan perdagangan internasional. 

Kedua, arus modal antar negara dan nilai tukar yang semakin bergejolak. Ketiga, bahwa respons kebijakan bank sentral tidak dapat mengandalkan suku bunga. Mandat bank sentral di beberapa negara tidak hanya menjaga inflasi tapi juga stabilitas sistem keuangan, sehingga kebijakan makroprudensial menjadi penting. Keempat, semakin maraknya digitalisasi di bidang ekonomi maupun keuangan

Kebijakan Bank Sentral

Lebih lanjut Perry menyampaikan 3 (tiga) halyang perlu menjadi perhatian bank sentral dan pengambil kebijakan dalam merespons hal tersebut. 

Pertama, menerapkan bauran kebijakan bank sentral (policy mix). Kedua, perlunya memperkuat sinergi dan koordinasi antar pemangku kebijakan dengan meningkatkan transparansi dan komunikasi. Ketiga, perlunya memanfaatkan era digitalisasi untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi, di mana Bank Indonesia menyusun Visi SPI 2025 untuk mengintegrasikan ekonomi dengan keuangan digital.

Solikin M. Juhro, Kepala Institut Bank Indonesia, menyatakan mengusung tema konferensi kali ini, BI berharap bisa merumuskan hasil pemikiran dan analisis para pakar dalam mewujudkan kemajuan teknologi.

“Saat ini Bank Sentral di banyak negara juga terus mengambil langkah untuk memahami implikasi dari perubahan teknologi pada kebijakan ekonomi, baik kebijakan moneter, ekonomi makro, sistem keuangan dan sistem pembayaran,” jelasnya.

Melalui konferensi ini diharapkan para peneliti dari Indonesia maupun dari luar negeri dapat bertemu dan belajar satu sama lain, sehingga memperkuat ekosistem penelitian di Indonesia.

Solikin juga menegaskan perihal perluasan kemitraan, peningkatan kualitas BMEB, penguatan mutu konferensi, dan penguatan dampak positif dari penyelenggaraan konferensi.

“Kita saat ini bekerjasama dengan UI, IPB, UGM, Unsoed, dan Unair termasuk menjalin kemitraan dengan Unpad dan ADB (Asian Development Bank) serta ISEI (Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia),” demikian Solikin M. Juhro.

BMEB telah terindeks dalam Google Scholar, ISJD (sistem repositori jurnal ilmiah yang dikelola oleh LIPI), Cross-Ref, ASEAN Citation, the Directory of Open Access Journal (DOAJ) dan the Science and Technology Index (SINTA) yang dikeluarkan oleh Kemenristek Dikti.

Sejak Juli 2019, setelah melalui tahapan evaluasi dari Content Selection and Advisory Board dari Scopus, BMEB telah menjadi jurnal yang terindeks Scopus.

“Kami harapkan dengan indeksasi Scopus tersebut, BMEB dapat memberikan kontribusi pada penguatan ekosistem riset ekonomi di Indonesia,” tandas Solikin.   (ari)