Sugiarto, Boss Tripanca Grup yang Nilep Uang Negara Rp 108 Miliar Ditangkap di Bali

Sugiarto Wiharjo (FOTO: Perspectivesnews/ist)

Denpasar, PERSPECTIVESNEWS – Pelarian boss Tripanca Grup Sugiarto Wiharjo alias Alay selama 4 tahun berakhir Rabu 6 Februari 2019 setelah ia ditangkap oleh tim dari Kejaksaan Tinggi Bali di Hotel Novotel, Tanjung Benoa, Kabupaten Badung, Bali.

Terpidana 18 tahun karena menilep dana APBD Lampung Timur dan Lampung Tengah senilai Rp 108 miliar ini ditangkap tanpa perlawanan di ruang makan hotel tersebut. Selanjutnya Sugiarto digelandang ke Kantor Kejati Bali, men‎aiki mobil minibus hitam nomor polisi N 1396 WD. 

“Kami, Kejati Bali telah mengamanan DPO atas nama terpidana Sugiarto Wiharjo alias Alay. Kami mendapat informasi bahwa terpidana sedang berada di Bali,” kata Kasi Penkum dan Humas Kejati Bali, Edwin Beslar.

Sesampainya di Kejati Bali, Sugiarto langsung diperiksa tim medis dari RS Bali Mandara. Dari hasil pemeriksaan, kesehatan Sugiarto normal. Selanjutnya terpidana ditahan sementara sambil menunggu jemputan dari Kejati Lampung.

Dijelaskan Edwin, Sugiarto sejatinya hendak melanjutkan perjalanan ke Lombok, Nusa Tenggara Barat. Dia di Bali hanya singgah. Menariknya, Sugiarto melakukan perjalanan darat ‎dari Jember, Jawa Timur. Kemungkinan perjalanan melalui jalur darat ini untuk menghindari intaian intelijen. 

Lebih lanjut dijelaskan Edwin, ‎Mahkamah Agung (MA) menjatuhkan vonis hukuman 18 tahun penjara kepada Sugiarto. Sebelumnya ia dijatuhi hukuman lima tahun penjara oleh Pengadilan Negeri (PN) Tipikor Tanjungkarang, lalu banding ke Pengadilan Tinggi Lampung.

Pengadilan Tinggi Lampung  dalam putusannya justru menguatkan putusan PN, sedangkan jaksa penuntut umum mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung (MA). 

Di tingkat kasasi,  Sugiarto divonis 18 tahun penjara dan wajib membayar uang kerugian negara sebesar Rp 106.861.800.000. Dengan vonis itu, Sugiarto harus kembali mendekam dalam penjara. Namun, upaya untuk mengeksekusi agar masuk ke penjara, bukan perkara mudah. Sebab, seperti mantan Bupati Lampung Timur Satono yang terjerat kasus korupsi APBD Lampung Timur 2008-2009, keberadaan Sugiarto juga sulit terlacak.

Satono kabur beberapa saat setelah vonis dijatuhkan. Sugiarto sendiri pernah kabur pada saat dia ditetapkan sebagai tersangka menyusul kolapsnya bank miliknya. Bersamaan dengan bangkrutnya Bank Tripanca milik terpidana dan diambil alih oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Ratusan miliar rupiah uang nasabah termasuk uang APBD Kabupaten Lampung Timur dan Lampung Tengah yang didepositokan di Bank Tripanca tidak bisa ditarik.

LPS tidak bisa mengganti uang APBD Lampung Timur dan Lampung Tengah, karena ternyata uang APBD itu disimpan dengan cara di bawah tangan (under table), tanpa melalui pembukuan perbankan yang semestinya. 

“Secara singkat kasusnya membobol bank sendiri selaku pemilik kerja sama dengan jajaran direksi lain dan mereka  ajukan kredit fiktif dan uang ditransfer ke rekening pribadinya, ” kata Edwin.(yus)