I Nengah Alit: “Desa Wisata Pilihan Logis Wujudkan Pariwisata Berkelanjutan di Jembrana”

I Nengah Alit

Sosok yang cukup giat untuk urusan pariwisata di Kabupaten Jembrana ini menjabat sebagai Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jembrana. Kinerjanya juga cukup agresif dalam upaya mengembangkan sektor kepariwisataan yang merupakan sektor unggulan sebagai penggerak perekonomian masyarakat Bali khususnya Jembrana.

Beberapa hal yang saat ini gencar dilakukan pria familiar ini adalah pariwisata berkelanjutan. “Untuk itu diperlukan upaya diversifikasi objek wisata dengan melibatkan peran serta masyarakat sesuai dengan potensi dan kearifan budaya lokal dengan tetap memperhatikan kelestarian budaya dan lingkungan setempat,” katanya kepada PERSPECTIVESNEWS.

Nengah Alit menegaskan, saat ini Pemerintah Daerah Kabupaten Jembrana menetapkan lima desa unggulan sebagai desa wisata yakni Desa Gumbrih, Pendem, Yeh Embang Kangin serta Desa Perancak yang juga terpilih mengikuti desa wisata award pada tahun 2017.

Selain keempat desa itu, sambung mantan Kadis Pendidikan, Kebudayaan Pemuda Olahraga dan Kepariwisataan ini, nantinya akan menyusul desa lainnya yang sudah ditetapkan sebagai desa wisata sebelumnya seperti Desa Ekasari, Blimbingsari, Sangkaragung, Batuagung serta Desa Wisata Delod Berawah.

Keseluruhan desa ini menurut Alit, dianggapnya memiliki karakteristik sendiri dengan tata ruang wilayah pedesaan yang asri, baik itu wisata alam, agro, eko wisata serta wisata budaya.

“Selain itu desa tersebut saya nilai memiliki kepedulian yang tinggi dalam melestarikan budaya lokal serta konsisten mengembangkn potensi wisata guna menopang kesejahteraan hidup,” tuturnya.

Ditambahkan, desa wisata dianggapnya sebagai pilihan yang logis dalam menopang industri pariwisata dengan fungsi gandanya. Fungsi yang pertama adalah memanfaatkan akomodasi di rumah penduduk (home stay) yang sudah memiliki kepedulian tentang sadar wisata.

Yang kedua juga bisa sebagai atraksi karena berada dalam atmosfer kehidupan masyarakat desa yang kaya dengan sentuhan budaya dan nuansa kekeluargaan yang belum tentu bisa ditemukan di daerah lainnya.

Bentuk keseriusan Pemkab Jembrana dalam mengembangkan desa wisata seperti apa?. Tentang hal ini Nengah Alit megatakan, keseriusan itu dengan jalan membentuk kelompok sadar wisata yang lebih dikenal dengan Pokdarwis di desa-desa tersebut. Kelompok ini secara kelembagaannya di tingkat masyarakat, keanggotaannya terdiri dari para pelaku kepariwisataan dengan fungsi dan tanggung jawab mendukung terciptanya iklim yang kondusif bagi tumbuh kembangnya kepariwisatan di daerah tersebut.

Selain itu, desa wisata juga dibentuk guna meningkatkan peran dan partisipasi masyarakat dalam membangun kepariwisataan serta memberikan nilai manfaat kepariwisataan bagi masyarakat anggota Pokdarwis.

Ke depannya, kata Alit, Pokdarwis ini akan difasilitasi di bawah Bumdes di desa masing-masing agar memiliki unit pariwisata yang bisa dikelola dan bisa menghasilkan pendapatan. Misalkan dengan merancang keberadaan pondok wisata atau yang lebih dikenal dengan home stay.

Program ini tentunya akan bersinergi dengan program pemerintah pusat di bawah Kementerian Pariwisata melalui program 20 000 home stay. “Home stay ini tidak harus berupa bangunan baru yang membutuhkan modal besar tapi bisa berupa rumah-rumah penduduk dengan sedikit modifikasi yang sudah ditentukan,” tutup I Nengah Alit.

Infrastruktur

Sebagai pendukung pariwisata kata dia, keberadaan infrastruktur seperti jalan dan fasilitas lainnya tentu tidak bisa dipisahkan begitu saja. Tanpa infrastruktur yang memadai, wisatawan akan malas berkunjung. “Sebagai imbasnya target kunjungan wisatawan pun sulit dicapai,” ujarnya.    (utu)