Ni Putu Dhyta Dewanti Lestari: “Terlalu Monoton”

0
595

Lugas dan terbuka dalam mengemukakan pendapat, itulah ciri khas dara hitam manis kelahiran 21 Juni 1991 ini. Begitu pula dalam melakoni hidup, konon dirinya tidak pernah serius. “Yang penting saya telah memiliki skill dan menguasai lima bahasa,” ungkapnya.

Perempuan pecinta Korea dan suka make up itu mengatakan, pendidikan menurutnya nomor dua, yang utama adalah skill. “Kalau sudah memiliki skill, tentu tidak susah mencari kerja, justru sebaliknya pekerjaan yang akan mencari kita,” terang Ni Putu Dhyta Dewanti Lestari saat berbincang dengan Perspectivesnews.com belum lama ini.

Ketika dimintai komentarnya tentang perayaan HUT kota Negara, ia yang memiliki nama panggilan Inces itu tidak begitu banyak berkomentar. “Perayaan HUT Kota Negara sekarang makin monoton, kurang bervariasi. Tempatnya pun hanya dipusatkan di sekitar kantor Pemkab Jembrana sehingga tidak terasa yang ulang tahun itu Kota Negara,” ucapnya.

Menurutnya, acaranya kebanyakan hanya untuk orang dewasa. Pentas kesenian juga kebanyakan lawak dari luar daerah. Pemkab Jembrana harus berupaya agar perayaan HUT Kota Negara ke depan lebih seimbang antara kegiatan untuk orang tua dan anak muda. Itulah sebabnya acara-acara yang ada hanya itu-itu saja. Terlalu banyak mengundang kesenian Bali dari luar Jembrana, padahal potensi anak-anak Jembrana sendiri begitu besar dan banyak jenisnya.

“Anak-anak muda Jembrana sangat aktif di kesenian tradisional maupun modern terutama band atau seni musik. Untuk musik Jembrana tidak kalah dibanding daerah lain. Alirannya juga sangat beragam tapi mereka kurang diberi tempat,” sebut Dhyta.

Dikatakan Dhyta, sejatinya dirinya sepakat dengan bentuk perayaan HUT Kota Negara selama ini. Bentuk-bentuk seni budaya di seluruh Indonesia sempat ditampilkan di tahun-tahun sebelumnya. Ini tentu merupakan bentuk penghormatan atas nilai-nilai kebhinnekaan Indonesia. Hanya saja Ni Putu Dhyta Dewantari Lestari juga menginginkan agar bentuk-bentuk kesenian lokal Jembrana mendapat porsi yang lebih banyak.

“Karena kesenian sesungguhnya kesenian lokal Jembrana terbilang unik sehingga perlu dihidupkan lagi, salah satunya pencak silat Loloan. Begitu pula kesenian Leko di zaman dulu. Masih banyak lagi kesenian tradisional lainnya seperti Bungbung Gebyog, Kepyak, Jamintoro dan Preret. Atau juga perlu menghdupkan kesenian drama yang saat itu dilakoni generasi muda Umat Muslim di Loloan Timur maupun Loloan Barat,” imbaunya.

Panitia juga perlu juga memberikan ruang bagi seniman-seniman muda yang menekuni seni modern atau seni kontemporer seperti teater dan seni lukis. “Saat ini kesenian-kesenian ini seolah-olah mati suri, perlu terobosan dan keikhlasan lebih dari pemerintah daerah untuk kembali menghidupkannya,” saran Ni Putu Dhyta Dewanti Lestari.    (utu)