Tim Gabungan Sweeping LP Kerobokan Denpasar, Sita Beberapa Benda Terlarang

Barang-barang yang diamankan saat sweeping di LP Kelas IIA Denpasar

Denpasar, PERSPECTIVESNEWS  – Tim gabungan dari kepolisian dan Kemenkumham Bali melakukan sweeping ke Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Denpasar, Jumat malam 1 Maret 2019. Dalam sidaknya petugas menemukan beberapa HP dan sejumlah barang terlarang yang dibawa warga binaan.

“Tujuan kegiatan ini untuk mewujudkan situasi kondusif menjelang pelaksanaan Hari Raya Nyepi maupun Pileg dan Pilpres, termasuk di dalam Lapas,” kata Kadiv Pemasyarakatan Kanwil Kemenkumham Bali, Slamet Prihantara.

Pihaknya menemukan telepon genggam sebanyak 14 unit, satu unit TV, satu unit DVD, enam gunting, alat pertukangah (obeng, gergaji, palu) yang masing-masing delapan buah, power bank, dan lima buah bong (alat isap narkoba), dua buku tabungan, sehingga totalnya ada sembilan item yang disita.

Ia menjelaskan salah satu barang hasil penggeledahan petugas berupa alat isap narkoba (bong) itu ditemukan di Wisma GWK dan Taman Ayun yang penghuninya merupakan terpidana kasus narkoba, karena itu temuan ini akan dilakukan penyelidikan dan analisa lebih lanjut.

Jika oknum petugas Lapas terlibat dalam membantu memasukkan barang terlarang ini, atau pun dilakukan oleh warga binaan, pihaknya akan menindak tegas dan tidak memberi ampun. “Kami sudah bertekad untuk perang melawan narkoba,” ujarnya.

Secara umum seluruh upaya penggeledahan ini dilakukan di semua wisma yang ada di LP Kerobokan, dengan total sebanyal 122 kamar dari 15 blok hunian. “Di luar blok juga dilakukan penggeledahan yakni di dapur dan wisma rehabilitasi,” ujar pria yang disapa Toro ini.

Langkah-langkah yang akan dilaksanakan dengan temuan ini, adalah meneliti lebih lanjut siapa oknum yang membantu memasukkan barang terlarang ini, jika ada terindikasi petugas LP Kerobokan terlibat, maka akan ditindak tegas.

“Ini jadi catatan Kalapas. Saya meminta bantuan kepolisian untuk menganalisa ini agar tidak ada dusta diantara kita. Ini bukti keterbukaan kita di Lapas, kami juga memohon dukungan dari seluruh unsur aparat keamanan dan aparat penegak hukum,” ujarnya.

Ia mengakui Lapas Kerobokan sudah “over load”, dimana kapasitas penghuni seharusnya 332 orang, namun saat ini mencapai 1.635 penghuni. “Kami siap untuk mewujudkan lapas yang bebas dari wilayah korupsi (WBK), artinya sesuai amanat pimpinan Lapas harus memberikan pelayanan kepada masyarakat secara maksimal,” katanya.(ari)