Ida Ayu Komang Swandewi, SST, Par: “Ada yang Salah”

Ida Ayu Komang Swandewi, SST, Par

Nama secantik wajah dan kiprahnya. Itulah kesan pertama dari sosok Ida Ayu Komang Swandewi, SST, Par. Akrab disapa Dewi, ibu muda yang mendapat amanah sebagai Kasi Pengendalian dan Daya Tarik Pariwisata di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jembrana ini nyeleneh berucap. “Ada yang salah”, katanya. Apa yang dimaksud wanita karir ini ya… Simak ungkapannya.

Bahwasanya dalam memajukan pariwisata di ujung barat Pulau Bali, Jembrana tak semudah membalikkan tangan. Mengapa?. Ternyata Kabupaten yang terkenal dengan kesenian Jegog ini salah dalam mempromosikan atraksi Mekepung sebagai objek wisata.

Dengan mengutip ucapan salah seorang narasumber CHE dari Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua, Bali Dr. Ni Made Eka Mahadewi saat penyelenggaraan pelatihan tata kelola destinasi pariwisata di Hotel Jimbarwana, Dewi mengemukakan, jargon pariwisata Jembrana yang selama ini selalu ‘menjual’ ikon Mekepung dan Jegog adalah sebuah kesalahan mendasar dari perilaku pariwisata Jembrana.

“Mekepung dan Jegog adalah event yang bersifat berkala dan tidak terjadi setiap hari. Seperti apa yang dikatakan Dr. Ni Made Eka Mahadewi, keliru melakukan promosi, wisatawan malas datang ke Jembrana hanya untuk melihat atraksi Mekepung atau pertunjukan Jegog tanpa dibarengi dengan kegiatan-kegiatan lainnya. Ini yang salah,” jelas Dewi mengungkapkan apa yang dimaksud dengan ‘ada yang salah’ itu.

Kata Dewi, yang seharusnya dijadikan jargon wisata Jembrana adalah destinasi dan aktivitas keseharian misalnya tempat-tempat ibadah yang bersejarah dan khas serta kegiatan keseharian warga masyarakat.

“Mau tidak mau kita harus mengubah paradigma sehingga Kabupaten Jembrana secara berangsur-angsur bisa maju dalam bidang pariwisata,” jelas Dewi lagi.

Ia mengemukakan, wisata desa di Jembrana berpeluang besar untuk maju sepanjang warga dan para stakeholder bisa bekerjasama dan satu visi. Pengelolaan pariwisata di Jembrana bisa langsung berada di desa-desa bersama waga dengan segala potensi milik warga, baik itu berupa pertanian, peternakan dan penyediaan fasilitas-fasilitas homestay dengan memanfaatkan rumah warga.

“Ke depan, pariwisata desa yang melibatkan kehidupan sehari-hari warga justru menjadi tujuan utama para wisatawan mancanegara,” demikian Dewi.    (utu)