Maksimalkan Potensi Wisata MICE, KPw BI Bali Gelar FGD Pariwisata

0
337
Ka KPw BI Bali saat memberikan sambutan pada FGD Pariwisata.

Denpasar, PERSPECTIVESNEWS– Di tengah gencarnya promosi pariwisata Bali, potensi wisata MICE (Meeting, Incentive, Convention and Exhibition) belum tergarap maksimal. Ini menjadi topik bahasan FGD (Focus Group Discussion) yang diselenggarakan KPw BI Bali.

FGD dengan tema ‘Synergy and Harmony In One Island One Management One Voice’ yang melibatkan berbagai pihak terkait juga dihadiri pula Ka.KPw BI Bali Trisno Nugroho, Plt. Kadisparda Bali Puti Astawa dan Ketua GIPI Bali IB Agung Partha Adnyana, berlangsung di Gedung BI Bali, Selasa (6/8/2019).

Untuk meningkatkan kunjungan wisatawan, wisata MICE dinilai strategis untuk mengisi bulan-bulan sepi kunjungan. “Apalagi dari sisi pendapatan, MICE cukup besar,” ujar Ka.Kpw BI Bali Trisno Nugroho.

“Bali punya potensi wisata MICE yang sangat besar. Kalau ini digarap lebih serius, maka akan sangat membantu mendongkrak kunjungan wisatawan,” lanjut Trisno Nugroho.

Topik FGD mengacu pada ancaman terbesar pariwisata Bali saat ini yakni over supply kamar hotel. Berdasarkan analisis akademisi pariwisata Universitas Udayana (Unud), saat ini jumlah kamar di Bali sebanyak 146.000, sedangkan kebutuhan hanya 90.000 kamar.

Pasokan kamar hotel di Bali terus mengalami penambahan. Berdasarkan survei Bank Indonesia KPw Bali, pasokan perhotelan di Bali pada triwulan II 2019 meningkat 3,44 persen (qtq) atau 6,54 persen (yoy). Penambahan pasokan ini dikontribusikan oleh pembangunan hotel di daerah Sanur dan Seminyak. Pasokan kamar hotel didominasi oleh hotel bintang 4 (44,71 persen), bintang 5 (38,78 persen), dan bintang 3 (16,52 persen).

Akademisi Pariwisata Unud Agung Suryawan mengatakan, ancaman terbesar pariwisata Bali tersebut harus diselesaikan. Jika tidak, pariwisata berkelanjutan tidak akan terjadi apalagi pariwisata berkualitas.

”Sampai 10 tahun ke depan pun Bali tidak perlu penambahan kamar, walaupun pertumbuhan kunjungan wisatawan 20 persen. Jadi, stop pembangunan hotel,” tukasnya.

Tokoh pariwisata Bali yang juga pemilik Bagus Agro Pelaga, Bagus Sudibya, menyatakan, masalah over supply adalah tugas regulator untuk membatasinya dengan regulasi. Supply harus dijaga, maka dari itu diperlukan komitmen. “Kalau okupansi ratenya belum 70 persen, jangan diberikan membangun lagi. Dengan demikian, maka akan tercipta quality tourism,” jelasnya.

Praktisi MICE Ketut Jaman di sela-sela diskusi menambahkan, Bali memiliki sarana dan prasarana memadai untuk wisata MICE ini. Bahkan punya cukup kemampuan untuk menggarap potensi ini.

“Seperti ketika pelaksanaan IMF-World Bank yang menghadirkan puluhan ribu peserta di Nusa Dua tahun lalu yang berjalan sukses. Dari pengalaman itu, sebenarnya Bali sudah memiliki modal besar untuk menggarap MICE ini lebih luas lagi. Saya yakin kalau badan khusus untuk menggarap MICE ini bisa dibentuk dan proaktif menjemput bola, maka event-event besar yang banyak di luar negeri bisa dibawa ke Bali,” tambah Managing Director Melali MICE ini.

Untuk itu ujarnya, kalau ingin mengembangkan wisata MICE ini lebih profesional maka Bali harus memiliki lembaga/badan yang khusus mengurus hal itu.

“Ya semacam Bali Convention Board yang tugasnya memromosikan sarana dan prasarana sebagai destinasi MICE, aktif ikut bidding-bidding di luar negeri. Jadi kita bisa gaet event-event internasional ke Bali,” jelasnya.

Saat ini belum ada wadah yang khusus menangani wisata MICE ini. Padahal dari segi pendapatan sangat besar karena mampu mendatangkan peserta yang banyak dengan spending yang besar.

“Wadah ini juga takkan tumpang tindih dengan yang lain sebab tugasnya berbeda. Ini kan khusus, jadi tak cari wisatawan perorangan,” tegasnya.

Di sisi lain, menurut pengamatannya saat ini kontribusi wisata MICE diakui belum maksimal. Kondisi ini juga bisa menyebabkan sarana dan prasarana yang ada jadi kurang efektif.    (ari/*)