Gong Kebyar Wanita Jembrana Tampilkan Tari Ngadap Kasor sebagai Pamungkas Hadapi Klungkung

0
334
Gong Kebyar Wanita Kabupaten Jembrana tampil memukau di PKB ke-41 yang berhadapan dengan Gong Kebyar Kabupaten Klungkung.

Jembrana, PERSPECTIVESNEWS – Penampilan duta seni Kabupaten Jembrana berhadapan dengan Kabupaten Klungkung menampilkan parade gong kebyar wanita pada Pesta Kesenian Bali (PKB ke-41) di panggung terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Denpasar, kemarin malam.

Kedua duta seni berpentas dalam satu panggung, tampil secara bergantian untuk mempersembahkan penampilan terbaik kepada penonton yang memenuhi stage. Penampilan gong kebyar wanita Jembrana ini Dihadiri Bupati Artha didampingi istri Ari Sugianti dan Wakil Bupati I Made Kembang Hartawan didampingi istri Ani Setiawarini, para Asisten serta pimpinan OPD Jembrana.

Penampilan apik keduanya sudah mulai terlihat sejak awal. Tahun ini duta Jembrana diwakili Sekaa Gong Kebyar Wanita “Istri Pradnya Paramesti” Desa Gumbrih Kecamatan Pekutatan. Masing-masing duta menampilkan 4 persembahan secara begiliran.

Pementasan pertama diawali Jembrana dengan menampilkan tabuh “Kebyar Dang”, merupakan sebuah perpaduan harmonis antara garapan instrumental dengan olah vokal. Tabuh yang diciptakan I Wayan Beratha pada tahun 1983 itu memiliki makna kehidupan berbangsa dan bernegara tentang kehidupan masyarakat yang sentosa, bahagia dan damai melalui melodi yang ceria dan lincah serta lirik lagu bertutur girang.

Pada penampilan berikutnya, duta Jembrana menampilkan “Tari Baris Tunggal” yang merupakan sebuah jenis tari menggambarkan perasaan seorang pahlawan sebelum pergi ke medan perang serta mengelu-elukan kejantanan dan menunjukkan kemantapan kepemimpinannya.

Selanjutnya, pada tabuh kreasi, Jembrana mempersembahkan tabuh kreasi “Kesir-Kesir”. Sesuai dengan tema PKB XLI, yaitu “Bayu Premana”, penata (I Nyoman Sutama) mencoba mempersepsikan sifat-sifat angin ke dalam elemen musik yang dituangkan ke dalam media gong kebyar, yang diwujudkan dengan karya gending kreasi.

Pada umumnya sifat angin ada positif dan negatif. Terinspirasi dari sifat angin tersebut, ia mencoba mengaplikasikan sifat angin yang menyejukkan seperti kesir-kesir. Menurutnya, intensitas, kontinyunitas dan kelembutan menjadi bagian penting dalam gending tersebut.

Sebagai pamungkas, Jembrana menampilkan Tari “Ngandap Kasor” yang berarti wilayah/daerah yang kalah. Tari tersebut merupakan garapan I Putu Agus Satyawan (penata tari) bersama I Gede Yoga Yasa (penata iringan).

Diceritakan daerah Jembrana Kangin adalah daerah hutan belantara, kemudian datang penduduk dari Munggu, Prerenan, Tabanan dan Mengwi untuk mencari tempat tinggal baru. Kehidupan masyarakat begitu harmonis, setelah berselang beberapa tahun masyarakat desa tersebut terkena penyakit “grubug” atau demam berdarah. Dengan adanya musibah tersebut masyarakat memutuskan kembali ke daerah masing-masing.

Setelah beberapa tahun, masyarakat ingin kembali ke daerah yang pernah mereka bangun dulu, dengan catatan mengusir wabah nyamuk dengan menggunakan alat tradisional pasepan dan prakpak. Kemudian wabah berhasil dimusnahkan dan atas keberhasilan itu terciptalah desa yang bernama Gumbrih (desa yang kalah). Berkat penampilan apik kedua duta (Jembrana dan Klungkung), sukses membuat kagum para penonton.(utu)