Gandeng Sejumlah Instansi, Manajemen Bandara Ngurah Rai Gelar “Safety Campaign”

0
239
Safety campaign yang digelar Manajemen Bandara Ngurah Rai

Mangupura, PERSPECTIVESNEWS – Untuk memberikan edukasi dan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap keamanan dan keselamatan penerbangan, Manajemen PT Angkasa Pura I (Persero) Kantor Cabang Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai menggandeng Pemerintah Kecamatan Kuta Selatan dan Kantor Otoritas Bandara Wilayah IV menggelar kampanye sosialisasi bahaya obyek asing terhadap keamanan dan keselamatan penerbangan.

Sosialisasi di Kantor Kecamatan Kuta Selatan tersebut juga untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat yang tinggal di wilayah sekitar bandara tentang bahaya layang-layang, drone, balon udara, laser, dan permainan sejenis terhadap keamanan dan keselamatan penerbangan.

“Kawasan aerodrome telah diatur sebagai kawasan steril dari benda asing, dikarenakan tingginya standar keselamatan yang dipersyaratkan dalam operasional penerbangan,” ucap Communication and Legal Manager PT Angkasa Pura I (Persero) Kantor Cabang Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Arie Ahsanurrohim, Kamis (8/8/2019).

Ia melanjutkan, bandara berdiri di area padat penduduk, sehingga pihaknya selaku pengelola memandang perlu melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya standar keamanan dan keselamatan penerbangan.

Dalam sosialisasi, Kepala Seksi Pengoperasian Bandara Kantor Otoritas Bandara Wilayah IV, Ketut Martim menyatakan selama 2018-2019, terdapat cukup banyak gangguan di Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP) bandara.

“Gangguan penerbangan pada 2018 ada 33 komplain dari pilot, sedangkan 2019, hingga awal Agustus ini sudah ada 11 komplain, baik itu layang-layang dan laser. Sosialisasi ini ditujukan supaya masyarakat lebih menyadari pentingnya keselamatan penerbangan,” ujar Ketut Martim.

Tercatat, pada awal bulan Agustus 2018 silam, personel Aviation Security yang sedang berpatroli mendapati sebuah drone menerbangi area Daerah Keamanan Terbatas (DKT) bandara dengan ketinggian 25 meter. Tidak hanya mengganggu, drone yang diterbangkan ini juga berisiko membahayakan operasional pesawat udara dan penumpang yang diangkut, karena telah memasuki kawasan steril bandara.

Selain drone dan sinar laser, hal lain yang mengganggu penerbangan adalah layang-layang, di mana pada tahun 2018 lalu terdapat dua kejadian helikopter terlilit tali layang-layang. Biaya perbaikan pesawat (yang tersangkut tali layang-layang) sangat mahal. Jadi tidak sebanding antara bermain layang-layang dengan perbaikan pesawat.

“Kalau melaksanakan festival layang-layang, sebaiknya panitia menyurati pihak Otoritas Bandara, sehingga kami dapat menginformasikan ke seluruh dunia sehingga pesawat yang datang dan pergi tidak akan melalui jalur festival tersebut,” ujar Ketut Martim.

Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan, dalam Pasal 210 disebutkan bahwa setiap orang dilarang membuat halangan atau obstacle di KKOP yang dapat membahayakan keselamatan dan keamanan penerbangan, kecuali memperoleh izin dari Otoritas Bandara.

Lebih lanjut, dalam Pasal 421 disebutkan setiap orang yang membuat halangan atau obstacle dan melakukan kegiatan lain di KKOP yang membahayakan keselamatan dan keamanan penerbangan terancam pidana hukuman penjara paling lama tiga tahun, dan/atau denda paling banyak satu miliar rupiah.

“Dengan adanya sosialisasi ini, kami berharap akan dapat tercipta budaya keselamatan bagi warga sekitar Kawasan Keselamatan Operasional Penerbangan (KKOP),” tutup Arie.(ari)