Sri Mulyani 1000 Persen Dukung Penguatan Desa Adat

0
214
Gubernur Wayan Koster dan Menkeu Sri Mulyani diapit sejumlah petinggi desa adat.

Denpasar, PERSPECTIVESNEWS – Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan mendukung upaya Gubernur Bali Wayan Koster memperkuat desa adat, dan mengupayakan alokasi anggaran APBN untuk lembaga tradisional tersebut.

“Kalau saya mendukung, bahkan mendukung 1000 persen untuk itu. Saya memahami dan mengingat pentingnya keberadaan desa adat terutama Bali dalam menjaga kelestarian budaya Bali, saya bersama Pak Gubernur untuk yang satu itu. Tinggal sekarang caranya bagaimana,” jelas Sri Mulyani di hadapan bendesa adat se-Bali dalam ‘Tatap Muka Menteri Keuangan Bersama Bendesa Adat se-Bali’ di Hotel Grand Bali Beach, Sanur, Kamis 13 Maret 2019.

Ia juga berharap banyak pada Bali, yang menjadi tujuan pariwisata global mampu mempertahankan eksistensi dan kelestarian adat dan budaya Bali.

“Dunia kini semakin makmur. RRT makin kaya, India makin kaya, punya penduduk lebih dari 1 miliar maka makin banyak pula kaum menengah ke atasnya yang akan berlibur dan Bali menjadi salah satu tujuan,” papar Sri Mulyani.

Dengan antusias Sri Mulyani mengajak Gubernur dan tokoh-tokoh Bali segera melakukan pembahasan lebih lanjut tentang cara serta landasan hukum untuk memungkinkan desa adat memperoleh kucuran dana langsung dari APBN. 

Sri Mulyani memaparkan sesuai UU tentang Desa, yang disebut desa dan mendapatkan alokasi adalah desa administratif yang diakui Kementrian Dalam Negeri, yang secara historis berbeda dengan desa adat. “Namun kita juga tidak menampik fakta adanya entitas sosial atau komunitas bersama yangbentuknya seperti desa adat ini, Yang fungsinya juga sangat penting diluar masalah administratif,” imbuh Sri.

Pertemuan dihadiri bendesa dan prajuru dari 1.493 desa pekraman seluruh Bali dan dinisiasi langsung Gubernur Bali Wayan Koster.

Sebelumnya, Gubernur Koster menguraikan pentingnya peran Desa Adat sebagai warisan dari leluhur dalam menjaga adat istiadat, tradisi dan budaya di Bali selama berabad-abad.

“Desa adat ini terbentuk dari proses sosiologis oleh masyarakat, jadi bukan dibentuk oleh negara tapi oleh masyarakat adat. Jadi sangat otonom dan terpelihara dengan baik. Bali tidak punya emas perak, batubara, tembaga atau gas, tapi Bali punya adat istiadat dan budaya yang kaya dan unik. Kalau diberdayakan secara ekonomi tidak akan habis-habisnya dan desa adat punya peranan paling penting untuk menjaganya,“ jelas Koster.

Gubernur juga menyampaikan agenda strategisnya dengan berbagai Pergub guna mendukung terpeliharanya kearifan lokal Bali. “Jika tidak mempertahankan kearifan lokal, saya kira ke depan kita akan rentan mengalami guncangan sosial di tengah kemajuan global,” kata Koster.(ari)