Halal Bi Halal BI dan Media, Kupas Inflasi, Peredaran Uang dan Upal

0
178
Halal bi halal KPwBI Provinsi Bali dengan media di Bali, Causa Iman Karana (kiri).

Denpasar, PERSPECTIVESNEWS – Mempererat silaturahmi di momen Idul Fitri 2019 digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Bali dengan media di Bali. Halal bi halal berlangsung, di Gedung BI Denpasar, Kamis (13/6/2019).  

Dalam kesempatan tersebut, KPwBI Provinsi Bali, Causa Iman Karana mengungkapkan, kegiatan halal bi halal ini rutin digelar setiap tahunnya. Melalui halal bi halal BI ingin mempererat silaturahmi dengan rekan media. Pertemuan itu juga mengupas perkembangan inflasi dan peredaran uang maupun uang palsu (upal) pada momen Idul Fitri 2019 di Bali.

“Inflasi Bali pada Mei 2019 yang bertepatan dengan bulan Ramadhan dan menjelang Idul Fitri 2019 tetap terkendali dan dibawah inflasi nasional,” ujarnya.

Inflasi Bali, lanjutnya, secara bulanan tercatat hanya sebesar 0,23 % lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang mencapai 0,28 %. Presentase ini juga jauh lebih rendah dibandingkan inflasi nasional di angka 0,68 %.

Melihat pola historis selama lima tahun terakhir, kecenderungan peningkatan harga pada momen perayaan Idul Fitri memang terjadi. Namun demikian, sejak terbentuknya Tim Pengendalian Inflasi Daerah di Bali Tahun 2015, inflasi pada periode Idul Fitri di Provinsi Bali relatif terkendali.

“Upaya pengendalian harga menjelang Ramadhan dan Idul Fitri melalui program 4K yaitu menjaga Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi serta Komunikasi Efektif,” imbuhnya.

Momen Idul Fitri juga berpengaruh pada tingginya kegiatan penukaran uang sehingga menuntut kerja sama dengan Bank-bank yang ada di Bali lebih giat dilakukan, untuk memfasilitasi masyarakat mendapatkan uang baru pecahan terkecil yang nantinya dibuat hadiah bagi keluarga masing-masing.

“Alhamdulillah meski mendapati antrian yang panjang, masyarakat di Bali masih antusias. Kesadaran yang sangat tinggi sekali, meskipun untuk mendapatkan uang baru, mereka rela dan bersabar menunggu. Hal ini juga sebagai antisipasi agar tidak ada kegiatan jual beli uang saat momen Idul Fitri,” tandasnya.  

Temukan Upal

Sementara itu, BI bali  juga menemukan sebanyak 1.497 lembar uang palsu (upal) dalam kurun waktu dari Januari – Mei 2019.

“Uang palsu yang ditemukan lebih banyak yang menyerupai uang pecahan dengan nominal Rp100.000,” jelas Pak Cik.

Meskipun di Bali masih ditemukan uang palsu, namun menurut dia, jumlah temuan dalam beberapa bulan terakhir telah menunjukkan tren penurunan.

Dia mengemukakan, pada Januari 2019 ditemukan sebanyak 421 lembar uang palsu, kemudian 300 lembar uang palsu ditemukan pada Februari, kemudian pada Maret 2019 sebanyak 312 lembar uang palsu.

Sementara itu pada bulan April ditemukan 254 lembar, dan pada Mei 2019 ditemukan 210 lembar uang palsu.

“Dari 1.497 lembar uang palsu tersebut, sebanyak 1.301 lembar uang palsu menyerupai pecahan Rp100.000, kemudian 193 lembar menyerupai pecahan Rp50.000 dan masing-masing satu lembar menyerupai pecahan Rp20.000, Rp10.000 dan Rp5.000,” ujarnya lagi.

Sementara itu, pada 2018 total penerimaan uang tidak asli atau palsu mencapai 3.808 lembar. Yang terbanyak ditemukan menyerupai uang pecahan Rp100.000 (3.169 lembar), pecahan Rp50.000 (601 lembar), pecahan 20.000 (20 lembar), pecahan Rp10.000 (9 lembar), pecahan Rp5.000 (8 lembar) dan menyerupai pecahan Rp5.000 ada satu lembar.

Meskipun bulan Mei 2019 itu momentum bulan Ramadhan atau menjelang Idul Fitri, peredaran uang palsu menurun dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.  (ari)