FPTI Bali Gelar Rakerprov, Pengurus Tak Aktif Direshuffle

Ketua Umum FPTI Bali Putu Yudi Atmika bersama peserta rakerprov. (FOTO: Perspectivesnews/ist)

Denpasar, PERSPECTIVESNES – Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Bali menggelar Rapat Kerja Provinsi (Rakerprov), yang dihadiri seluruh pengurus baik FPTI Bali maupun FPTI Kabupaten dan Kota seluruh Bali. Salah satu poin penting yang dihasilkan, adalah mengganti personel yang tidak aktif di kepengurusan.

Ketua Umum FPTI Bali Putu Yudi Atmika tak menampik terkait adanya beberapa personel yang tidak bisa aktif lantaran kesibukannya. Dan, dirinya diberi kewenangan untuk melakukan reshuffle kepada mereka yang tidak aktif itu.

“Selain melakukan reshuflle pengurus masa bakti 2017-2021, rakerprov juga memberi mandate kepada saya agar mempersiapkan pelaksanaan Pekan Olahraga Pelajar (Porjar) Provinsi Bali maupun Porprov Bali tahun 2019,” ucap Yudi Atmika Senin (4/2/2019).

Begitu pula dengan kejuaran provinsi panjat tebing, maupun kejuaraan Bali open, kata Yudi Atmika, peserta rakerprov sepakat bakal digelar tahun ini. Dan, karena tahun ini memasuki pelaksanaan Pra-PON, maka FPTI Bali diminta membentuk pelatprov jangka panjang.

“Pelatprov jangka panjang itu tujuannya untuk membuat para atlet panjat tebing terbaik Bali benar-benar siap dalam menghadapi event nasional seperti Pra-PON untuk senior, dan ada kejuaraan nasional (kejurnas) junior dan Kelompok Umur (KU),” katanya.

Terkait penghuni pelatprov panjat tebing, pria yang juga Wakil Sekretaris I KONI Bali itu memaparkan, saat ini sudah ada 16 atlet senior penghuni pelatprov dan hanya tinggal melihat perkembangan kualitas atlet junior saja.

“Jadi sekarang ini karena sifatnya masih pelatprov desentralisasi, maka latihan dilakukan di daerah. Namun setidaknya dalam seminggu para atlet senior dan junior dipanggil latihan bersama. Namun harinya dicari sekitar Jumat sampai Minggu, atau waktu yang tidak mengganggu aktivitas akademis mereka atau pekerjaannya,” tambah Yudi Atmika.

Nantinya, setelah sentralisasi, maka para atlet itu semua dipanggil yang terbaik untuk latihan rutin dengan melakukan simulasi. Khusus untuk para atlet senior, setiap simulasi bakal dipantau dan diakumulasi performa terbaiknya.

“Hasil penilaian simulasi secara akumulasi tersebut bakal ditentukan atlet yang terbaik dan yang paling siap untuk diturunkan di ajang Pra-PON. Ini dilakukan di tengah belum adanya event seperti sekarang ini,” demikian Yudi Atmika.(git)