Survei KPwBI Bali, Sektor Properti Residensial Tumbuh Melandai

Causa Iman Karana (2 dari kanan)

Denpasar, PERSPECTIVESNEWS- Hasil survei KPwBI Provinsi Bali, sektor properti residensial di triwulan I dan II, mengalami pertumbuhan meski agak melandai. Kondisi ini jauh lebih baik dibandingkan periode beberapa tahun yang mengalami stagnasi.


“Memang dari hasil survei kami, di triwulan I dan II, khususnya properti residensial tumbuh agak melandai,” ujar Causa Iman Karana selaku Kepala KPwBI Bali saat penyampaian perkembangan properti di Sanur, Denpasar, Rabu (18/7/2019) malam.

Menurut Iman, ada pertumbuhan sektor properti khususnya residensial namun belum signifikan atau tidak terlalu besar. Kondisi itu disebabkan karena banyak faktor seperti terbatasnya lahan di perkotaan, sehingga membuat melandainya harga di properti.

Didampingi Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Teguh Setiadi, Iman mengakui seiring dengan situasi secara nasional yang mempengaruhi seperti seiring telah diumumkannya hasil Pemilu Legislatif dan Pilpres, hal itu membawa optimistisme terutama pada triwulan III.

“Mudah-mudahan tantangan di triwulan
I dan II tidak terjadi lagi di triwulan III dan seterusnya sehingga begitu triwulan III, langsung tumbuh,” ujar Iman yang mendapat tugas baru sebagai Kepala BI Perwakilan Wilayah Tokyo, Jepang.

Survei berikutnya adalah properti komersial di mana diketahui dari sisi supply bertambah terutama sektor pariwisata.

Sementara tantangan terjadi saat triwulan
I dan II seperti harga tiket yang tinggi serta tren turunnya wisatawan asal Tiongkok sehingga menyebabkan, seolah-olah hunian menurun.

Karena itulah, Iman mengharapkan dalam menghadapi tantangan tersebut kalangan industri pariwisata di Bali agar berbenah.

“Bagaimana meningkatkan daya tarik pariwisata Bali ini lebih gencar lagi, terutama bagaimana meningkatkan atraksi, meningkatkan promosi sehingga tingkat hunian hotel lebih baik lagi,”
jelas Iman.

Diakui Iman, peran properti sangat strategis dalam mendukung pertumbuhan perekonomian Bali. Sektor properti memiliki

turunan yang sangat banyak, bahkan sampai ratusan. Mulai dari penggunaan bahan-bahan, tenaga kerja hingga pendukung lainnya, rincinya.

“Melihat peran strategis properti tersebut maka sektor ini dianggap sebagai motor penopang ekonomi di Indonesia. Bahkan di Bali yang pesat perkembangan pariwisatanya, sektor properti ini memainkan peran penting dalam perekonomian,” ujar Iman yang akrab disapa Pak Cik ini.

Sementara itu, pertumbuhan harga rata-rata tanah tercatat sebesar 1,02% (qtq), lebih rendah dibanding triwulan sebelumnya yang sebesar 1,26% (qtq).

Sementara pertumbuhan harga tanah relatif lebih tinggi dibandingkan pergerakan harga rumah. Hal ini disebabkan kenaikan harga pada rumah sekunder relatif tertahan oleh adanya penyusutan.

Peningkatan tertinggi harga properti residensial rumah tipe menengah terjadi di wilayah Denpasar Selatan yakni 0,32% (qtq) pada triwulan II 2019, lebih rendah dibandingkan triwulan I 2019 yang sebesar 0,60% (qtq).

Pertumbuhan harga rumah sekunder hanya naik rata-rata 0,37% (qtq) atau turun tipis dari 0,53% (qtq) pada triwulan sebelumnya. Berdasarkan tipe rumah, pertumbuhan Tipe Besar relatif lebih tinggi dibandingkan Tipe Menengah. Sebagian objek memperlihatkan kecenderungan positif pergerakan harga.

Di sisi lain pihak REI Bali mengakui penyebaran pengembangan properti saat ini tak sesuai market. “Padahal lahan cukup luas tersedia, namun yang diburu konsumen lebih banyak wilayah Badung selatan dan sekitarnya,” jelas Sekretaris REI (Real Estat Indonesia) Bali Suananta, S.E.

Pada kegiatan tersebut juga dilangsungkan perpisahan Causa Iman Karana yang akan bertugas di KPwBI Tokyo serta Deputi Kepala BI Provinsi Bali Teguh Setiadi yang akan pindah ke BI Riau. (ari)